
Bangkit itu Susah …
Susah melihat orang lain susah
Senang melihat orang lain senang
Bangkit itu Takut …
Takut untuk korupsi
Takut untuk makan yang bukan haknya
Bangkit itu Malu …
Malu menjadi benalu
Malu minta melulu
Bangkit itu Marah …
Marah bila martabat bangsa dilecehkan
Bangkit itu Mencuri …
Mencuri perhatian dunia dengan prestasi
Bangkit itu Tidak ada …
Tidak ada kata menyerah
Tidak ada kata putus asa
Bangkit itu aku…
Aku untuk Indonesiaku
Aku sudah lupa kapan terakhir kalinya bangga menjadi bangsa Indonesia. Sudah lupa juga kapan terakhir kalinya hari merasa haru mendengar kumandang lagu kebangsaan.
Namun, puisi yang dituturkan oleh Dedi Mizwar dengan segenap rasa dan emosi jiwa ini mampu membuatku bergetar, membuat mata ini berkaca-kaca.
Tentu, bangkit tidak hanya sekedar itu.
***
“Kenapa ya di hari kebangkitan nasional ini kita justru kehilangan orang-orang yang justru gigih untuk bangkit? Sophan Sofyan, SK Trimurti, Bang Ali Sadikin
“
“…”
“Apa mungkin itu pertanda alam?”
“…”
Selasa, Juni 3, 2008 at 8:05 am
yang jelas sih dua diantaranya memang sudah tua ning..hehehe…but it was indeed a good poem
Rabu, Juni 4, 2008 at 3:08 am
@ Robyn : he he he, iya sih. Tapi kok pas gitu ya rob?
Betul, Rob…meski udah berulang-ulang melihat dan mendengarnya dari TV, aku masih merinding.