Sudah kuceritakankah padamu, kalau aku sedang jatuh cinta pada puisi?
Jadi pada ujung hari itu, ketika langit malam belum sempurna memeluk senja, aku bergelung di sofa empuk di ruang keluarga, tersihir sebuah buku sepilihan sajak.
Pada beberapa halaman aku berhenti cukup lama, mengulang kata demi kata, mengecap nikmat rangkaian kalimat.
Aku teringat pada aa, kekasih hatiku yang sedang berkutat di balik meja kerjanya, ingin aku menyuguhkan sepotong puisi di samping cangkir kopi yang tinggal separuh.
Date:03/06/2008
Time:19:30
To : +6281XXXXXXXX
magrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang turun sangat pelahan dari nun di sana, bersijingkat di jalan kecil itu, menyusup di celah-celah jendela dan pintu, dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku
Date:03/06/2008
Time:19:50
From: +6281XXXXXXXX
Romantis nian say… Hehehe…
Date:03/06/2008
Time:19:30
To : +6281XXXXXXXX
aku mencintaimu, itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu
***
Setiba Aa di rumah, udara yang lembab karena hujan sore tadi menyusup lewat jendela kamar yang separuh terbuka. Kubawakan secangkir teh panas, menghangatkan malam.
“Terimakasih, say” ucapnya tulus ketika kuangsurkan cangkir itu di atas meja di sisi Aa. Sebuah pelukan dan kecupan mendarat di pipiku. “Eh iya, tadi romantis amat kirim-kirim puisi” aa mengerling, menggodaku.
Aku langsung bersemangat!
“Iya A, adik mau bacain puisi buat Aa. Dengerin yaaa…”
“Boleh”
Aku beranjak, mengambil buku bersampul hitam. Dengan lembut bak membuka kitab berharga kubuka halaman seratus. Bergaya bak sastrawan, kutarik nafas mulai membacakan sajak.
Dalam Doaku
dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening karena akan menerima suara-suara
ketika matahari mengambang tenang di atas kepala, dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya mengajukan pertanyaan muskil kepada angin yang mendesau entah dari mana dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis, yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan terbang lalu hinggap di dahan mangga itu
magrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang turun sangat pelahan dari nun di sana, bersijingkat di jalan kecil itu, menyusup di celah-celah jendela dan pintu, dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku
dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku, yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi bagi kehidupanku
aku mencintaimu, itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu
***
Anggun kuakhiri sajak, terasa seperti aku membacakan sajak yang telah bertahun-tahun terpahat waktu dalam hatiku. Kuangkat wajahku dan langsung menatap mata Aa. Matanya berbinar dengan senyum terindah yang takkan bisa aku lupakan.
Ketika Aa membuka mulut, aku hampir tidak bisa menebak apa yang akan dia ucapkan.
“Oo… jadi puisi yang dikirim ke Aa tadi contekan dari buku ya? He he he. Kalau gitu sih Aa juga bisa”
Gubrakkkzzz!
“Hiyaaaaaaaaaaaaaah…! Ah, Aa payah deh! itu mah nggak usah di bahas! Ngerusak momen romantis aja. Adik kan jadi malu…”
Aku langsung menghambur ke pelukannya, menyurukkan kepalaku di dada aa, sambil jemariku mencubiti pinggangnya!
“Ha ha ha ha…, iya…iya… ampun, jangan dicubit. Ha ha ha”
Wajahku merah padam, menahan malu.
“Hi hi hi, iya A. Ning kan nggak bisa nulis puisi, makanya kemarin pas lihat ada kumpulan puisi di toko buku, Ning beli deh…”
“Iya…iya…, nggak pa pa kok”
“Tapi puisinya bagus, kan?”
“Bagus dong!”
“Pokoknya mah Ai Lop Yu”
“Iya, Ai Lop Yu Tu”
Kamis, Juni 5, 2008 at 5:03 am
hihi..mestinya jangan dikasih tau ning kalo itu jiplakan haha
tapi ning pasti bisa deh bikin puisi, kata2 di blognya aja puitis begini
Kamis, Juni 5, 2008 at 6:15 am
:d aku bisa merasakan apa yg mbak Ning rasakan
heheheh
Kamis, Juni 5, 2008 at 10:19 am
Dek..tanpa berpuisi-pun kamu kayanya sdh romantis deh..
Kamis, Juni 5, 2008 at 4:37 pm
salm… gedubrak itu apaan yahhh
Jumat, Juni 6, 2008 at 4:37 am
kalo aku dibacain puisi langsung tidur, hehehe
bener tuh, kayana mbak ning pun tanpa puisi2an dah romantis
Sabtu, Juni 7, 2008 at 9:11 am
hahaha…gak bisa nulis puisi? Bused ini tulisan panjang dengan kalimat romantis selalu ada disini koq..
masa gak bisa nulis puisi?
Bisanya merendah saja kau, Jeung!
Sabtu, Juni 7, 2008 at 4:18 pm
@ Pucca : He he he, aku pengen bacain puisi itu secara lengkap, Vi. Tapi aku nggak bisa hafal
ketauan deh contekannya.
@ bnicebfriend : rasanya pengin gedubrak ya?
@ Vie@Ta : Ha ha ha, mungkin iya, tapi nggak puitis
@ zoel chaniago : Gedubrak itu bunyi kalau kamu jatuh pingsan di atas lantai kayu
@ SiMunGiL : beneran, mba! sumpeh! mau ngajarin?