Tidak tau apa alasan yang jelas, aku merasa rasa percaya diriku dalam menulis drop hingga batas serendah matakaki.

Beberapa tulisan mandeg di paragraf ke lima. Beberapa yang lain hanya berakhir di kotak draft, teronggok begitu saja. Hingga jamuran. Tidak percaya tulisan bisa jamuran? Aku percaya.

Sibuk? Siapa yang tidak punya kesibukan. Aku pernah merasakan sibuk tapi api menulis menyala membakar apa saja yang menghalanginya. Dan kini, saat tidak ada “kesibukan yang memaksa untuk menulis”, api itu meredup nyaris padam tanpa oksigen bernama PD.

Banyak membaca. Banyak menulis. Begitu yang seharusnya.

Aku sudah banyak membaca. Tapi coba lihat apa yang kutulis? Seringnya hanya sibuk menulis yang tidak penting.

Yah, aku bisa menyetujui pendapat Dee dan mengakui bahwa kebanyak tulisan di blogku tepat seperti apa yang Dee katakan: “Jujur, pada saat itu pun saya bahkan tak terlalu menyukai blog-blog lokal yang saya temui, yang kebanyakan isinya remeh-temeh, diary-ish, atau dalam istilah saya pribadi: ‘diare kata-kata’. Encer dan nggak penting”

Ah, aku termasuk yang mengalami diare kata-kata itu. Hiks.

Aku butuh oralit, untuk menyembuhkan diare kata-kataku. Ada yang mau ngasi?