Aku dan Aa sedang asik dengan kesenangan masing-masing, Aa menonton TV dan aku menjelajahi blog yang belakangan semakin jarang aku sentuh.
Tiba-tiba keasikan kami pecah oleh lengkingan ringtone yang mengalun dari HP Aa. Aa mengangkat HP-nya dari atas meja, biasanya Aa langsung menekan tombol untuk menerima panggilan, tapi kali ini aa membiarkan dering itu terus mengalun setelah mengecek nama penelepon. Malah meletakkan kembali HP di atas meja. Kok aneh.
“Siapa A?” tanyaku, sambil berusaha untuk mencari tau siapa gerangan si penelepon yang diabaikan tersebut.
“Nggak usah diangkat, dik” larang Aa.
“Boleh adik lihat?” Tanyaku melirik Hpnya. Aa mengangguk.
1 Panggilan tak terjawab: Eli
Aku berusaha keras mengingat-ingat nama itu, tapi tidak menemukan informasi yang cukup. Siapa ya?. Tapi Aa juga sepertinya tidak ingin ngobrol tentang telepon itu. Hingga akhirnya kami kembali pada keasikan semula.
Tiba-tiba ada bunyi SMS. Tebakanku kemungkinan besar sms dari si pelenelopn barusan. Melihat gelagat Aa yang tampaknya akan mengabaikan SMS tersebut, aku langsung menawarkan diri. “A, boleh adik baca sms-nya ya?”
Aa mengangguk, “Buka aja dik.”
Aku setengah melompat menyambar HP aa, saking penasarannya. Kecemasan
(lagi…)
Posted by morning dew under
Inikah cinta? [17] Comments
Kemarin aku menata ulang file-file yang ada di laptop. Beberapa foto-foto jaman baheula yang tersimpan di CD kupindahkan ke komputer.
Iseng-iseng, aku membuka sebuah folder yang isinya foto-foto jadul. Sebenernya nggak jadul-jadul amat, ya sekitar 5 tahun yang lalu, tapi melihat deretan foto tersebut sontak membuat tawaku meledak.
Ha ha ha…. Ya ampunn…!
Aku menatap foto Aa. Potongan rambutnya kok mirip-mirip anggota The Cangcuters ya? Ha ha ha. Rambut lurus dipotong bulat mengikuti wajahnya yang bundar. Tubuhnya dibalut kaos oblong dengan bawahan celana kargo. Sandal Carvil yang yang dibakainya tebal dan nggak ada model sama sekali!
Aa dan apa yang dia kenakan dari ujung rambut sampai ujung kaki hampir nggak ada yang menarik sama-sekali. Dia bukan orang yang akan aku lirik saat berpapasan di tengah jalan. Bukan juga orang yang akan membuatku curi-curi pandang menatapnya dari kejauhan. Astagaa… Aku pasti lagi sakit mata waktu itu! Pasti lagi belek’an! kok bisa-bisanya suka sama Aa, eh nggak sekedar suka, jatuh cinta pula! Sekrup otakku pasti lagi nggak beres!
Setelah puas memandangi poto Aa (dan mencibirinya dalam hati), pandanganku tertumbuk pada foto seorang perempuan.
Aih, ini lebih mengerikan. Kenapa juga foto “wajah-wajah eksotis” ini ada di dalam folder Aa ya?!
(lagi…)
Buat sebagian orang kedekatan dengan mertua atau kedekatan dengan orang tua kekasih mungkin suatu hal yang wajar dan biasa. Tapi buatku, kebahagiaan berupa kedekatan dengan orang tua Aa adalah sesuatu yang harus diperjuangkan bukan dengan upaya sebulan dua bulan, tapi berbilang tahun.
Masih lekat dalam ingatan, aku hanya orang asing di antara keluarga mereka. Benar-benar asing. Benar-benar berbeda. Berbeda warna kulit, berbeda suku, berbeda bahasa, berbeda agama. Aku duduk di ruang tamu, membaca majalah entah tahun berapa, sementara Aa dan keluarganya berada di ruang keluarga. Sesekali dengan kikuk dan serba salah, Aa mondar mandir menghampiriku dan kembali masuk ke dalam. Kala itu aku hanya mampu mendekati keponakan Aa yang masih balita, meski awalnya takut-takut, namun cerita dongengku mampu memesonanya.
Aku telah berdoa sejak langkah pertama kali menginjakkan kaki di rumah keluarga Aa, meminta pada Tuhan agar aku diberi kesempatan menjadi bagian dari keluarga besar mereka, bukan hanya bagian dari Aa, meminta pada Tuhan agar aku diberi kesempatan menunjukkan bahwa bukan hanya Aa yang menjadi fokus kasih sayangku, tetapi juga kedua orang tuanya dan keluarga yang menjadi bagian dirinya sejak jauh hari sebelum mengenalku.
(lagi…)