The Tree by fudexdesignAku dan Aa sedang asik dengan kesenangan masing-masing, Aa menonton TV dan aku menjelajahi blog yang belakangan semakin jarang aku sentuh.

Tiba-tiba keasikan kami pecah oleh lengkingan ringtone yang mengalun dari HP Aa. Aa mengangkat HP-nya dari atas meja, biasanya Aa langsung menekan tombol untuk menerima panggilan, tapi kali ini aa membiarkan dering itu terus mengalun setelah mengecek nama penelepon. Malah meletakkan kembali HP di atas meja. Kok aneh.

“Siapa A?” tanyaku, sambil berusaha untuk mencari tau siapa gerangan si penelepon yang diabaikan tersebut.

“Nggak usah diangkat, dik” larang Aa.

“Boleh adik lihat?” Tanyaku melirik Hpnya. Aa mengangguk.
1 Panggilan tak terjawab: Eli

Aku berusaha keras mengingat-ingat nama itu, tapi tidak menemukan informasi yang cukup. Siapa ya?. Tapi Aa juga sepertinya tidak ingin ngobrol tentang telepon itu. Hingga akhirnya kami kembali pada keasikan semula.

Tiba-tiba ada bunyi SMS. Tebakanku kemungkinan besar sms dari si pelenelopn barusan. Melihat gelagat Aa yang tampaknya akan mengabaikan SMS tersebut, aku langsung menawarkan diri. “A, boleh adik baca sms-nya ya?”

Aa mengangguk, “Buka aja dik.”

Aku setengah melompat menyambar HP aa, saking penasarannya. Kecemasan

Halo sayang apakabarmu. Masih sendiri sayang?

Aku menelan ludah, melirik ekspresi Aa saat kubacakan sms tersebut dengan suara keras. “Nggak usah di balas, dik.”

Beberapa detik setelah aku meletakkan kembali HP Aa di atas meja, sms kembali masuk. Karena sudah mendapat ijin dari Aa sebelumnya, aku langsung membuka sms tersebut.

Sayang kalau aku ke jakarta kita bisa ketemu sayang?

Kali ini aku cekikikan. Lucu aja. Usah nulis sayang-sayang sampai dower begitu, eh dikacangin. Aa masih tetap pasang tampang cuek dan nggak peduli.

“Palingan dia lagi mabok tuh dik. Biarin aja.”

“Dia siapa sih A?” akhirnya aku tidak tahan menyimpan pertanyaan ini.

“Dia sepupunya Mbak Tri, sahabatnya Mbak Kin.” jawab Aa, singkat.

Ow… Mbak Tri, aku kenal. Mbak Kin apalagi ;) tapi yang namanya tertera no layar HP aku kok belum tau ya, biasanya sih Aa cerita. Apa mungkin aku yang lupa? Tapi sekuat apapun aku mengingat-ingat, semuanya masih terasa abu-abu. Siapa orang ini? Ada apa dengan dia? Mengapa dia tiba-tiba mengirimkan sms seperti ini. Mungkinkah benar seperti yang Aa bilang, dia sedang mabok?

Sampai akhirnya aa mengajakku naik ke tempat tidur aku tidak mendapatkan cerita apa-apa.

Hingga keesokan malamnya.

“Ingat nggak dik, kayanya sih dulu Aa pernah cerita kok tentang Eli itu.”

“Nggak tuh a, tapi nggak tau deh apa adik lupa atau gimana.”

“Lupa juga nggak papa. Nggak penting ini.”

Aku berpikir bagaimana caranya memancing aa agar menceritakan kembali. Aku sampai merasa perlu ngubek-ubek arsip tulisan, mencari nama Eli. Tidak mungkin rasanya oknum se(nggak)penting ini lolos dari tulisanku, andai aa memang pernah menceritakannya.

“A, emang dia suka mabok ya?” pancingku.

“Oh..iya dik. Maboknya sih mabok bir”

“Oooh. Kok Aa bisa tau?”

“Dulu pernah dia itu pelarian Aa.” Keningku berkerut, tidak mengerti dengan maksud ucapan Aa.

