Hug me by armeneTadi malam, (malam sesudah aku posting tulisan) Aa mengolokku habis-habisan gara-gara SMS lebay soal acara perempuan-perempuan beringas itu.

“Kamu lucu, dik” ia menowel hidungku sementara aku berbaring di sisinya.

“Pantesan pagi-pagi kamu marah-marah”

“Marah-marah gimana?, orang nggak marah kok”

Aku mengingat kejadian paginya. Rasanya aku nggak marah kok.

“Apanya nggak marah, pagi-pagi di dapur bunyi kedombrang kedumbreng”

Keningku mengernyit, berpikir keras.

“Hehehe, rasanya sih adik nggak marah A. Cuma mungkin bawah sadar masih nyimpen kekesalan tadi malam. Lagian gimana nggak kesel, Aa ngajak bobo tapi masih nyetel TV kenceng-kenceng, isinya emak-emak berantem pula” aku mencerocos, kesempatan ini tidak kusia-siakan untuk menumpahkan uneg-unegku.

Aa tertawa. Mengacak-acak rambutku.

“Trus,” lanjutku lagi, “ngeliat adiknya grasa-grusu nggak bisa tidur sambil nutupin kepala pake bantal bukannya kasian, eh malah dibiarin aja megap-megap”

“Ha ha ha ha”

(lagi…)