Buat sebagian orang kedekatan dengan mertua atau kedekatan dengan orang tua kekasih mungkin suatu hal yang wajar dan biasa. Tapi buatku, kebahagiaan berupa kedekatan dengan orang tua Aa adalah sesuatu yang harus diperjuangkan bukan dengan upaya sebulan dua bulan, tapi berbilang tahun.
Masih lekat dalam ingatan, aku hanya orang asing di antara keluarga mereka. Benar-benar asing. Benar-benar berbeda. Berbeda warna kulit, berbeda suku, berbeda bahasa, berbeda agama. Aku duduk di ruang tamu, membaca majalah entah tahun berapa, sementara Aa dan keluarganya berada di ruang keluarga. Sesekali dengan kikuk dan serba salah, Aa mondar mandir menghampiriku dan kembali masuk ke dalam. Kala itu aku hanya mampu mendekati keponakan Aa yang masih balita, meski awalnya takut-takut, namun cerita dongengku mampu memesonanya.
Aku telah berdoa sejak langkah pertama kali menginjakkan kaki di rumah keluarga Aa, meminta pada Tuhan agar aku diberi kesempatan menjadi bagian dari keluarga besar mereka, bukan hanya bagian dari Aa, meminta pada Tuhan agar aku diberi kesempatan menunjukkan bahwa bukan hanya Aa yang menjadi fokus kasih sayangku, tetapi juga kedua orang tuanya dan keluarga yang menjadi bagian dirinya sejak jauh hari sebelum mengenalku.
Aku membayangkan, andai dulu aku menyerah…mungkin aku tidak akan pernah sampai ke titik ini, titik dimana aku bisa mendesahkah ucapan bahagia bisa berjalan hingga lelah seharian mengandeng lengan Ma. Atau duduk berdiskusi seharian dengan buku-buku berserakan sambil belajar komputer dari Pa. Atau membiarkanku memilih dan memesan makan siang mereka. Atau cubit-cubitan dengan Ma yang menggodaku lenganku yang kurang kencang karena jarang berenang. Atau semuanya…semua hal-hal kecil yang membuatku merasa diterima, membuatku lebur menjadi bagian dari keluarga besarnya.
Ternyata benar, bahagia tidak datang dan jatuh dari langit begitu saja.
Banyak hal yang harus diupayakan. Banyak hal yang harus dipertahankan. Menebusnya dengan berkarung-karung doa dan kesabaran. Dan tidak berhenti, sebelum bahagia itu menjadi nyata.
Senin, Agustus 3, 2009 at 7:27 pm
Bahagia pasti kan menjadi nyata mbak. Pasti …
Senin, Agustus 3, 2009 at 11:23 pm
Akhirx kamu p0sting juga..! Aku menanti nantinya setiap saat!
Selasa, Agustus 4, 2009 at 7:45 am
Semangat terus mba Ning!!!
Always love your story…, membuatku jadi bersemangat menghadapi hari-hari yang terkadang membosankan. Sering-sering update ya?
Selasa, Agustus 4, 2009 at 10:38 am
@ pam : Amiin… senang mengenal orang-orang yang optimis seperti Pak Pam
@ Dw : Duh, maap
tapi memang baiknya tidak usah dinanti sesuatu yang tak pasti… halaaahh
@ Trisko : Ayo Triskoo…semangat juga! mudah-mudahan bisa mengupdate blog seperti dulu lagi. Hiks…
Selasa, Agustus 4, 2009 at 11:45 am
hiiikkksss….aku masih belum bisa diterima oleh keluarga kekasihku…jadi iri…hiikksss
Selasa, Agustus 4, 2009 at 12:20 pm
selamat donk ning, atas perjuangannya sekarang udah dapet bahagianya
Selasa, Agustus 4, 2009 at 12:24 pm
ning…miss uuuuuuuuuuu
Selasa, Agustus 4, 2009 at 1:42 pm
@ Arinie : Terus berusaha aja Mba, seperti yang ning bilang, prosesnya itu sendiri nggak sebulan dua bulan kok. Asal kita sabar dan mau mengupayakan membaur dengan keluarga mudah-mudahan prosesnya bisa lebih cepat.
