Kemarin aku menata ulang file-file yang ada di laptop. Beberapa foto-foto jaman baheula yang tersimpan di CD kupindahkan ke komputer.
Iseng-iseng, aku membuka sebuah folder yang isinya foto-foto jadul. Sebenernya nggak jadul-jadul amat, ya sekitar 5 tahun yang lalu, tapi melihat deretan foto tersebut sontak membuat tawaku meledak.
Ha ha ha…. Ya ampunn…!
Aku menatap foto Aa. Potongan rambutnya kok mirip-mirip anggota The Cangcuters ya? Ha ha ha. Rambut lurus dipotong bulat mengikuti wajahnya yang bundar. Tubuhnya dibalut kaos oblong dengan bawahan celana kargo. Sandal Carvil yang yang dibakainya tebal dan nggak ada model sama sekali!
Aa dan apa yang dia kenakan dari ujung rambut sampai ujung kaki hampir nggak ada yang menarik sama-sekali. Dia bukan orang yang akan aku lirik saat berpapasan di tengah jalan. Bukan juga orang yang akan membuatku curi-curi pandang menatapnya dari kejauhan. Astagaa… Aku pasti lagi sakit mata waktu itu! Pasti lagi belek’an! kok bisa-bisanya suka sama Aa, eh nggak sekedar suka, jatuh cinta pula! Sekrup otakku pasti lagi nggak beres!
Setelah puas memandangi poto Aa (dan mencibirinya dalam hati), pandanganku tertumbuk pada foto seorang perempuan.
Aih, ini lebih mengerikan. Kenapa juga foto “wajah-wajah eksotis” ini ada di dalam folder Aa ya?!
Perempuan itu mengenakan atasan berwarna biru langit dengan aksen bordiran bunga di ujung bawah kemejanya. Bawahannya celana kulot hitam, dan selop karet tak bermerek. Padanan pakaian yang akan mendapat kutukan dari para pengamat fashion!
Tubuhnya cungkring, pendek dan agak kurus. Kurusnya bukan karena memang menjaga body agar tetap dalam timbangan ideal, sama sekali bukan. Dari raut wajahnya dan postur tubuhnya orang akan menyimpulkan perempuan itu kurang sering makan nasi dengan lauk pauk normal, tapi malah lebih sering makan hati. Rambutnya sebahu, dikucir dengan karet seadanya.
Kulitnya coklat, nyaris gelap seperti terlalu sering tersengat matahari jalanan (bukan matahari pantai Bali yang eksotis). Dengan kamera secanggih apapun akan sulit mendapatkan gambar yang menarik dari perempuan dengan kulit wajah berminyak itu.
Bila aku seorang lelaki, perempuan jenis itu adalah perempuan yang bila berpapasan, aku akan pura-pura nggak lihat. Dari pada dikira ada affair sama pembantu tetangga sebelah! Dan siapa saja orang yang jadian dengannya, pasti sedang sakit mata serta ada sekrup otaknya yang lepas (minimal lima)!.
Tapi, eh…siapa dia?
Kok kalau dicermati, aku cukup familiar dengan wajah itu. Nyaris mirip dengan wajah yang sering aku lihat di layar kaca, saat berdandan pagi-pagi!!
Oh tidak. Tidaaaaaaaaaaakk….!!
***
Aku langsung meninggalkan meja kerja, menghambur ke pangkuan Aa yang sedang asik menonton TV, acara panjat pinang dan mengejar bebek berkalung foto Nurdin M Top.
Aku mengalungkan tanganku di leher Aa. Tidak peduli Aa megap-megap keheranan.
“Kenapa, dik? Ada apa? Kok tiba-tiba lari ke sini? bukannya tadi lagi senyum-senyum di depan laptop?”
“Adik, shock!” kataku menyembunyikan wajah di bahunya.
“Kenapa?”
“Barusan liat foto perempuan jelek item cungkring!”
“Foto siapa?”
Mendengar pertanyaan Aa, aku semakin meraung.
Dengan wajah memelas tak berdaya, aku terpaksa mengaku.
“Foto adik, A…”
Tawa Aa membahana. “Huaa haaa haaa haaaa haaa”
***
Setelah berhasil membekap mulut Aa supaya berhenti tertawa. Aku menatap Aa dengan serius.
“Aa kok mau sih sama Ning yang jelek dan cungkring?” tanyaku.
Aa menangkupkan kedua telapak tangannya di pipi kiri dan kananku, mehanan wajahku tetap dalam satu garis lurus dalam tatapannya. Aa lalu tersenyum, tangannya bergerak turun dan diam di atas dadaku.
“Karena aku melihat yang di sini,” jemarinya berirama mengetuk dadaku. “Aku melihat hatinya.”
Bibirku yang tadi merengut kaku perlahan mengembang.
“Lagi pula, penampilan, fisik dan kemasan hanya sesuatu yang sementara. Bisa dipoles. Kebaikan yang di dalam hati, itu yang lebih abadi.” Lanjut Aa. “Buktinya, biar dulu cungkring banyak yang naksir. Apalagi sekarang, Aa musti hati-hati mengawasi nih!”
“Ugh… gombal!. Tapi… terimakasih ya A”
Aku mengetatkan pelukanku, bergelayut di pangkuannya yang nyaman.
