kissing-couple ~bxp254039“Enggak akan berkurang, sayangku. Percayalah”

“Percayalah…”

“Enggak akan berkurang

Ucapan aa lewat pesan singkat itu terus terngiang di kepalaku. Gemerincing menyentak syaraf-syaraf rindu. Tiap dinding ruangan kerjaku seperti layar lebar yang penuh oleh tulisan Aa.

“Percayalah, Percayalah, Percayalah…”

Ribuan peri-peri kecil berdendang, kepakan sayapnya serupa orkestra yang mendamaikan sekaligus menyemangati hatiku. Sepanjang hari, di sela-sela riuh rendah pekerjaan kantor mereka terus bernyanyi tak henti.

Suara mereka sayup-sayup menghilang ketika segenap rasa sesal dan syukur perlahan naik dari hati ke kepala.

Aku ingin sempurna buat Aa, meski aku tahu itu adalah hal yang tidak mungkin, dan menyadari kekuranganku itu telah mengecewakan Aa hatiku terasa nyeri, meski ada tekat kuat untuk membenahinya.

Kekecewaan Aa perlahan bisa kumengerti, ia berharap banyak agar kami saling membantu, apalagi ia tipe orang yang tidak suka ngurusin hal-hal kecil, hal-hal remeh temeh. “Urusan aa cuma nyari uang dan bahagian kamu, dik” ujarnya pada suatu ketika. Meski sering kali kukatakan bahwa materi bukan segalanya dari kebahagiaan. Banyak yang lebih dibutuhkan selain dari uang. Aa setuju itu. Dan kenyataannya, aku juga menyetujui alasannya, malu-malu aku mengangguk-angguk ketika Aa berdalih, “Kalau Aa nggak serius kerja, kapan kita punya rumah? kalau aa nggak sregep nyari uang, aa nggak akan bisa ngajak adik liburan, nggak akan bisa nyukupin kebutuhan kita, nyipain bekal buat masa depan kita”. Setelah itu, dalam hatiku berkata, apapun yang ingin Aa lakukan, aku akan mendukungnya tanpa banyak tuntutan.

***

Malam beranjak naik. Rinduku telah meletup-letup sedari tadi. Aku menghitung waktu menunggu aa pulang dari kantor. Uh, sudah jam sembilan malam. Mudah-mudahan sebelum pukul sepuluh Aa sudah tiba di rumah.

Sungguh aku takut bila kasih sayang Aa berkurang seiring munculnya satu demi satu kekuranganku, kekurangan yang mungkin tak terduga olehnya. Dia bangga pada ketelatenanku mengurusi semua urusan rumah tangga kami. Bangga pada kegigihanku untuk terus belajar berhemat, meniru jurus jitu menawar ala ibu-ibu demi menghemat seribu duaribu, teliti memeriksa label harga dan struk belanja, memastikan tidak ada salah angka dan lain sebagainya, tapi ternyata dibalik semua itu kecerobohanku juga luar biasa! Dalam beberapa menit lebih dari seratus ribu uang melayang sia-sia. Ah, sudahlah. Mungkin itu memang rejeki orang lain. Bagaimanapun aku percaya janji Aa, kasihnya tidak akan berkurang.

Setelah sebuah pertengkaran usai, biasanya rinduku semakin menggebu. Indahnya seperti pelangi seusai badai. Cintaku semakin lengket dan manis bak karamel. Aku tak sabar menunggunya. Aku ingin memeluknya erat, sangat erat…

Handphone-ku berbunyi! Aku langsung melompat, meraih HP yang tergeletak di atas meja.

“Hallo, dik…”

“Hallo, Aa… adik kangeeen” rengekku manja. Sejujurnya, mataku langsung menghangat basah mendengar suara lembutnya. Kadang kangen memang bikin cengeng.

“He he he, sabar ya. Sebentar lagi Aa nyampe. Udah di ujung kompleks nih, Say. Tungguin aa ya.”

Bergegas kubuka pintu rumah dan garasi samping. Mungkin aa baru akan tiba beberapa menit lagi, tapi aku akan menunggunya di jalan di depan rumah, agar aku bisa memandangnya dari kejauhan hingga perlahan mendekat.

***

Begitu langkah pertama Aa menginjak ruang tamu, aku langsung menubruknya! Ya, menubruk Aa, mungkin menyeruduk tepatnya. Aku jadi geli sendiri, teringat doggie tetangga yang langsung menubruk majikannya setiba di rumah. Ha ha ha, si doggie aja bisa kangen, apalagi aku.

Kusurukkan kepalaku ke pelukan Aa, memeluknya erat-erat. Melingkarkan kedua tanganku di pinggangnya. Kupenuhi rongga dadaku dengan aroma tubuhnya. Aroma yang sangat kuhapal. Sangat kugemari.

Aa tertawa kecil, menepuk-nepuk punggungku dan mengacak-acak rambutku.

Kutarik kepalaku, mendongak menatap wajah Aa.

“Adik kangen…”

“Aa juga”

“Adik sayang Aa”

“Aa juga sayang”

“Jangan benci sama adik ya A. Maafin kekurangan adik”

“Mana mungkin benci”

“Tapi kemarin Aa marah…” sergahku.

“Iya…, marah kan biasa. Tuhan aja marah. Tapi DIA tidak membenci” Aa tersenyum bijak, menjawil hidungku.

“Kenapa kemarin marahnya lama?”

“Enggak lama kok, cuma sepuluh menit”

“Sepuluh menit apaan…? lama banget tauk!” bibirku langsung mengerucut seperti ikan cucut. “Satu menit aja Aa marah, rasanya seperti setahun” kataku manja, dengan raut cemberut. Sungguh, sepuluh menit itu terlalu lama! Itu baru marahnya, belum diamnya yang teramat menyiksa.

Aa terkekeh.

Perlahan kedua belah tangannya naik menempel dikedua belah pipiku, mengangkat dan mendongakkan wajahku, mendekatkan wajahnya ke keningku. Kupejamkan mata membiarkan kelembutan itu mengalir gemericik merdu. Embusan nafasnya lembut menyapu wajahku, dari kening perlahan turun menyusuri hidung.

“I Love You”

Bibirnya hangat dan lembut menyentuh bibirku, mememutar pelan seolah anak kunci yang membuka ruang kontrol syaraf tubuhku. Aku bisa merasakan darahku berdesir halus, cepat merambat menjalar keseluruh penjuru, hinga ujung-ujung jariku menyentak. Waktu berhenti berdetak. Bibirnya tidak beranjak hingga kerucut bibirku terbuka, otot-ototku wajahku mengendur, rileks, sempurna mengulas sebuah senyuman.

“Tetap sayangin adik ya A…” desisku, ketika perlahan aa menarik wajahnya, menyisakan rasa hangat bersemu di wajahku.

“Pasti, sayang… Buat Aa, adik jauh lebih berharga dan lebih penting dari semua yang hilang kemarin. Ingat ya, adik jauh lebih berharga”

Kusandarkan kepalaku ke bahunya, kedua tangannya erat mendekap punggungku. Kepalanya bergerak lembut, menggosok-gosokkan pipinya tepat di atas ubuh-ubunku. Rasanya sangat damai.

Amarah memang kerap menyesatkan kami. Berputar-putar mencari jalan kembali. Tetapi kasih sayang adalah suluh dengan cahaya abadi yang menuntun jalan pulang, jalan ke hati, jalan kembali ke pelukan cinta, tempat ternyaman di seluruh penjuru bumi.