“Dik, rokok aa habis nih. Besok beliin ya, Yang…” rayu aa. Humm kasihku ini akan manis sekali kalau merayu meminta dibelikan rokok. Sengaja aku yang menyiapkan rokoknya, sekalian mengontrol. Tapi sejujurnya dalam hatiku berontak, rasanya seperti menyiapkan stok racun berkedok cantik yang diam-diam membunuhnya. Arrggghhh…
Aku beranjak ke lemari yang berisi stok keperluan rumah tangga kami, tempatku menyimpan beberapa bungkus cadangan rokok aa. Sedikit berjinjit aku menggapainya dari rak tertinggi. Sengaja kusimpan rapi dan tersembunyi agar tidak mudah ditemukan aa.
Saat kusodorkan ke tangan aa, senyumnya mengembang, seperti bolu panas yang baru diangkat dari loyang.
“Terimakasih, sweeatheart…” matanya mengedip genit. Aih, rayuannya! Ia tahu banget aku tidak suka rokok.
Aku masih diam. Kata-kata ku tertahan oleh resah oleh ingatanku pada bahaya rokok. Mungkin ini waktu yang tepat untuk mengingatkan Aa (lagi).
Kusandarkan kepalaku ke lengan Aa, tangan kiriku mengelus dadanya, tubuhnya hanya terbungus kaos tipis. Kubisikkan kata selembut bulu angsa, “Sayang…”
“Hmm…iya”
“Rokoknya dikurangin dong…”. Kuucapkan kalimat ini pelan-pelan, seolah kalimat mantra yang akan menghamburkan isi nampan. Tapi nyatanya begitulah. Setiap orang memiliki hal-hal yang “bikin sensi” untuk dibicarakan. Buat aa, salah satunya adalah masalah rokok.
“Oh iya, dikurangin kok. Hehehe…Beneran. Cuma sebungkus sehari” ia mengelak, tapi tetap dengan nada jenaka. Huuff… aku menarik nafas lega. Sepertinya waktunya cukup tepat, jadi aku beranikan diri lagi.
“Iya, dikurangin lagi…” aku berbisik, mulai mendekatkan wajahku ke lehernya. Untuk hal ini aku nggak mau adu argumentasi, toh soal resiko ia sudah tau benar itu.
“Sudah, sudah dikurangin kok. Lihat deh, Aa kan ngisepnya nggak banyak-banyak, apalagi kalo lagi diciumin mana bisa merokok, he he he”
Secepat kilat otakku berkerja!
Langsung kunaikkan wajahku, menempelkan bibir dan hidung di pipi aa, menekan wajahnya.
“Adik mau nyiumin Aa seharian asal nggak usah merokok!” kataku dengan nada serius.
“Hoo…hooo…hooo…haa ha ha”
Aku diam.
“Ha ha ha ha” Aa tertawa dan mulai gelagapan.
Aku bergeming. Bertahan mencium pipinya lekat-lekat. Asal tidak usah merokok, menciumnya semalaman pun aku jabanin. Tapi sayang, posisiku kurang menguntungkan, aku kesusahan bernafas karena lobang hidungku tertutup oleh pipi aa.
Aku mulai ngos-ngosan. Aa masih terkekeh!
“Hei hei…jangan ngences di pipi aa dong, ha ha ha”
Aku mulai tak tahan, kulonggarkan bekapanku hingga lepas, seiring lepasnya tawa yang kutahan sejak tadi.
***
Meski aku tahu rokok tidak baik buat aa, tapi bukan berarti aku harus bawel menceramahinnya saban hari. Bisa-bisa dia makin stres dan malah merokok lebih banyak lagi
. Aku ingin kesadaran itu lahir dari hati dan keinginan aa. Aku hanya berdoa semoga tidak terlambat. Tidak sampai racun-racun rokok itu menyiksanya.
Setidaknya, saat ini aku berusaha memenuhi kebutuhan gizi aa lewat pola makan sehat serta menyediakan vitamin yang bisa mengurangi efek buruk rokok yang ia hisap setiap hari.
Aku akan menantikan hari di mana aa menagih berapapun ciuman yang ia mau untuk setiap rokok yang dia tinggalkan.
Selasa, Mei 13, 2008 at 1:57 am
hahahaha.. cara yang kocak meskipun kurang manjur :p
Selasa, Mei 13, 2008 at 10:34 am
salah satu caranya: boleh ngrokok asal ga pake api…bisa awet tuh mbak rokoknya
Selasa, Mei 13, 2008 at 5:56 pm
suami saya juga kalo disuruh berhenti dai bilang…
“iya aku udah beehenti kok… BERHNETI BELI…” (ya iyalah… yang beliin khan supir, hehehe)
atau kadang kalo aku bilang kurangin dech rokoknya kalo gak bisa berhenti… dia bilang,
“Udah kok… aku udah ngurangin rokok temen”, lalu tersenyum lebar…
PAdahal saya dan anak alergy rokok. Dokter kami bialng bapak kalo mo ngerokok mesti KELUAR…
Suami saya, “KELUAR RUMAH DOK???”
Dokter, “Bukan, KELUAR KOTA”… hehehe..
Rabu, Mei 14, 2008 at 12:44 am
[...] cerita2 blognya teman2: ada yg laporan tentang Festival Jajanan Bango, digoda om-om juga ada, kisah cinta pun juga banyak. Mulai dari yang serius, jayus, gokil dan duarius juga ada. Rame rasanya *kayak [...]
Rabu, Mei 14, 2008 at 4:26 am
@ Sisi : Hue he he, yah…dibikin bahagia aja
dari pada dipaksa-paksa malah bikin masalah.
@ lutfi : Diemut gitu rokoknya?
@ Silly : Hua ha ha ha… suami mba silly bodor juga ya!
Rabu, Mei 14, 2008 at 2:31 pm
haha..dulu david juga ngerokok ning.
tapi waktu pacaran udah gua suruh stop. sampe skarang sih masih blom kambuh ya, udah gak ngerokok lagi. mudah2an sampe nanti2.
kalo udah kawin baru gua suruh stop mah udah terlambat, psti dicuekin, tapi waktu pacaran kan masih ada bargaining power kitanya haha
Rabu, Mei 14, 2008 at 7:04 pm
betul mbak lebih baik dengan kesadaran dari diri sendiri . Daripada dikerasi,mungkin aa nya tidak merokok didepan mbak, tapi kalo diluar ngerokoknya buaanyak
Kamis, Mei 15, 2008 at 12:56 pm
@ Pucca : Iya juga… kok aku nggak kepikiran gitu ya? hi hi hi.
@ regsa : Betul! itu yang ning gak mau. Aa malah kalau di luar rokoknya nggak begitu banyak.
Jumat, Mei 16, 2008 at 11:17 pm
Ning, kocak juga cara kamu, mana tahaaaan!
Senin, Mei 19, 2008 at 4:00 am
@ Sinyo : Hi hi hi
Senin, Mei 19, 2008 at 4:40 pm
air saja sanggup membuat lubang di batu, lanjutkan ning!
Sabtu, Juni 28, 2008 at 12:34 pm
hu huiii lucu banget sampai gigiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii kita kelihatan semua