ada yg benci dirinya (sokosokosoookk…*bunyi panci di gosok*)
ada yg butuh dirinya (sokosokosoookk…)
ada yg berlutut mencintanya (sokosokosoookk…)
ada pula yg kejam menyiksa dirinya (sokosokosoookk…)
ini hidup wanita si kupu-kupu malam
bekerja bertaruh seluruh jiwa raga
bibir senyum kata halus merayu memanja
kepada setiap mereka yg datang….
“Dik,”
Panggilan Aa memenggal acara nyanyiku yang sedang seru-serunya. Menyanyi sambil menggosok panci, memang menyenangkan. Kali ini aku menyanyi penuh penghayatan, bila ada tetangga yang mendengar, niscaya mereka akan berhenti dan mengambil sikap “mengheningkan cipta”. Tapi, mengapa Aa menyela dengan panggilannya? Bukannya dia juga harusnya mendengarkan penuh takzim?
“Dik, Aa pengen indomi kuah. Ada nggak?” ujar Aa sesaat setelah mematikan mesin mobil.
Malam.
Persahabatan bagai kepompong
Malam baru saja melepaskan pelukannya pada bumi. Suara dzikir yang tadi riuh rendah dari masjid di ujung komplek mulai hening. Para pengunjung rumah Tuhan satu demi satu pulang, ada yang bergegas ke kamar meneruskan kembali tidur yang terjeda oleh sahur, ada pula yang bergegas bersiap menyongsong aktifitas pagi. Seperti aku.
Saat tengah menonton tayangan infotaintment perihal rencana pernikahan Lembu dan Mas Ayu Anastasia, lantunan lagi Dik mengalun sebagai intronya. Aku teringat satu hal, kegapai remot dan cepat memencet tombol mute.
Kemarin malam, saat aku dan aa dipeluk santai menikmati waktu, ia asik dengan PC-nya dan aku asik browsing di depan laptop. TV menyala dengan volume suara yang rendah, tidak untuk di tonton, hanya agar tak terlalu hening tapi juga tidak terlalu berisik.