paper-machine-printing ~050712 0031 0154 jshs “Koh, ada printer merek anu?” Aa menanyakan sebuah merek printer kepada seorang penjual di sebuah toko komputer.

Aku dan Aa memang sedang mencari mesin pencetak khusus yang sudah cukup lama dipesan oleh Papa untuk usaha.

Penjual menatap aku dan aa bergantian, sebelum akhirnya bersuara dengan lantang

“Printer itu harganya hampir 30 jutaan lho!”

Bukannya menjawab ada atau tidak, malah tatapan dan ucapannya jelas meremehkan. Emosiku langsung naik. Aku benci pada penjual jenis begini. Memangnya ada apa dengan harga 30 jutaan? *pasang gaya sok* Pembeli bertanya tentu karena butuh. Emangnya kurang kerjaan cuma nanya-nanya doang?!

Apa karena penampilan kami yang tidak nggak ada tampang untuk beli barang semahal itu?

Aduh, hare geeneee??

Aku maju selangkah dari samping Aa, tidak kalah lantang menjawab, “Saya tau kok harganya. Kami butuh printer itu. Ready stock, nggak?”

Ekspresi si penjual langsung berubah serupa pemanis buatan, manis tapi bikin eneg. Jantungku lumayan deg-degan menunggu jawabnya. Kalau dia punya, mati deh! Pikirku. Tapi secepat itu juga otakku bekerja. Toh, masih bisa nawar gila-gilaan. :mrgreen:

“Wah, dealernya jam segini sudah tutup, Bu. Bagaimana kalau kami telepon hari senin? Ibu tinggalkan saja nomor teleponnya.” katanya dengan menatap penuh harapan.

“Enggak, saya dikasih kartu namanya saja” jawabku sok nggak butuh.

Si Penjual menyodorkan kartu namanya dengan bla-bla-bla supaya aku menelepon kembali. Maaf, tidak sudi!

Aku berbalik menarik tangan Aa. Selangkah keluar dari toko tersebut, kuremas kartu nama tersebut lalu melemparkannya ke tong sampah.

Ternyata penjual yang sok dan belagu nggak cuma menyebalkan, tapi rejekinya bisa menjauh.

ϼāaŲHɠŸeneee??