girl-kissing-boy ~bn247016“Dik, rokok aa habis nih. Besok beliin ya, Yang…” rayu aa. Humm kasihku ini akan manis sekali kalau merayu meminta dibelikan rokok. Sengaja aku yang menyiapkan rokoknya, sekalian mengontrol. Tapi sejujurnya dalam hatiku berontak, rasanya seperti menyiapkan stok racun berkedok cantik yang diam-diam membunuhnya. Arrggghhh…

Aku beranjak ke lemari yang berisi stok keperluan rumah tangga kami, tempatku menyimpan beberapa bungkus cadangan rokok aa. Sedikit berjinjit aku menggapainya dari rak tertinggi. Sengaja kusimpan rapi dan tersembunyi agar tidak mudah ditemukan aa.

Saat kusodorkan ke tangan aa, senyumnya mengembang, seperti bolu panas yang baru diangkat dari loyang.

“Terimakasih, sweeatheart…” matanya mengedip genit. Aih, rayuannya! Ia tahu banget aku tidak suka rokok.

Aku masih diam. Kata-kata ku tertahan oleh resah oleh ingatanku pada bahaya rokok. Mungkin ini waktu yang tepat untuk mengingatkan Aa (lagi).

Kusandarkan kepalaku ke lengan Aa, tangan kiriku mengelus dadanya, tubuhnya hanya terbungus kaos tipis. Kubisikkan kata selembut bulu angsa, “Sayang…”

“Hmm…iya”

“Rokoknya dikurangin dong…”. Kuucapkan kalimat ini pelan-pelan, seolah kalimat mantra yang akan menghamburkan isi nampan. Tapi nyatanya begitulah. Setiap orang memiliki hal-hal yang “bikin sensi” untuk dibicarakan. Buat aa, salah satunya adalah masalah rokok.

“Oh iya, dikurangin kok. Hehehe…Beneran. Cuma sebungkus sehari” ia mengelak, tapi tetap dengan nada jenaka. Huuff… aku menarik nafas lega. Sepertinya waktunya cukup tepat, jadi aku beranikan diri lagi.

“Iya, dikurangin lagi…” aku berbisik, mulai mendekatkan wajahku ke lehernya. Untuk hal ini aku nggak mau adu argumentasi, toh soal resiko ia sudah tau benar itu.

“Sudah, sudah dikurangin kok. Lihat deh, Aa kan ngisepnya nggak banyak-banyak, apalagi kalo lagi diciumin mana bisa merokok, he he he”

Secepat kilat otakku berkerja!

Langsung kunaikkan wajahku, menempelkan bibir dan hidung di pipi aa, menekan wajahnya.

“Adik mau nyiumin Aa seharian asal nggak usah merokok!” kataku dengan nada serius.

“Hoo…hooo…hooo…haa ha ha”

Aku diam.

“Ha ha ha ha” Aa tertawa dan mulai gelagapan.

Aku bergeming. Bertahan mencium pipinya lekat-lekat. Asal tidak usah merokok, menciumnya semalaman pun aku jabanin. Tapi sayang, posisiku kurang menguntungkan, aku kesusahan bernafas karena lobang hidungku tertutup oleh pipi aa.

Aku mulai ngos-ngosan. Aa masih terkekeh!

“Hei hei…jangan ngences di pipi aa dong, ha ha ha”

Aku mulai tak tahan, kulonggarkan bekapanku hingga lepas, seiring lepasnya tawa yang kutahan sejak tadi.

***

Meski aku tahu rokok tidak baik buat aa, tapi bukan berarti aku harus bawel menceramahinnya saban hari. Bisa-bisa dia makin stres dan malah merokok lebih banyak lagi :( . Aku ingin kesadaran itu lahir dari hati dan keinginan aa. Aku hanya berdoa semoga tidak terlambat. Tidak sampai racun-racun rokok itu menyiksanya.

Setidaknya, saat ini aku berusaha memenuhi kebutuhan gizi aa lewat pola makan sehat serta menyediakan vitamin yang bisa mengurangi efek buruk rokok yang ia hisap setiap hari.

Aku akan menantikan hari di mana aa menagih berapapun ciuman yang ia mau untuk setiap rokok yang dia tinggalkan.