@ Pucca : Alhamdulillah, tapi bukan berarti selesai begitu saja Vi
Makasih ya Vi
@ millatza : Hallo Mill kemana aja jeung? Miss u too
Selasa, Agustus 4, 2009 at 2:30 pm
saya juga sedang berupaya untuk mendapatkan kebahagiaan itu, mbak ning..
mudah2an tercapai..
amin
Rabu, Agustus 5, 2009 at 9:36 am
Selamat ya Ning…
Memang, berbeda itu bukan berarti ga bisa bersatu/disatukan.
Kalo sabar pasti smuanya bisa di raih.
Rabu, Agustus 5, 2009 at 2:53 pm
Salam kenal mbak ning.. barusan aja tau blog mbak ning dan memang asyik untuk diikutin
. Kalo boleh saya kasih rating, ini inspiratif +1, karena sampai detik inipun saya juga masih berusaha untuk bisa dekat dengan orangtua dan adik2 calon suami. Alhamdulillah sudah bisa akrab dengan sepupu2nya. Jadi tinggal keluarga inti saja. Semoga menjadi happy ending seperti Mbak Ning ya..amiin ya rob
Rabu, Agustus 5, 2009 at 3:35 pm
ada kog mondar mandir disini, tp g ninggalin cap bibir.
)
Kamis, Agustus 6, 2009 at 8:43 am
Yaa Tuhan.. andai dulu aku berani sepertimu… pasti aku bahagia bersama orang yang kucintai… tak terjebak hidup bersama orang yang tak kucintai dan tak mencintaiku…
Jumat, Agustus 7, 2009 at 9:40 am
Semoga semuanya abadi kak Ning
Aku berharap kakak dan AA selalu bahagia
Jumat, Agustus 7, 2009 at 11:19 am
sebagai cewek single, postingan ini begitu bermanfaat buatku, mba… Thanks…:)
Selasa, Agustus 11, 2009 at 5:58 pm
proses tidak selalu menyenangkan, tapi buah yang manis membuat kita sudah tidak terlalu merasakan hal yang tidak menyenangkan tersebut yah….
Jumat, Agustus 14, 2009 at 11:14 am
Setuju banget mba… Kebahagiaan tidak didapat begitu saja, semua butuh perjuangan dan pengorbanan (dengan keikhlasan pastinya)
You worth to get it!!
Jumat, Agustus 14, 2009 at 2:58 pm
mbak bening rajin posting doonggg, akhir2 ini jarang banget ya postingnya. Aku salah satu penggemar tulisan mbak bening. Tulisan2 mbak bening itu ngena banget, bisa pas gitu ya mbak deskripsiin segala situasi. Banyak pelajaran yang aku ambil dari tulisan mbak bening. Aq jadi lebih bisa mensyukuri karunia yang tuhan berikan. Mbak tetep semangat terus ya:D!
Kamis, Agustus 27, 2009 at 9:34 pm
hehe..sedikit iri
soalnya dulu aku melepaskan semuanya mbak..tapi beda orang beda jalannya ya
salut buat yang bisa menjalani *hugs*
Kamis, September 3, 2009 at 2:38 pm
menempuh hidup bahagia memanglah sulit.. pasti selalu ada rintangannya dan hambatan tapi jika kita lulus dan berhasil, melewati itu semua sungguh kebahagian yang sangat indah..
Selasa, September 8, 2009 at 2:56 pm
aku yakin bahagia itu akan kuraih,,,, makasih mbak ning aku jadi makin bersemangat untuk meraih kebahagiaanku.
Minggu, September 20, 2009 at 5:24 pm
seperti yang mbak ning bilang bahagianya kita disayang keluarga pasangan kita dan pasangan kita disayang dan menyayangi keluarga kita