two-business-colleagues ~1090010Aa kerap “menyeludupkan” aku di kantornya. Saat-saat ia harus overtime ia memintaku untuk menemaninya atau ketika kadang beban pekerjaan menuntutnya untuk bekerja di hari libur, aku akan diajak.

Bagiku, melihat Aa bekerja di kantor merupakan hal utama yang membuat empatiku tumbuh.

Dulu, aku masih sering mengeluh dengan wajah tertekuk ketika aa pulang larut, aku masih sering komplain karena minimnya waktu buatku. Aa bagai terong ungu segar ketika berangkat kantor, kinclong mengilat. Tapi begitu tiba dirumah sosoknya tak ubah seperti terong goreng, letoy dan lembek. Awalnya aku sering bertanya-tanya, monster seperti apa yang dia hadapi di kantor, yang mampu menguras habis tenaga dan kegagahannya tadi pagi.

Tapi setelah aku menyaksikan langsung bagaimana Aa bekerja, aku melihat tumpukan pekerjaan di atas mejanya, aku melihat caranya mengkoordinasikan pekerjaan dengan para staf, aku melihat Aa menjelma menjadi sosok yang berbeda dengan Aa yang kukenal sehari-hari. Saat itu aku baru bisa mengatakan, “Oh, aku paham…”

Aku paham mengapa ia memilih tidak “menggunakan otaknya” ketika berada di rumah, karena selama di kantor otaknya bekerja keras memeras ide dan mencari solusi atas permasalahan-permasalah kantor yang terjadi.

Aku paham mengapa ia menjadi “sosok pemalas” di rumah, manja, dan enggan melakukan apa-apa. Sebab di kantor energinya sudah terkuras. Di kantor ia harus siap menjadi orang yang disuruh-ini-suruh-itu oleh para bos dan petinggi-petinggi kantor, harus begini-harus-begitu, hanya di rumah ia bisa menjadi “Raja” sesungguhnya, kerajaan tempat ia mendapatkan segala sesuatu tanpa menarik urat leher.

Aku paham mengapa setiba dirumah ia lebih banyak diam, karena di kantor ia harus banyak bicara, memimpin rapat, mendelegasikan tugas, mengkoordinasikan pekerjaan, memberikan arahan, dll. Hanya di rumah ia mendapatkan apa yang dia inginkan tanpa menggerus pita suara.

Aku paham mengapa ketika jam-jam kantor Aa jarang membalas sms-ku, aku paham mengapa pada waktu-waktu tertentu panggilanku hanya masuk dalam daftar misscall di menu Register HP-nya, sebab di kantor ada puluhan panggilan yang harus dia hadapi setiap harinya.

Aku paham dan legowo ketika menjadi prioritas ke sekian bila diurutkan di antara pekerjaannya. Aku juga paham ketika aa mengharap ia bisa mendapat prioritas utama dariku.

Dari melihat, merasa, mengerti aku memahami keterbatasan yang aa rasakan dan itu menumbuhkan empati untuk tidak banyak tuntutan. Aku percaya, andai ada orang yang ingin ia bahagiakan selain keluarganya, itu adalah aku. Dan andai ada orang yang ingin aku bahagiakan selain keluargaku, itu adalah Aa.