“Pelarian gimana A?” Aku menggeser posisi duduk. Tampaknya mulai serius nih.

“Dulu, waktu itu mbak Kin lagi di Jakarta, tapi ada saja alasannya untuk menolak Aa ajak jalan. Kebetulan mbak Kin datang satu rombongan dengan Eli yang juga sepupu mba Tri.

Jadi malam itu, udah hampir tengah malam, saat aa mau pulang dia nyegat Aa. Dia nanya, pulangnya kemana. Aa bilang mau ke daerah anu. Trus dia bilang kalau begitu aku ikut sampai ke depan aja, mau beli minuman.

Sampai di depan toko bukannya turun, dia malah nanya, kamu mau ngak ngajak aku jalan-jalan muter-muter Jakarta. Kebetulan, lagi bete. Aa terima tawarannya. Jadilah malam itu kami mutar-mutar sampai lewat tengah malam. Karena sudah kemalaman dan nggak enak kalau pulang ke rumah mba Tri, akhirnya Aa nawarin dia untuk tidur di rumah karena ada kamar kosong. Sebelum pulang dia minta dibeliin bir katanya supaya bisa tidur. Aa beliin tuh lima kaleng.

Sampai di rumah dia mulai minum sambil ngoceh.

“Aa ngga minum? Nggak ikutan mabok?” aku menyela ceritanya.

“Cuma minum sedikit.

“Trus dia ngoceh apaan?”

“Dia cerita tentang keluarganya yang berantakan, ya tentang pekerjaannya.”

“Emang kerjanya apa?”

“PNS.”

Aku mengangguk. “Terus?”

“Setelah capek ngoceh dan udah mabok, dia langsung tidur sampai siang. Siangnya setelah bangun, aa suruh dia pulang sendiri. Aa panggilin taksi. Itu yang pertama dan terakhir aa ketemu dia, sampai sekarang.”

“Dia tau no HP Aa dari mana?”

“No HP? Itu mah gampang. Hampir semua keluarga mbak Tri dan mbak Kin tau no HP Aa. Setelah pulang dia pernah telepon, sms juga tapi ya cuma begitu-begitu aja. Beberapa kali pernah juga ngobrol lewat telepon, tapi udah lama banget. Kalau obrolannya ngaco paling dia lagi mabok. Tapi namanya nggak punya temen waktu itu, ya dijabanin aja.”

Aku mengangguk-angguk, sambil merapatkan tubuhku ke sisi Aa.

Tidak ada alasan untuk tidak mempercayai cerita aa. Cerita-cerita masa lalu bersliweran diantara kisah perjalanan kami, dan mungkin akan terus muncul sewaktu-waktu di masa yang akan datang.

Kaget dan penasaran jelas iya. Karena cerita-cerita itu muncul satu-persatu, muncul tak terduga. Kadang mencengangkan. Tapi aku rasa, itu selingan yang membuat kisah hidup kami tidak sedatar jalan tol, ada tikungan-tikungan yang harus kami waspadai agar tidak tergelincir.

Aku menyandarkan kepalaku ke bahu Aa. Semuanya sudah jelas. Kelihatan sekali Aa tidak begitu nyaman kembali mengingat-ingatnya.

“Eh iya, Aa pernah mabok nggak?” Tanyaku dengan nada bercanda. Mencoba mengajak Aa mengalihkan topik pembicaraan.

“Minum pernah. Tapi mabok, nggak pernah.”

“Kenapa?”

“Aa nggak suka bila kehilangan kontrol diri, nggak suka kehilangan kesadaran.”

“Aa…,”

“Hmm?”

“Apa sih rasanya bir?”

“Ha ha ha ha… jangan ngaco ah. Jangan macam-macam ya. Sana, minum pulpy (Minute Maid Pulpy Orange) aja!”

Aku tertawa, menghindari tangan Aa yang hendak mengacak-acak rambutku.

Satu demi satu kecemasan gugur seperti dedaunan tua dimakan usia. Dan tunas harapan menggantikannya, bertumbuh besar seperti cinta yang teduh menanungi kami.