Minggu, Juli 5th, 2009


Dinner Thanks by pipisipispisiHari ini rencananya tidak ada acara memasak. Aku hanya berkutat dengan laptop serta ngurusin Aa yang mendadak batuk-batuk. Aku tidak begitu khawatir urusan makan karena untuk pesan makanan sudah tidak begitu susah, rata-rata warung makan, food court dan resto-resto sudah ada layanan delivery, tinggal telepon dan menunggu sebentar, makanan sudah bisa dinikmati tanpa harus keluar rumah.

Tapi menjelang malam, aa malah kepengin makan nasi dengan indomi dan kerupuk!

Aa suka indomi rasa soto atau kare ayam dengan irisan cabe rawit yang pedas. Kali ini aku menyiapkan indomi kari yang kumasak ala mie godog jawa.

Bahan :

  • 3 cabe rawit merah+4 cabe rawit hijau
  • 2 siung bawang merah + 1 siung bawang putih
  • 1 tangkai daun bawang
  • 1 bungkus indomi kare
  • 2 butir telor

Cara memasak

  1. Goreng bawang merah sampai menguning, lalu masukkan irisan bawang putih dan irisan cabe rawit.
  2. Pecahkan telur ke dalam tumisan bawang dan cabe, aduk-aduk dan beri sejumput garam, aduk hingga telur yang menggumpal matang.
  3. Tuangkan air ke dalam wajan berisi telur, masukkan bumbu indomi dan irisan daun bawang, tunggu hingga air mendidih
  4. Masukkan indomi dan masak hingga 1/2 matang (agar nggak terlalu benyek)
  5. Sajikan

Mata Aa berbinar dengan senyum selebar empang ketika semangkok indomi panas megepul menguarkan aroma menggoda. Satu kecupan mendarat dipipiku.

(lagi…)

Cinta adalah ketika bersama orang yang kamu cintai, kamu bertumbuh, berkembang, berbunga indah dan berbuah manis menyehatkan.

Atau seperti kepompong yang memeluk dan menjagamu hingga menjadi kupu-kupu bersayap indah.

Mungkin akan ada banyak cinta yang bisa kau temukan di luar sana, tapi pilihlah cinta yang membuatmu hidup. Bukan yang membuat mati.

***

Love by azzriel666Hari ini, menjelang tidur aku memandang mata Aa dalam-dalam. Mengecup keningnya. Lalu berbisik pelan,

“Aa, meski banyak hal yang adik sukai, banyak hal yang ingin adik lakukan tapi satu hal yang bisa Aa percaya, bahwa semuanya tidak akan mengurangi cinta dan sayang ke Aa.”

Aa menatapku lebih dalam, mungkin mencari-cari kebenaran dan kesungguhan dalam ucapanku. Aku tidak tahu apa yang ia temukan.

Ia hanya merarik wajahku mendekat, menempelkan bibirnya pada keningku lalu mengecup kelopak mataku.

“Terimakasih, Dik. Terimakasih, Sayang…”