Huff, beberapa hari terbaring sakit ditambah penyakit malas yang kambuh menjadikan kamar tidur kami terasa seperti sarang babi! Dalam masa pemulihan kemarin kumanjakan diri menikmati kamar yang berantakan. Buku bertebaran, beberapa strip obat yang hanya tersisa masing-masing satu atau dua butir pil berceceran. Botol minyak kayu putih terguling pasrah di pojok kamar. Kabel charger HP, kabel laptop, ear phone, handsfree HP, bersliweran seperti jaring laba-laba. Aku dan Aa harus berjingkat-jingkat melewatinya agar tidak sampai tersandung atau ter-srimpet tanpa ada seorangpun di antara kami yang berniat untuk membereskannya, he he he.
Tapi sore ini aku sudah semakin tidak tahandan tidak betah dengan kondisi ini. Badanku rasanya sudah jauh lebih segar, segala nyeri dan rasa sakit sudah hilang. Semoga benar-benar pulih. Sepulang kantor aku betekat membereskan dan merapikan kamar tidur.
Kumulai dari membereskan buku-buku. Ada beberapa buku yang hampir seminggu ini tidak berpindah dari atas tempat tidur. Novel Lolita, yang baru kulahap beberapa lembar. 20 Cerpen Terbaik 2008 yang mulai kucel, karena tidah henti kumamah. Ada novel Ways to Live Forever (Sally Nicholls), ada juga buku Creative Writing-nya Naning Pranoto, sampai Bandung Yellow Pages Pocket Travel Series.
Selanjutnya membereskan obat-obat dan menjejalkannya ke kotak obat, beresin tempat tidur, menyapu dan mengepel.
Keringat yang mengucur membuatku semakin bersemangat, hingga tidak terasa Aa hampir tiba di rumah.
***
“Hallo sayang…” Aa muncul dari ruang tamu. Aku sedang menyiapkan air panas untuk menyeduh secangkir teh buat Aa. Aa mengangsurkan tas kerjanya, kuterima dan kuletakkan di atas meja.
Aa mengembangkan kedua tangan, aku siap-siap menyusup kepelukannya, tapi langkahku terhenti.
“Adik malu, A…”
“Lho, malu kenapa?”
“Masih bau kecut, tadi habis rapiin kamar kita” kataku dengan sungkan dan malu-malu.
“Ha ha ha,” aa tertawa, dan justru mendekat menghampiriku. “Biar kecut, Aa suka kok.”
Aku tersipu, mengkerut dalam Pelukan Pulang Kantornya.
***
Saat aku menyusul Aa ke kamar dengan segelas teh panas, Aa sudah melepas pakaian kantor, tinggal mengenakan celana pendek dan kaos kutung.
Aku duduk di samping Aa sambil melepas lelah, bercerita kejadian seharian tadi. Cerita tentang kantor, teman-teman, issu terhangat hingga sinetron Jameela yang udah mulai nggak ketahuan jalan ceritanya.
“A, adik mandi dulu ya” aku bergeser hendak bangkit.
“Nggak usah ah, dik” cegah Aa. “Cuci muka aja. Jangan mandi malam-malam, ntar adik sakit lagi”
“Nggak mau…” aku mulai merengek cemberut. Selain gerah dan rasanya lengket oleh keringat, pasti aromaku nggak keruan. “Kalo adik nggak mandi, ntar nggak bisa peluk-peluk cium-cium Aa”
“Kenapa nggak bisa?”
“Pasti adik bau kecut”
“Cuci muka aja!” Suara aa mulai tegas. “Coba sini…, nggak kecut kok. Pokoknya nanti Aa peluk deh” rayu aa dengan suara melunak.
Aku beringsut ke kamar mandi, kubasahi handuk kecil dan menyeka sekujur badan dengan handuk basah, mencuci wajah dan menuntaskan semua ritual di kamar mandi menjelang tidur.
Aaah, lumayan segar. Mandi malam-malam emang nikmat apalagi setelah berkeringat, tapi aku nggak mau bandel. Mending ngikutin saran Aa daripada sakit lagi.
***
Aku menghampiri Aa dengan badan yang segar beraroma kombinasi minyak kayu putih dan jonshon’s baby powder. Aroma yang membuatku ingin dimanja dalam pelukannya, semalaman…
Rabu, Juli 2, 2008 at 12:11 am
hadooohhh….gak kuat dengan ’sarang babi’nya! haqhaqhaq…
Rabu, Juli 2, 2008 at 8:40 am
deuhh.. ehem ehem..
romantis bgt…jadi pengen. hehehhehehehe
Rabu, Juli 2, 2008 at 9:50 am
WHADOH…
Rabu, Juli 2, 2008 at 1:47 pm
Jd kmarin2 tuh skitnya sempet parah ya dek?..syukur deh skrg dah smbuh ya..dah bs beres2 kan?
Rabu, Juli 2, 2008 at 2:23 pm
*ngiler*
Rabu, Juli 2, 2008 at 11:02 pm
huehueheu…justru aroma kecut itu bikin…ehmmmm…:D