“Dik, Dik…”
Tepukan Aa di lenganku membuyarkan mimpi indah tentang hutan-hutan maple, bunga buttercup, pohon-pohon cerry berbunga putih. Tepukan itu menyentakku kembali ke alam nyata tanpa memberi kesempatan pamit dan berjanji akan kembali.
Aku mengerang. Enggan membuka mata.
“Dik,” suara Aa memelas. “Aa nggak bisa tidur.”
“Sekarang jam berapa A?”
“Jam 3″
“Sini, adik usap-usap aja punggungnya” aku melingkarkan lengan menggapai punggung aa dan mulai menepuk-nepuk dengan level kesadaran terendah.
“Nggak bisa bobo. Aa laper”
“Apa?? Laper?!”
“Iya…”
“Trus mau dibikinin apa?”
“Mau susu hangat”
Otakku yang masih lemah tidak mampu berpikir susu apa yang harus kubuat. Tapi apapun itu, aku harus bangun.
Susah payah kuangkat tubuh. Terhuyung-huyung menuju dapur. Aa siap sedia di sampingku, siap menangkap tubuhku yang doyong ke kekiri nyaris menabrak kulkas.
“Eh…eh…, susu punya adik aja dipanasin?”
“Heh? susu yang mana?”
“Susu yang di kulkas”
“Ohh iya!”
Saat membuka pintu kulkas, kesadaranku mulai bertambah. Untung susu cimory green tea yang kubeli di carefour belum habis. Aku menyerahkan botolnya pada Aa.
“Ehh.. jangan langsung dituang ke panci” aku menahan lengan aa yang siap menuangkan susu.
“Kenapa dik?”
“Sini, biar ning aja”
Aku membuka lemari mencari cangkir stainless lalu menuangkan susu ke dalamnya. Cangkir stainless lalu kuletakkan di dalam panci yang berisi air kemudian menutupnya.
Tepat saat air di panci mulai mendidih, susu di dalam cangkir stainless sudah cukup hangat. Tinggal menuangkankan ke gelas.
Dengan kantuk yang masih membebani mata, aku memandangi Aa yang menyesap susu dengan nikmat. Kurebahkan tubuhku di sisinya, menjadikan pahanya sebagai bantal.
“Kok tadi nggak langsung dipanasin dik?” tanya Aa.
“Kalau langsung dipanasin nanti susunya pecah. Kaya santan pecah. Manasin susu nggak boleh langsung. Harus ditim, kaya yang tadi ning lakuin.”
“Oo…”
“Enak susunya?”
“Enak”
“Kenyang?”
“Iya”
“Habis ini bobo lagi ya”
“He eh”
Aku kembali naik ke atas bed dengan pikiran yang berkecamuk. Hari ini hari senin, sedikit saja terlambat berangkat, macet sudah menghadang di depan mata.
***
Ketika alarm menjerit pukul 5 pagi, Aa langsung turun dari bed, sementara mataku masih susah dibuka, seakan kedua kelopaknya diolesi lem perekat.
“Lho, aa udah bangun? Bisa tidur nggak?” tanyaku setelah aa menyelesaikan doa pagi.
“Nggak bisa, dik”
“HAH? Jadi semalaman ini nggak tidur?
“Enggak. Mungkin cuma tidur-tidur ayam”.
Aku langsung berlari ke dapur, menyalakan kedua burner kompor. Satu untuk memasak air panas buat mandi Aa dan satu lagi buat menyiapkan kopi.
Hari kami telah dimulai. Sambil melirik jam aku mendesah menarik napas lega. Waktu masih cukup.
“Aa ayo buruan mandi, air hangatnya udah siap” teriakku pada Aa, begitu selesai menuangkan air panas ke dalam bak yang sudah terisi air dingin.
“Dik, nggak usah mandi ya?”
“Haah!! Nggak mandi gimana?”
“Iya, takut ntar meriang, kan tadi malam nggak tidur. Aa cuci muka, sikat gigi sama lap badan saja.”
Meski tidak mengerti penjelasan yang logis tentang larangan mandi pagi bagi yang tidak tidur semalaman, aku mengiyakan saja.
Dalam perjalanan ke kantor aku menanyakan kenapa aa tidak bisa tidur semalaman.
“Mungkin karena siangnya kebanyakan tidur, dik” jawab aa malu-malu.
Ooooohh… pantesan. Aku baru ingat, Aa baru bangun tidur (dari siang) saat jam sudah menunjukkan pukul setengah 7 malam. Aku tidak menyadari aa tidur selama itu karena tengah sibuk berkutat di depan laptop, dari siang sampai malam.
Yah begitulah akibat kebanyakan tidur, jadinya kurang tidur. Karena bagaiamana pun tubuh telah memiliki siklus biologis masing-masing.
Selasa, Juni 2, 2009 at 12:12 pm
hehe..david juga suka gitu lo ning, pulang kerja dia bisa tidur jam 9 malam bangun trus gak bisa tidur lagi hehe..
Selasa, Juni 2, 2009 at 10:05 pm
saya juga sering begitu. kalo kecapean trus tidur cepat jam 7-8pm, biasanya jam 1am kebangun dan gak bisa tidur lagi
salam kenal
Rabu, Juni 3, 2009 at 12:43 pm
emang kebiasaan buruk tuh, kalo siangnya kebanyakan tidur, malemnya jadi susah tidur
saya juga gitu.. tapi dulu waktu masih jadi mahasiswa.. kalo udah jadi pekerja gini sih,, begiu nempel sama kasur, langsung bless.. inget2 pagi
Kamis, Juni 4, 2009 at 11:46 am
kalo Yuli sih beda mbak, biarpun dah tidur siang tetep aja malamnya bisa tidur nyenyak karna dah kebiasaan kalo dah ketemu bantal dan kasur pasti ngantuk
Senin, Juni 8, 2009 at 6:22 pm
mbak ning, pa kabar? hehehhe
masih romatis aja