Juni 2009


My Lucky Star by trenchmakerAduh, belum menulis saja mataku sudah berkaca-kaca. Aku sengaja pindah ke kubikel pojok, agar lebih leluasa menulis tanpa terganggu pandangan dan pertanyaan orang-orang yang keheranan.

Pernahkah kamu memiliki impian dan menyadari ada tangan-tangan tulus yang terulur menuntunmu untuk menyongsong mimpi yang menjadi nyata?

Aku mungkin bukan orang yang peruntungannya mudah, semacam orang yang dengan mudah memenangkan lucky draw, atau terbiasa mendapat door prise, atau yang sering memenangkan undian. Hanya dengan menuliskan nama, atau berada pada nomor urutan tertentu atau angka apa yang yang disentuh oleh tangannya membawa keberuntungan.

Tuhan mengajariku bahwa keberuntunganku harus disertai dengan kemauan dan kerja keras beserta doa, Tuhan membuatku meminta dan memohon. Karena itu, kesialan adalah ketika aku mengabaikan peluang, dan keberuntunganku ketika aku mengambil peluang sekecil dan seremeh apapun di mata orang serta darimana pun untuk belajar dan belajar sebagai bagian dari usahaku.

(lagi…)

AUDIT

“Dik, lagi mengaudit tulisan ya?” tanya aa, sambil menarik selimut.

“Iya, nih a. Kalau mau bobo, bobo aja dulu”

Tapi mikir yang lamaaa… sepertinya ada yang aneh dengan pertanyaan Aa.

“Sayaaaaaang…,kok mengaudit sih. MENGEDIT!”

“Ha ha ha, ah, beda-beda dikit”

DAULAT

“A, mobil yang itu kok platnya abu-abu. Harusnya hitam”

“Mungkin mobil daulat”

“Ooh…iya kali a”

Tiba-tiba tersadar, kok ada yang aneh.

“Heh, mobil daulat?! mobil diplomat, a”

“Iya, itu maksudnya. Ha ha ha”

ARTIS TAPI ATLIT

Dalam obrolan sehari-hari, aku dan maupun aa sering ngawur dalam mengucapkan kosakata. Dan herannya, aku bisa mengerti apa yang Aa ucapkan, beberapa detik kemudian baru menyadari kalau ada keanehan dalam kalimatnya.

Mungkin aku juga demikian. Hanya bedanya, aa jarang mengoreksi ucapanku. Jadinya aku nggak nyadar kalau sering ngawur juga. Hi hi hi

Hingga suatu hari, aku dan seorang sahabat sedang asik nonton film sambil mengomentari tokoh dan jalan ceritanya.

“Yang cewek ini orangnya tertutup, karena dia artis.” kataku menjelaskan

“Ooh”

“Itu lho artis yang mukul-mukul bola pake raket, apa sih itu namanya”

“Hah? Artis?!” tanya menegaskan.

“Iya!” aku belum menyadari keanehannya

“Atlit kali maksud kamu?”

“Iya, itu”

“Atlit tenis kan? bukan artis. Ha ha ha”

“Iya! he he he”

Barusan menemukan quote sendiri; (sesaat setelah postingan oralit)

Memang penting untuk selalu menulis hal-hal penting, tapi hal yang lebih penting adalah selalu menulis.

(Bening Yang Lagi Frustrasi )

Keren gak tuh? Ha ha ha…

Ya, katakanlah ini sebuah apologi. :mrgreen:

Tidak tau apa alasan yang jelas, aku merasa rasa percaya diriku dalam menulis drop hingga batas serendah matakaki.

Beberapa tulisan mandeg di paragraf ke lima. Beberapa yang lain hanya berakhir di kotak draft, teronggok begitu saja. Hingga jamuran. Tidak percaya tulisan bisa jamuran? Aku percaya.

Sibuk? Siapa yang tidak punya kesibukan. Aku pernah merasakan sibuk tapi api menulis menyala membakar apa saja yang menghalanginya. Dan kini, saat tidak ada “kesibukan yang memaksa untuk menulis”, api itu meredup nyaris padam tanpa oksigen bernama PD.

Banyak membaca. Banyak menulis. Begitu yang seharusnya.

Aku sudah banyak membaca. Tapi coba lihat apa yang kutulis? Seringnya hanya sibuk menulis yang tidak penting.

Yah, aku bisa menyetujui pendapat Dee dan mengakui bahwa kebanyak tulisan di blogku tepat seperti apa yang Dee katakan: “Jujur, pada saat itu pun saya bahkan tak terlalu menyukai blog-blog lokal yang saya temui, yang kebanyakan isinya remeh-temeh, diary-ish, atau dalam istilah saya pribadi: ‘diare kata-kata’. Encer dan nggak penting”

Ah, aku termasuk yang mengalami diare kata-kata itu. Hiks.

Aku butuh oralit, untuk menyembuhkan diare kata-kataku. Ada yang mau ngasi?

“Dik, Dik…”one way to wake up by vaporotem

Tepukan Aa di lenganku membuyarkan mimpi indah tentang hutan-hutan maple, bunga buttercup, pohon-pohon cerry berbunga putih. Tepukan itu menyentakku kembali ke alam nyata tanpa memberi kesempatan pamit dan berjanji akan kembali.

Aku mengerang. Enggan membuka mata.

“Dik,” suara Aa memelas. “Aa nggak bisa tidur.”

“Sekarang jam berapa A?”

“Jam 3″

“Sini, adik usap-usap aja punggungnya” aku melingkarkan lengan menggapai punggung aa dan mulai menepuk-nepuk dengan level kesadaran terendah.

“Nggak bisa bobo. Aa laper”

“Apa?? Laper?!”

(lagi…)