Star by AshwingsBuat sebagian orang kedekatan dengan mertua atau kedekatan dengan orang tua kekasih mungkin suatu hal yang wajar dan biasa. Tapi buatku, kebahagiaan berupa kedekatan dengan orang tua Aa adalah sesuatu yang harus diperjuangkan bukan dengan upaya sebulan dua bulan, tapi berbilang tahun.

Masih lekat dalam ingatan, aku hanya orang asing di antara keluarga mereka. Benar-benar asing. Benar-benar berbeda. Berbeda warna kulit, berbeda suku, berbeda bahasa, berbeda agama. Aku duduk di ruang tamu, membaca majalah entah tahun berapa, sementara Aa dan keluarganya berada di ruang keluarga. Sesekali dengan kikuk dan serba salah, Aa mondar mandir menghampiriku dan kembali masuk ke dalam. Kala itu aku hanya mampu mendekati keponakan Aa yang masih balita, meski awalnya takut-takut, namun cerita dongengku mampu memesonanya.

Aku telah berdoa sejak langkah pertama kali menginjakkan kaki di rumah keluarga Aa, meminta pada Tuhan agar aku diberi kesempatan menjadi bagian dari keluarga besar mereka, bukan hanya bagian dari Aa, meminta pada Tuhan agar aku diberi kesempatan menunjukkan bahwa bukan hanya Aa yang menjadi fokus kasih sayangku, tetapi juga kedua orang tuanya dan keluarga yang menjadi bagian dirinya sejak jauh hari sebelum mengenalku.

Aku membayangkan, andai dulu aku menyerah…mungkin aku tidak akan pernah sampai ke titik ini, titik dimana aku bisa mendesahkah ucapan bahagia bisa berjalan hingga lelah seharian mengandeng lengan Ma. Atau duduk berdiskusi seharian dengan buku-buku berserakan sambil belajar komputer dari Pa. Atau membiarkanku memilih dan memesan makan siang mereka. Atau cubit-cubitan dengan Ma yang menggodaku lenganku yang kurang kencang karena jarang berenang. Atau semuanya…semua hal-hal kecil yang membuatku merasa diterima, membuatku lebur menjadi bagian dari keluarga besarnya.

Ternyata benar, bahagia tidak datang dan jatuh dari langit begitu saja.

Banyak hal yang harus diupayakan. Banyak hal yang harus dipertahankan. Menebusnya dengan berkarung-karung doa dan kesabaran. Dan tidak berhenti, sebelum bahagia itu menjadi nyata.