***
Cinta adalah kepompong yang memeluk, menjaga dan menyulapmu dari ulat buruk rupa menjadi kupu-kupu yang rupawan.
Seperti cinta dan kasih sayang Aa yang membuatku berkembang dan bersinar, dengan sayap kokoh mampu menjangkau ketinggian yang dulu hanya kulihat dari bawah. Cintanya membuatku percaya diri. Cintanya membuatku gigih berkarya. Cintanya membuatku memesona. Cintanya membuatku menjadi cantik yang sebenarnya.
Rabu, Agustus 19, 2009 at 7:35 pm
haha.. brarti bagus donk ning, ada peningkatan penampilan..
kalo aku malah pengen kembali ke masa lalu, kayanya kulitnya lebih halus, mukanya lebih imut haha
Kamis, Agustus 20, 2009 at 9:06 am
wkwkwkkkkk…..
to twiiittt…
Kamis, Agustus 20, 2009 at 10:47 am
hahaha… kadang -kadang bila lihat foto jadul apalagi kalau fotonya udah dari 10 atau 20 tahun yang lalu – rasanya mau menyangkal kalau yang di dalam foto itu diri kita
Memang penampilan bisa diubah dan berubah ya mbak… tapi kebaikan hati itu yang lebih abadi (ngutip quote Aa) hehe…
Kamis, Agustus 20, 2009 at 1:44 pm
@ Pucca : He he he, “penurunan” itu kan juga karena faktor umur, Vie. Tapi kan yang lebih penting aura kecantikan Via yang terus bersinar.
@ Nun :
@ samwan : Ha ha ha, betul banget. Foto yang 5 tahun kemarin aja ingin disangkal!
Kamis, Agustus 20, 2009 at 3:39 pm
aduh mbak romantis ya ? kapan aku bisa seromantis itu sama aa’ koe?
Kamis, Agustus 20, 2009 at 4:49 pm
aduh mbak ning gak tau kenapa ya, cerita mbak ning ini sering banget sama yang aku dan junot (pangilan sayang suami)alami, mangkanya suka kangen kalo mbak ning lama gak posting. u r telling so good… jadi cerita mbak ning mewakili aja apa yang aku dan suami alami..
Makasih Mbak ning atas ceritnya
Jumat, Agustus 21, 2009 at 9:26 am
@ annisa : kapan? Hm…Kenapa nggak dimulai sekarang aja?
lebih cepat lebik baik! Lanjutkan!
Jumat, Agustus 21, 2009 at 2:17 pm
Ning, setelah nikah masih tetep cungkring ga?
Wakakakak….
Jumat, Agustus 21, 2009 at 5:51 pm
ah….mbak ini emang lutis…lucu dan romantis..hehehehe
Jumat, Agustus 21, 2009 at 7:51 pm
Subahanallah…
ya, kecantikan adalah dari hati bukan dari fisik
Jumat, Agustus 21, 2009 at 8:58 pm
mbaa niiiing.. manies2 bgt seh kisahnyaa.. u’re so lucky.. n aa more lucky to have u..
Minggu, Agustus 23, 2009 at 5:20 pm
Wah,kalo gt ga perlu kosmetik mahal2 dong, mbak
cukup dgn cinta hahaha
Cinta yg seperti itulah yg didamba…selamat ya, mbak Ning ^_^
Senin, Agustus 24, 2009 at 12:30 pm
@ tiur : pasti menyenangkan rasanya mengetahui kebahagiaan yang kita rasa juga dirasakan orang lain
Makanya, Tiur, Ayo ngeblog
Ning kan juga pengen baca tulisan versi Tiur dan Juno
@ Mary : Boro-boro mbak..hi hi hi, sekarang malah kepengin cungkring kaya dulu udah nggak bisa
@ frozzy : Lutis?? ya ampuunn ada-ada aja deh istilah kamu
@ Asri : Betul Asri, tapi tetep aja yang kelihatan lebih dahulu itu kecantikan fisik
jadi ya nggak bisa diabaikan juga.
@ Nezt : Iya Nezt, makanya nggak dianjurkan baca sambil tiduran dan habis baca langsung sikat gigi ya
supaya manisnya nggak bikin gigi sakit
@ Jill : Kalau dikasi kosmetik sih nggak nolak juga
Thanks ya Jill
Jumat, Agustus 28, 2009 at 10:34 am
bikin blog c pengen, tapi kadang bingung apa yang mo ditulis, otak sama jari tangan gak sinkron, jadi mandeg di pikiran aja
. Jadi untuk sementara jadi penikmat tulisan mbak ning aja
Sabtu, Agustus 29, 2009 at 9:14 am
Kangen bgt dg tulisan mba ning.. kapan kita bs ngobrol di YM lg? adik pgn cerita deh mba.. anw, tulisan mba yg ini gokil bgt, yang tadinya lemes krn puasa jadi kyk abis minum pulpy orange, suegerr..
Jumat, September 4, 2009 at 6:49 am
Khas Ning… ringan mencerahkan ^__^
Minggu, September 20, 2009 at 5:19 pm
hehehehe…
cinta membuat makin hari makin cantik ya mbak ning nggak cuma cantik casing tapi cantik hati hihihi lebay gak sich (ntar ada yang protes lagi saking lebaynya hihihihi)