Lagu Cinta


night butterfyada yg benci dirinya (sokosokosoookk…*bunyi panci di gosok*)
ada yg butuh dirinya (sokosokosoookk…)
ada yg berlutut mencintanya (sokosokosoookk…)
ada pula yg kejam menyiksa dirinya (sokosokosoookk…)

ini hidup wanita si kupu-kupu malam
bekerja bertaruh seluruh jiwa raga
bibir senyum kata halus merayu memanja
kepada setiap mereka yg datang….

“Dik,”

Panggilan Aa memenggal acara nyanyiku yang sedang seru-serunya. Menyanyi sambil menggosok panci, memang menyenangkan. Kali ini aku menyanyi penuh penghayatan, bila ada tetangga yang mendengar, niscaya mereka akan berhenti dan mengambil sikap “mengheningkan cipta”. Tapi, mengapa Aa menyela dengan panggilannya? Bukannya dia juga harusnya mendengarkan penuh takzim?

(lagi…)

african-american-girl ~BLD047426“Dik, Aa pengen indomi kuah. Ada nggak?” ujar Aa sesaat setelah mematikan mesin mobil.

“Kayanya nggak ada deh A…,” Jawabku sambil lalu, mengangkat tas kerja dan tas bekal makan siangnya. Agak kesel juga, karena tadi saat dalam perjalanan menuju rumah aku sudah menanyakan pada Aa, apa dia menginginkan sesuatu untuk makan malam, katanya tidak. Eh, sekarang malah pengen ini itu. Aku males harus berjalan menuju warung di ujung komplek.

“Adanya mie goreng. Mie goreng aja ya A. Adik males keluar lagi” ujarku memberikan alternatif lain.

Entah eblis apa yang tiba-tiba mampir di kepala Aa. Ia langsung menggerutu, nyolot nggak karuan.

Aku maunya indomi kuah! Mau yang seger. Gimana sih? Kalau nggak ada ya nggak usah. Nggak usah maksa indomi goreng”

Jgeeeer!!!

Kesambet apa sih nih orang! Nyebelin banget.

“Ih, nggak usah marah-marah gitu dong!” balasku nggak kalah nyolot, eblisnya sekarang nyambet kepalaku. Aku berlalu, menghentakkan kaki. Di mana-mana orang minta itu dengan sikap yang manis. Lembut dikit kek. Emang aku penjaga warung indomi apa?

(lagi…)

singing kidsMalam.

“Bingung…bingung…ku memikirkan” Aa menurukan gaya seorang peserta audisi Idola Cilik di sebuah stasiun televisi swasta. Aku yang sedang asik di depan laptop nyengir geli melihat gaya Aa.

Karena iklan itu muncul di antara tayangan sinetron yang diikuti—bukan di tonton, tapi didengarkan Aa, maka begitu sinetronnya mulai, Aa kembali anteng dengan komputernya.

Tiba-tiba Aa nyeletuk.

“Dik, kamu ikutan audisi aja”

“Heeeh?? Audisi apaan?” aku memutar kepala, memandang aa dengan kening berkerut.

“Audisinya lewat kaset saja” lanjut Aa, tanpa memperdulikan pertanyaanku. Bahkan ia tidak memalingkan pandangan dari layar monitor, sambil sesekali menghisap rokoknya.

“Audisi? Kaset? Maksud Aa apaan sih?”

(lagi…)

monarch-butterfly-beginning ~15304-04FLPersahabatan bagai kepompong

Mengubah ulat menjadi kupu-kupu
Persahabatan bagai kepompong
Hal yang tak mudah berubah jadi indah
Persahabatan bagai kepompong
Maklumi teman hadapi perbedaan
Persahabatan bagai kepompong
na…na…na…na…na…na…

“Aa…ada lagu lucu nih” seruku pada aa sambil menggeser bar winamp, menaikkan skala volumenya.

Kulirik Aa, ia menautkan alis berusaha konsentrasi mendengarkan.

Lirik awalnya sih ngga begitu bagus menurutku. Nggak ngena. Tapi reffainnya nendang banget. Aku bersiap-siap bangkit.

Persahabatan bagai kepompong

Aku mulai menggerakkan tubuhku, membuat suatu gerakan sederhana serupa tarian anak TK. Diawali dengan mengangkat tangan kanan ke atas, lalu diikuti dengan tangan kiri saat mengucapkan kata persabatan, lalu meliukkan tubuh. Kemudian aku membayangkan diriku sebagai ulat yang menggeliat di dalam kepompong. Kuturunkan tanganku dan mendekapkan ke tubuh.

(lagi…)

Setiap Habis Ramadhan

by Bimbo

palm-tree-moon ~u26285186

Setiap habis Ramadhan
Hamba rindu lagi Ramadhan
Saat – saat padat beribadah
Tak terhingga nilai mahalnya

Setiap habis Ramadhan
Hamba cemas kalau tak sampai
Umur hamba di tahun depan
Berilah hamba kesempatan

Setiap habis Ramadhan
Rindu hamba tak pernah menghilang
Mohon tambah umur setahun lagi
Berilah hamba kesempatan

Reff:
Alangkah nikmat ibadah bulan Ramadhan
Sekeluarga, sekampung, senegara
Kaum muslimin dan muslimat se dunia
Seluruhnya kumpul dipersatukan
Dalam memohon ridho-Nya

***

Lagu inilah yang mewakili perasaanku, saat takbir itu mulai berkumandang.

Satu sisi, ada rasa bahagia membuncah, akan keriangan hari raya, akan janji-janjiNya di hari kemenangan. Tapi di sisi lain, gambaran indah ramadhan itu lekat di batok kepala.

