man-woman-driving ~200166972-001Mungkin aku kurang bersyukur, dibandingkan Dia yang Tidak Peduli akan Naiknya Harga BBM, itu. Belum lagi BBM naik hatiku sudah diliputi gundah. Informasi rencana kenaikan tol juga ikut menghantui.

“Aa…, aduuh gimana nanti kalau tolnya naik padahal besok-besok kita akan setiap hari akan melewati tol?” rutukku, sesaat setelah membayar tol. Rasanya baru kemarin tol naik, dari 4500 ke 5500. Lebih mahal dari dari seliter bensin. Kalau asumsi kenaikannya sama seperti kemarin, berarti tol dalam kota bisa mencapai 6500.

Mungkin tak pantas aku mengeluh. Toh mengeluh saja tidak menyelesaikan persoalan. Tapi membayangkan semakin sulitnya mengatur dan mengendalikan ekonomi rumah tangga bikin aku uring-uringan.

Setelah mobil melaju tenang, aa tertawa kecil. Aa lalu mengangkat lengan kirinya dari persneling, naik ke kepalaku dan mengacak-acak rambutku.

“Kok ketawa sih?”

“Nggak usah cemberut. Nanti juga ada rejekinya sendiri, sayang…”

Degh!

Aku menelan ludah. Duuh, urusan begini sering luput dari ingatanku. Tertumpuk oleh hal-hal yang dirutuki, terlupa kalau berkat Tuhan tak bisa dihitung dengan jari.

“Dulu, sebelum kita memutuskan punya mobil, ada ketakutan juga kalau-kalau kita tidak bisa membeli bensinnya” kata aa mengingatkan. Aku mengangguk.

“Tapi ternyata, Tuhan sangat baik. Belum pernah kan mobil kita nggak terisi bensin.” Ujar Aa.

“Iya sih, A” aku membenarkan ucapan aa.

“Nah, kalau begitu, nanti kalau harga bensin naik, tol juga naik, Tuhan pasti akan menaikkan rejeki kita. Entah bagaimana caranya. Yang penting terus berusaha.”

Aku mengangguk, terdiam meresapi ucapan Aa.

***

“Nah, kita sudah sampai. Kita cukup di sini saja ya” kata aa menyadarkanku dari lamunan.

Aa menghentikan mobil di ujung jalan areal apartemen yang mulai menjulang tinggi. Mesin-mesin menderu dari kejauhan, tower crane berputar pelan di ketinggian.

“Aa, kita masuk aja yuk” ajakku.

“Buat apa?”

“Aku pengen berdoa, di halaman rumah kita.”

Aa tersenyum, mengangguk.