10-airline-passenger ~LPS1367Ini hari kedua pemajangan voucher liburan di depan monitor. Taktikku berhasil. Meski obrolan malam kami masih di penuhi cerita-cerita seputar kantor, setidaknya sesekali aku bisa mengalihkan perhatian aa, menyelingi pembiacaraan dengan rencana-rencana yang akan kami lakukan nanti.

“Dik, kemarin beli voucher hotelnya di mana?” tanya aa.

“Di travel agent Anu A,” jawabku sekilas. Aku masih fokus menatap monitor, browsing lokasi-lokasi menarik di sekitar tempat liburan nanti.

“Caranya gimana dik?” aa mengajukan pertanyaan yang membuatku bingung. Ia sedang bercanda atau sedang serius. Kupalingkan wajah, menatap Aa.

“Cara apanya, A?” keningku mengernyit.

“Iya, cara beli vouchernya gimana?” Semakin Aa menegaskan pertanyaan semakin aku bingung. Wajahnya sepertinya serius.

“Mudah kok, tinggal datang aja, cek harga. Lalu kalau udah cocok pihak travel agent-nya akan konfirmasi ke hotelnya. Udah. Begitu aja.” Aku menjelaskan lebih detil.

“Ini kok ada namanya” Aa menunjukkan namaku yang tertera di lembar voucher reservasi hotel itu.

“Memang harus ada namanya, A. Adik cuma nyebutin nama aja dan langsung di ketik sama mba yang ngelayanin. Nggak mesti pake KTP segala kok”

Aku masih belum bisa menebak kemana arah obrolan dan pertanyaan Aa. Terkadang ngoblol dengan aa penuh kejutan, karena sering ia berbicara dengan ekspresi yang nyaris datar. Obrolan ngawur, obrolan serius, obrolan bercanda, nada awalnya sama. Jadi aku harus benar-benar memperhatikan agar tidak kecele menanggapi serius obrolan konyolnya.

“Emang dari mana dia tau adik Mrs.? kata aa dengan cengiran menggoda.

Oalaaah… ternyata itu tho! Kulirik lembaran di depannya. Mrs. Xxxxxxxxxxxxx. Nama lengkapku komplit dengan embel-embel Mrs. di depannya. Huh, apa mentang-mentang badanku kecil begini, seolah-olah itu gelar itu tidak pantas kusandang. Atau… mungkin sebaliknya. Hwaaa…!

“Aaaaaa, emang Ning kelihatan nyonyah-nyonyah gitu apa A’?, wong pake seragam SMA aja masih pantes kok!” Protesku tak terima.

Yah, namanya perempuan jelas dong selalu ingin kelihatan sepuluh tahun lebih muda. Iya, kan mba Sill… Ha ha ha… *kedip-kedipin mata sambil ngelirik mba Sill*. Perempuan mana sih yang nggak berbunga-bunga kalau orang salah menebak umurnya lebih muda. Dan perempuan kebanyakan pasti mencak-mencak kalau tebakannya lebih jauh lebih tua.

“Ha ha ha ha!” Aa tertawa terkekeh. Puas sekali dia tampaknya berhasil memprovokasi aku. “Sini ah, ayune ilang kalau cemberut begitu he he he” bujuknya. Aa memanggilku mendekat. Aku naik ke pangkuannya dengan wajah masih kutekuk cemberut.

“Huuh, lagian Aa sih…”

“Kamu itu lho, dik…dik…” Aa menjawil hidungku. “Mikirnya kok kemana-mana. Siapa bilang adik kaya nyonyah-nyonyah he he he”.

“Lha, itu tadi… Aa…” rajukku.

“Gitu aja kok senewen, say… Ya jelas dong mereka nulis Mrs. Xxxxxxxxxxxxx. Jarang perempuan single pergi berlibur sendirian, memesan kamar hotel dengan bed single untuk beberapa malam. Yah, walaupun itu juga hal yang wajar banget. Kecuali memang jelas-jelas menunjukkan kartu pengenal dengan status single. Kalau tidak, mereka akan menggunakan asumsi umum, adik akan berlibur dengan keluarga, dengan pasangan. Begitu lho sayangku… he he he” Tangan aa naik ke kepalaku dan mulai mengacak-ngacak rambutku.

Kerutan di wajahku pelan-pelan sirna, berganti dengan senyuman cerah. Kucium pipinya gemas.

“Hadooooh, ampun…!”

“Ha ha ha…”

Aa meringis kesakitan akibat kecupan mautku :D

“Eh, A…”

“Iya, say?”

“Kapan-kapan, kayanya boleh tuh kita pesen paket honeymoon

“Heh ?!”

“Iya! paket honeymoon!. Ntar pesennya di weddingkudotcom, biasanya suka ada promosi tuh A” Aku menarik kening lebar-lebar menunjukkan keseriusanku.

Tapi tidak bertahan lama, aku tidak kuasa menahan ledakan tawa melihat Aa bengong, berpikir keras setengah melongo.

Ha ha ha… Gantian aku yang ngerjain Aa.