(lagi…)

troubled-young-woman ~1804971Malam baru saja melepaskan pelukannya pada bumi. Suara dzikir yang tadi riuh rendah dari masjid di ujung komplek mulai hening. Para pengunjung rumah Tuhan satu demi satu pulang, ada yang bergegas ke kamar meneruskan kembali tidur yang terjeda oleh sahur, ada pula yang bergegas bersiap menyongsong aktifitas pagi. Seperti aku.

Sahur telah selesai, tapi urusan dapur masih berlanjut untuk menyiapkan bekal makan siang Aa. Aku beharap Aa tidak repot dan bingung memikirkan urusan makan siang, ia tentu akan sangat sungkan menyuruh OB yang sedang puasa untuk membelikan makan siangnya.

Udara dingin berembus dari jendela yang kubuka lebar-lebar, membawa hening dan terang yang sebentar lagi turun. Untuk melawan sepi, kuraih HP dan menyalakan MP3 player-nya.

Lagu mulai mengalun, menemaniku mengeluarkan bahan makanan dari kulkas. Sekali lagi hawa dingin membelai pori-poriku.

Nyaman dan hening.

(lagi…)

piano-keys ~1795196Saat tengah menonton tayangan infotaintment perihal rencana pernikahan Lembu dan Mas Ayu Anastasia, lantunan lagi Dik mengalun sebagai intronya. Aku teringat satu hal, kegapai remot dan cepat memencet tombol mute.

“Aa, dengerin ya, ini ada lagu yang Aa banget“. kataku sambil mengklik Winamp, membesarkan volume speaker laptopku dan mengarahkan browser melakukan pencarian lirik lagu Dik.

Petikan gitaris mulai mengalun.

“Lagu apa tuh, dik?” tanya Aa.

“Judulnya Dik , saat pertama kali mendengar lagu ini, ning udah menasbihkan ini lagu Aa yang dinyanyikan buat adik he he he” jawabku penuh gaya bangga. “Sebenernya udah lama mau ngasi tau Aa soal lagu ini tapi kelupaan terus”, lanjutku.

“Eh, eh…. bentar, ulangi ya, kok adik nyerocos terus ya? kan mau dengerin lagu hi hi hi”

Aa nyengir sembari geleng-geleng kepala melihat tingkahku.

(lagi…)

Cinta Putih
by:Katon Bagaskara

Mari kita jaga sebentuk cinta putih yang telah terbina
Sepenuhnya terjalin pengertian antara engkau dan aku
Masihlah panjang jalan hidup mesti ditempuh
S’moga tak lekang oleh waktu

FC-8817

“Mengapa perlu di jaga?” tanyamu padaku. “Bukankah cinta ini hanya milik kita, siapa yang mau mencurinya, toh setiap orang memiliki cinta sendiri”.

Aku tersenyum menatap dalam matamu, sampai menyentuh dasar hati. Di sana kucari di manakah engkau menyimpan cintamu. Di dalam brangkas dengan sepuluh angka kombisasi kah? atau engkau letakkan di atas meja di sudut bilik hatimu, seperti sebagaimana biasa engkau meletakkan jam tangan dan kacamatamu.

Kubelai lembut pipimu, kukecup pelan. “Sayang, cinta kita bisa dirampas oleh amarah yang mendobrak pintu rumah kita di saat kita lengah. Cinta kita bisa direnggut kasar oleh rasa benci yang sentakannya tak menyisakan sekedip mata untuk tersadar tentang apa yang terjadi. Atau mungkin Cinta kita dipreteli oleh gairah sesaat berkedok pesona yang membuai mata dan rasa. Hingga tak berasa apa-apa. Hanya hampa. Tinggal ranggas tanpa kepastian apakah hati masih bisa menumbuhkan tunas.”

(lagi…)

Agape by Larien ArFeinielKemarin malam, saat aku dan aa dipeluk santai menikmati waktu, ia asik dengan PC-nya dan aku asik browsing di depan laptop. TV menyala dengan volume suara yang rendah, tidak untuk di tonton, hanya agar tak terlalu hening tapi juga tidak terlalu berisik.

Tapi alunan lagu Munajat Cinta yang menjadi sountrack sinetron yang entah apa judulnya, menarik aku dan aa dari keasikan sendiri. Dengan suaranya yang lembut (dan amat tidak nge-rock), Aa terbawa ikut menyanyikan lagu ini.

…Tuhan kirimkanlah aku
Kekasih yang baik hati
Yang mencintai aku
Apa adanya…

Penuh perasaan. Penuh penghayatan.

(lagi…)

“Dik, lagu Pudar kemarin ditujukan buat siapa tuh?” tanya Aa dengan pandangan yang tidak beralih dari layar komputer.

“Apanya yang pudar A’?” Aku bingung dengan pertanyaannya yang tiba-tiba. Pertanyaan tak berpangkal.

“Itu lho, yang kemarin adik nyanyiin saat kita karaokean” jawab aa mengingatkan. Oh, iya. Aku ingat sekarang. Kemarin malam memang aku, Aa dan beberapa teman menghibur diri di sebuah tempat karaoke.

Setiba di sana, tanpa mikir panjang memang kupilih lagu “Pudar” sebagai tembang pembuka, alasan utamanya karena musiknya yang seru dan menghentak semua otot untuk ikut bergoyang. Aku tidak menyadari, diam-diam aa memikirkan lagu ini.

Kurasakan pudar dalam hatiku
Rasa cinta yang ada untuk dirimu
Ku lelah dan yang semua yang ada
Ingin ku lepas semua

(lagi…)

Halaman Berikutnya »