Aa kerap “menyeludupkan” aku di kantornya. Saat-saat ia harus overtime ia memintaku untuk menemaninya atau ketika kadang beban pekerjaan menuntutnya untuk bekerja di hari libur, aku akan diajak.
Bagiku, melihat Aa bekerja di kantor merupakan hal utama yang membuat empatiku tumbuh.
Dulu, aku masih sering mengeluh dengan wajah tertekuk ketika aa pulang larut, aku masih sering komplain karena minimnya waktu buatku. Aa bagai terong ungu segar ketika berangkat kantor, kinclong mengilat. Tapi begitu tiba dirumah sosoknya tak ubah seperti terong goreng, letoy dan lembek. Awalnya aku sering bertanya-tanya, monster seperti apa yang dia hadapi di kantor, yang mampu menguras habis tenaga dan kegagahannya tadi pagi.
Tapi setelah aku menyaksikan langsung bagaimana Aa bekerja, aku melihat tumpukan pekerjaan di atas mejanya, aku melihat caranya mengkoordinasikan pekerjaan dengan para staf, aku melihat Aa menjelma menjadi sosok yang berbeda dengan Aa yang kukenal sehari-hari. Saat itu aku baru bisa mengatakan, “Oh, aku paham…”
Aku paham mengapa ia memilih tidak “menggunakan otaknya” ketika berada di rumah, karena selama di kantor otaknya bekerja keras memeras ide dan mencari solusi atas permasalahan-permasalah kantor yang terjadi.
Aku paham mengapa ia menjadi “sosok pemalas” di rumah, manja, dan enggan melakukan apa-apa. Sebab di kantor energinya sudah terkuras. Di kantor ia harus siap menjadi orang yang disuruh-ini-suruh-itu oleh para bos dan petinggi-petinggi kantor, harus begini-harus-begitu, hanya di rumah ia bisa menjadi “Raja” sesungguhnya, kerajaan tempat ia mendapatkan segala sesuatu tanpa menarik urat leher.
Aku paham mengapa setiba dirumah ia lebih banyak diam, karena di kantor ia harus banyak bicara, memimpin rapat, mendelegasikan tugas, mengkoordinasikan pekerjaan, memberikan arahan, dll. Hanya di rumah ia mendapatkan apa yang dia inginkan tanpa menggerus pita suara.
Aku paham mengapa ketika jam-jam kantor Aa jarang membalas sms-ku, aku paham mengapa pada waktu-waktu tertentu panggilanku hanya masuk dalam daftar misscall di menu Register HP-nya, sebab di kantor ada puluhan panggilan yang harus dia hadapi setiap harinya.
Aku paham dan legowo ketika menjadi prioritas ke sekian bila diurutkan di antara pekerjaannya. Aku juga paham ketika aa mengharap ia bisa mendapat prioritas utama dariku.
Dari melihat, merasa, mengerti aku memahami keterbatasan yang aa rasakan dan itu menumbuhkan empati untuk tidak banyak tuntutan. Aku percaya, andai ada orang yang ingin ia bahagiakan selain keluarganya, itu adalah aku. Dan andai ada orang yang ingin aku bahagiakan selain keluargaku, itu adalah Aa.
Kamis, Mei 15, 2008 at 9:11 am
speechless…
so sweet and wise
Kamis, Mei 15, 2008 at 9:22 am
aroma cinta ada dimana-mana
Kamis, Mei 15, 2008 at 10:00 am
iya ya, susah pasti menjadi orang yang sibuk. tp lebih susah lagi menjadi istri orang sibuk.
terus bijaksana ya ning
Kamis, Mei 15, 2008 at 1:40 pm
@ ulfa : Terimakasih, Ulfa.
@ lutfi : Aroma terapi
@ Pucca : Untungnya Ning gak sesibuk Aa. Kalau sama-sama sibuk mungkin rumah hanya jadi tempat persinggahan.
Kamis, Mei 15, 2008 at 1:50 pm
makasih, ning. tulisanmu bikin aku ketampar, pas banget. belakangan aku suka rewel kalo dia lupa bales sms atau susah dihubungi karena sibuk, sibuk, sibuk. ternyata memang bener ya, kita perempuan2 harus berlatih mengasah empati biar gak jadi istri atau pacar yang bawel.
Kamis, Mei 15, 2008 at 3:06 pm
@ mbok venus : ini juga buat menampar diriku sendiri mbok
kalau besok-besok aku rewel lagi hi hi hi
Kamis, Mei 15, 2008 at 11:48 pm
akh, aku cuman menikmati kalimat terakhirnya, begitu romantis euy…
Aku percaya, andai ada orang yang ingin ia bahagiakan selain keluarganya, itu adalah aku. Dan andai ada orang yang ingin aku bahagiakan selain keluargaku, itu adalah Aa.
Jumat, Mei 16, 2008 at 11:47 am
tidak salah lagi dapat diploma “the best girlfriend in the world” hahaha..
Sabtu, Mei 17, 2008 at 9:04 am
andai aja semua begitu ehm…damai deh dunia,kagak ada ribut ribut.Tapi kalo ngga ada ribur ribut kecil,sepi juga ya hehehehe.Lam kenal ya mbak…
Sabtu, Mei 17, 2008 at 12:36 pm
Mbak, jangan sampai pekerjaan itu “menelannya”.
Sabtu, Mei 17, 2008 at 8:27 pm
ning, aku masukkan ke daftar temenku, boleh ga?
Senin, Mei 19, 2008 at 3:12 am
Memahami dan mempercayai pasangan, dua kata yang telah ada pada dirimu, Dek Ning. Hmmm…salut buatmu!
Senin, Mei 19, 2008 at 3:38 am
@ Raffaell : Ya, itu intinya
@ LUNE : Ha ha ha, harusnya sekarang gelarnya diupgrade tuh
@ mysunflower : salam kenal kembali
@ goldfriend : Iya, mas fertob. Nanti aku ingetin lagi
thanks.
@ vita : Dengan senang hati, tentu boleh banget
@ Bunda Echa : Terimakasih, Mba
Senin, Mei 19, 2008 at 11:17 am
Untuk Orang Yang SUper Sibuk…
Menjadi orang super sibuk di kantor adalah tanggung jawab…
Menjadi orang super males dan manja di rumah adalah kenikmatan….