glasses-over-love poem~G77-421173Sudah kuceritakankah padamu, kalau aku sedang jatuh cinta pada puisi?

Jadi pada ujung hari itu, ketika langit malam belum sempurna memeluk senja, aku bergelung di sofa empuk di ruang keluarga, tersihir sebuah buku sepilihan sajak.

Pada beberapa halaman aku berhenti cukup lama, mengulang kata demi kata, mengecap nikmat rangkaian kalimat.

Aku teringat pada aa, kekasih hatiku yang sedang berkutat di balik meja kerjanya, ingin aku menyuguhkan sepotong puisi di samping cangkir kopi yang tinggal separuh.

Date:03/06/2008

Time:19:30

To : +6281XXXXXXXX

magrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang turun sangat pelahan dari nun di sana, bersijingkat di jalan kecil itu, menyusup di celah-celah jendela dan pintu, dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku

 

Date:03/06/2008

Time:19:50

From: +6281XXXXXXXX

Romantis nian say… Hehehe…

 

Date:03/06/2008

Time:19:30

To : +6281XXXXXXXX

aku mencintaimu, itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu

***

Setiba Aa di rumah, udara yang lembab karena hujan sore tadi menyusup lewat jendela kamar yang separuh terbuka. Kubawakan secangkir teh panas, menghangatkan malam.

“Terimakasih, say” ucapnya tulus ketika kuangsurkan cangkir itu di atas meja di sisi Aa. Sebuah pelukan dan kecupan mendarat di pipiku. “Eh iya, tadi romantis amat kirim-kirim puisi” aa mengerling, menggodaku.

Aku langsung bersemangat!

“Iya A, adik mau bacain puisi buat Aa. Dengerin yaaa…”

“Boleh”

Aku beranjak, mengambil buku bersampul hitam. Dengan lembut bak membuka kitab berharga kubuka halaman seratus. Bergaya bak sastrawan, kutarik nafas mulai membacakan sajak.

Dalam Doaku

dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening karena akan menerima suara-suara

ketika matahari mengambang tenang di atas kepala, dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya mengajukan pertanyaan muskil kepada angin yang mendesau entah dari mana dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis, yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan terbang lalu hinggap di dahan mangga itu

magrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang turun sangat pelahan dari nun di sana, bersijingkat di jalan kecil itu, menyusup di celah-celah jendela dan pintu, dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku

dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku, yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi bagi kehidupanku

aku mencintaimu, itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu

***

Anggun kuakhiri sajak, terasa seperti aku membacakan sajak yang telah bertahun-tahun terpahat waktu dalam hatiku. Kuangkat wajahku dan langsung menatap mata Aa. Matanya berbinar dengan senyum terindah yang takkan bisa aku lupakan.

Ketika Aa membuka mulut, aku hampir tidak bisa menebak apa yang akan dia ucapkan.

“Oo… jadi puisi yang dikirim ke Aa tadi contekan dari buku ya? He he he. Kalau gitu sih Aa juga bisa”

Gubrakkkzzz!

“Hiyaaaaaaaaaaaaaah…! Ah, Aa payah deh! itu mah nggak usah di bahas! Ngerusak momen romantis aja. Adik kan jadi malu…”

Aku langsung menghambur ke pelukannya, menyurukkan kepalaku di dada aa, sambil jemariku mencubiti pinggangnya!

“Ha ha ha ha…, iya…iya… ampun, jangan dicubit. Ha ha ha”

Wajahku merah padam, menahan malu.

“Hi hi hi, iya A. Ning kan nggak bisa nulis puisi, makanya kemarin pas lihat ada kumpulan puisi di toko buku, Ning beli deh…”

“Iya…iya…, nggak pa pa kok”

“Tapi puisinya bagus, kan?”

“Bagus dong!”

“Pokoknya mah Ai Lop Yu”

“Iya, Ai Lop Yu Tu”