dream on by OrzzMalam ini aa pulang dengan wajah dan tubuh bagai tanaman yang tidak tersentuh air selama seminggu.

Cepat-cepat kusambut tas kerja dan paper bag yang berisi kotak makan yang kusiapkan tadi pagi.

“Capek banget, dik,” bisiknya lemah.

Aku aku mengangguk dan tersenyum berempati. Tanpa banyak bicara, aku meraih bahu Aa dan langsung membuka satu demi satu kancing bajunya dengan mata yang tidak lepas dari wajahnya.

Aa menarik napas lega begitu tubuhnya terlepas dari pakaian formil yang membungkusnya seharian dan berganti dengan kaos longgar.

“Mau dipijitin, say?” aku menawarkan.

Aa memejamkan matanya, tampak berat sekali untuk membiarkan mata itu terbuka. Mungkin bukan mengantuk, bisa jadi ingin mengenyahkan banyangan beban pekerjaan yang dihadapi.

Aku berharap Aa menerima tawaranku. Aku selalu percaya, sentuhan dan pijatan penuh kasih mampu menjadi obat penawar segala masalah.

“Nggak, dik,” jawab aa mengejutkanku. Tidak biasanya ia menolak untuk dipijat. “Eh, nanti aja ya” ralatnya cepat. “Aa pengen makan dulu.”

“Oke, kalau gitu mau adik kupasin mangga?”

“Mau”

***

Aa menghempaskan tubuhnya bersandar menghisap rokoknya dengan nikmat. Sambil menceritakan urusan kantor dan pimpinan yang membuat ia merasa tertekan. Aku duduk di hadapannya, menjadi pendengar yang baik. Tapi aku merasa belum semua mampu ia ungkapkan, masih ada hal-hal yang mengganjal.

“Boleh kupeluk?” tanyaku.

Diluar dugaanku Aa menggeleng lemah. “Jangan dulu, dik”

Kuusap pahanya mengalirkan pengertian. Tangan aa menahan tanganku, sambil menggeleng menunjukkan penolakan, tubuhnya mungkin juga terasa tidak enak.

Aku kini mengerti. Aa butuh ketenangan. Ia butuh ruang. Sendiri.

Setelah menambah air putih di gelasnya, aku mundur kembali ke meja. Meneruskan berkutat di depan laptop yang sebelumnya tersela karena menyambut aa pulang kerja.

Beberapa lama kemudian aa beranjak, naik ke atas bed. Tanpa berkata apa-apa. Mungkin ini saatnya menawarkan kembali.

“Ning pijit ya A”

“Iya, mau. Tapi kakinya aja”

Aku melonjak semangat. Menyambar minyak kayu putih di kotak obat dan melompat ke atas bed, duduk di sisi aa lalu mulai memijat kaki Aa.

Mulai dari dengkul, turun ke sisi luar tulang kering. Memberikan tekanan dan pijatan melingkar. Aa mulai melenguh, menikmati sensasi nyaman. Aku tahu sekali, aa sangat menyukai pijatan di kaki. Tidak lama ia mulai menguap dan mengantuk.

Tekananku beralih pada sisi tumit tepat dibawah mata kaki. Tidak berlama-lama di sana lalu pindah ke telapak kaki, sebagai titik puncak kenikmatan pijatan kaki.

Aa sudah berhenti menguap, berganti deru napas yang teratur pertanda telah melayang berganti dimensi. Terimakasih Tuhan, pijatanku berhasil menerbangkan aa ke tempat di mana tidak ada satu orang pun dan tidak ada satupun hal yang mampu menekannya.

Aku menunduk, mengecup punggung tangannya yang diletakkan di atas perut. Napasnya semakin menderu. Semakin lelap. Semakin jauh terbang ke alam mimpi.

Karena merasa tugasku sudah selesai, aku merangkak turun dari bed pelan-pelan, agar tidak sampai mengganggu Aa. Aku mengambil remote tv, mengikuti sidang komisi III DPR-RI dengan Kapolri yang tengah berlangsung seru.

***

Entah berapa lama aa tidur dengan nyenak, sementara aku asik mengikuti jalannya sidang. Sebenarnya kurang seru, sih. Nggak ada teman ngobrol. Nggak tau mau numpahin ocehan pada siapa, sementara aku sudah geregetan ingin mencela anggota DPR yang ngomongnya pake ngotot dan mengabaikan arahan pimpinan. Meskipun mereka penyambung lidah rakyat tapi yang jelas tampak hari ini adalah suara pribadi yang egosentris, ingin didengar tapi tak ingin mendengar.

Tiba-tiba Aa terbangun, menggerakkan seluruh badannya. Aku terus memperhatikan Aa dan kaget mendengar ucapan yang keluar dari mulutnya, entah mengigau atau tidak.

“Dik, Kaki satunya belum dipijit…”

Ha ha ha haaa… Gubrakss deh!