grandmother-touching-her ~ITF028001Aku tidak pernah berhenti meminta pada Tuhan, agar IA berkenan menjaga kami, aku dan Aa. Menjaga hubungan kami. Menjaga cinta dan kasih sayang yang dianugerahkan pada kami.

Telah banyak cerita terukir. Para teman dan sahabat sekeliling supporter terbaik. Mereka hadir membawa sekaleng pernis berupa doa, mereka memulaskannya lembut dengan harapan yang sama, cerita cinta dan kasih sayang yang telah terukir akan tetap berkilat dan awet hingga anak-cucu.

Lalu, malaikat-malaikat melaksanakan tugasnya. Mengaminkan doa sebelum tiba pada tingkap langit tertinggi.

Hingga pada suatu hari…

Apa Rasanya Menjadi Nenek?

“Dik, dik, Aila sudah melahirkan, banyinya perempuan” Suara aa terdengar tergesa dan begitu bersemangat di telepon.

“Oh ya? Alhamdulillah!” seruku tak kalah gembira. Terakhir kami menjenguk Aila, perutnya sedang besar-besarnya. Bukan hanya perut, pipi lengan dan pahanya juga, pokoknya semua membesar.

“Mba Tatie sudah jadi Oma sekarang, ha ha ha. Udah punya cucu dia.” kata Aa sambil tertawa geli membayangkan mba kesayangannya sudah punya cucu. Padahal umur mereka tidak terpaut begitu jauh. Hanya saja, Mba Tatie menikah di usia yang masih sangat muda.

“Yang punya cucu itu bukan cuma Mba Tatie!, tapi itu cucu Aa juga lho he he he” Aku mengingatkan aa sambil tertawa

“”Eit, jangan adik sok lupa gitu, yeee…!!! sekarang kamu udah jadi nenek! Ha ha ha”

“Ha ha ha”

Tawa kami berderai. Ujung mataku basah oleh tawa bahagia dan haru. Kami tidak pernah tau bagaimana doa itu menjadi nyata. Bahkan sering terlupa bahwa apa yang kami pinta ratusan atau ribuan hari yang lalu kini nyata di depan mata.

Awet sampai anak cucu

Aku tidak pernah menduga di usia segini ini aku akan menyandang gelar Oma. Tahukah kamu rasanya? Hatiku seakan adonan yang semalaman ditaburi ragi, mengembang begitu sempurna.