Dinner Thanks by pipisipispisiHari ini rencananya tidak ada acara memasak. Aku hanya berkutat dengan laptop serta ngurusin Aa yang mendadak batuk-batuk. Aku tidak begitu khawatir urusan makan karena untuk pesan makanan sudah tidak begitu susah, rata-rata warung makan, food court dan resto-resto sudah ada layanan delivery, tinggal telepon dan menunggu sebentar, makanan sudah bisa dinikmati tanpa harus keluar rumah.

Tapi menjelang malam, aa malah kepengin makan nasi dengan indomi dan kerupuk!

Aa suka indomi rasa soto atau kare ayam dengan irisan cabe rawit yang pedas. Kali ini aku menyiapkan indomi kari yang kumasak ala mie godog jawa.

Bahan :

  • 3 cabe rawit merah+4 cabe rawit hijau
  • 2 siung bawang merah + 1 siung bawang putih
  • 1 tangkai daun bawang
  • 1 bungkus indomi kare
  • 2 butir telor

Cara memasak

  1. Goreng bawang merah sampai menguning, lalu masukkan irisan bawang putih dan irisan cabe rawit.
  2. Pecahkan telur ke dalam tumisan bawang dan cabe, aduk-aduk dan beri sejumput garam, aduk hingga telur yang menggumpal matang.
  3. Tuangkan air ke dalam wajan berisi telur, masukkan bumbu indomi dan irisan daun bawang, tunggu hingga air mendidih
  4. Masukkan indomi dan masak hingga 1/2 matang (agar nggak terlalu benyek)
  5. Sajikan

Mata Aa berbinar dengan senyum selebar empang ketika semangkok indomi panas megepul menguarkan aroma menggoda. Satu kecupan mendarat dipipiku.

“Dik, makan seping berdua aja ya” kata Aa sambil menyendok kuah indomi ke piring

Tidak menunggu lama, aku dan Aa berlomba saling berebut menyendoki kuah mie yang memang benar-benar nikmat, apa mungkin karena disantap sepiring berdua?

Sambil mentap wajah Aa yang memerah dan menyeka keringat di keningnya, aku berpikir bahwa makanan di resto mahal mungkin menjanjikan cita rasa yang sepadan, tapi ada yang tidak dapat dibeli disana, yaitu kemesraan dan keintiman makan berdua yang bisa menjadikan masakan sederhana bercita rasa luar biasa.

Usai menandaskan kuah indomi, Aa mendesah nikmat. Lenganya menjulur mengambil tissue. Aku sampai bengong melongo dengan noraknya, ketika tissue itu bukan untuk menyeka bibirnya yang belepotan kuah, tapi menyeka bibirku dengan lembut dan penuh perhatian… Ah, kalau begini pantas saja aku lupa kalau usia hubungan kami tak lagi muda, sebab rasanya dan sikapnya memperlakukanku masih seperti orang pacaran yang baru jadian.

“Makasih ya dik, sudah dimasakin makan malam yang nikmat”

Aa menyeka bibirnya lalu mendekat ke wajahku, mengalirkan cinta dan kasih sayang lewat bibir yang bertaut hangat.