night butterfyada yg benci dirinya (sokosokosoookk…*bunyi panci di gosok*)
ada yg butuh dirinya (sokosokosoookk…)
ada yg berlutut mencintanya (sokosokosoookk…)
ada pula yg kejam menyiksa dirinya (sokosokosoookk…)

ini hidup wanita si kupu-kupu malam
bekerja bertaruh seluruh jiwa raga
bibir senyum kata halus merayu memanja
kepada setiap mereka yg datang….

“Dik,”

Panggilan Aa memenggal acara nyanyiku yang sedang seru-serunya. Menyanyi sambil menggosok panci, memang menyenangkan. Kali ini aku menyanyi penuh penghayatan, bila ada tetangga yang mendengar, niscaya mereka akan berhenti dan mengambil sikap “mengheningkan cipta”. Tapi, mengapa Aa menyela dengan panggilannya? Bukannya dia juga harusnya mendengarkan penuh takzim?

Yang aku dengar di acara idola cilik— yang menjadi tontonan acuanku sebagai penyanyi pemula—, tidak usah hiraukan nada yang meleset, atau pitch control, yang penting menyanyi dengan penuh penghayatan, kalau bisa sampai pendengarnya ikut meneteskan air mata. (Air mata haru atau air mata menderita?)

“Dik,” Aa mengulangi panggilannya.

“Apaan sih A, orang lagi nyanyi” aku melirik aa dengan pandangan terganggu.

“Idih, serius amat he he he. Adik nyanyi lagu ini karena masih keinget “yang kemarin” itu ya?”

Aku langsung terdiam. Menarik napas dan mengangguk pelan. Mendadak kehilangan selera melanjutkan lagu yang terpenggal.

Pertanyaan aa memutar kembali kenangan 14 Februari kemarin. Saat Aa mengajak Film Apa Aja di Bioskop. Kami tidak mengira jalan begitu macetnya, kami mulanya mengejar jam tayang pukul 7 malam, dan berencana melanjutkannya dengan makan malam. Tapi ternyata kami mesti gigit jari, hanya bisa mengejar jam tayang pukul 9.00. Itu pun bila berhasil keluar dari jerat kemacetan.

Dengan sigap Aa berbelok ke kiri, mengambil jalan potong hingga tembus di daerah tepi kali. Di kejauhan tampak tulisan nama sebuah hotel yang dibingkai dengan lampu berwarna merah.

Jalanan yang kami lewati nyaris tanpa lampu PJU (Penerangan Jalan Umum), cahaya samar hanya berasal dari lampu-lampu rumah, warung-warung rokok di pinggir jalan.

Tidak lama, pemandangan aneh mulai kelihatan. Perempuan-perempuan bermake-up tebal berdiri di pinggir jalan, berjarak lima sampai sepuluh meter dengan perempuan lain. Tubuh hanya dibalut gaun pendek, memamerkan paha dan lengan yang dibiarkan terbuka, menjadi santapan gratis nyamuk-nyamuk yang bersarang di kali.

“Siapa mereka A?” tanyaku. Baru kali ini aku melewati daerah ini di waktu malam, keadaan waktu siangnya normal-normal saja, hal ini yang mengejutkanku.

“Yeah…kamu tau lah dik, mereka perempuan malam”

Jalanan yang kecil tidak memungkinkan Aa memacu mobil dengan kecepatan tinggi, hingga pandanganku bisa menangkap dengan jelas sosok perempuan-perempuan itu. Ada yang malu-malu membalikkan badan ketika kami melintas. Ada yang berdiri menantang dan memamerkan senyum. Ada yang berdiri takut-takut setengah sembunyi di bawah pohon.

Bedak tebal, gincu merah, perona wajah tidak bisa menutupi galau di wajah mereka. Tidak semuanya berbody aduhai, body perempuan malam ideal yang ada dalam bayanganku. Tapi justru berbody seperti perempuan kebanyakan yang sudah beranak satu atau dua. Lengannya montok bergelambir, bokongnya lebar dibalut rok mini jeans, timbunan lemak mencuat di pinggang atas. Pemandangan ini membuatku bertanya-tanya, “bagian tubuh mana yang mereka jual”?, dan pikiranku dengan jelas dapat menemukan jawabannya. Jawaban yang membuat tubuhku bergidik…

***

Wajahku muram. Kutinggalkan panci kecil yang tadi menunggu giliran untuk digosok hingga mengilat. Ada hal-hal yang tidak nyaman untuk diingat, buatku ini salah satunya. Hidup bergulir, setiap orang mebuat pilihan-pilihan hidup. Dan orang lain hanya bisa memandang dari kejauhan, seperti aku memandang mereka dari balik kaca.

“Udah, nggak usah diingat lagi ya. Doakan saja mereka menemukan yang terbaik dalam hidupnya, dik” kata aa bijak. Ia merangkul tubuhku dari belakang, aku termangu di depan meja dapur.

Dan perlahan Aa melanjutkan lagu yang terpenggal,

….

Dosakah yang dia kerjakan?
Sucikah mereka yang datang?
Kadang dia tersenyum dalam tangis
Kadang dia menangis di dalam senyuman

O o Apa yang terjadi terjadilah
Yang dia tahu, Tuhan penyayang umatnya

O o Apa yang terjadi terjadilah
Yang dia tahu hanyalah menyambung nyawa

….

Aku tersenyum, mengetatkan pelukan ke tubuh Aa. Nyaman sekali mendengar Aa melanjutkan lagu itu dengan suara lembutnya. Apa yang terjadi terjadilah, Yang dia tahu, Tuhan penyayang umatnya. Aku mengulang lirik yang aa nyanyikan di dalam hati. Seakan membisikkan lagu itu pada diriku sendiri.

“Dik,”

“Hm…?”

“Mereka itu kupu-kupu malam ya dik?”

“Iya A, entah kenapa tapi itulah julukan buat mereka”

“Dik,”

“Hm…?”

“Kalau kupu-kupunya sebesar itu, bunganya sebesar apa ya?”

Gubrakkkkzzzzzzzzzz!!!

“Ha ha ha ha. Ouch, ouch… ampun! idih, kok di cubit sih dik? Hi hi hi”

“Jayus sih!”