Kemarin aku menerima sebuah amplop yang ditujukan pada Aa, dari perusahaan reksadana.
Setelah menimbang-nimbang beberapa saat, amplop tersebut langsung aku buka, siapa tau penting. Aku selalu berusaha menjaga privasi Aa, aku tidak akan berani membuka-buka amplop personalnya. Bahkan lembar tagihan kartu kredit kalau tidak aa yang nyuruh tidak akan kubuka, padahal setiap bulan aku yang bertugas melakukan proses pembayarannya lewat internet banking.
Kusobek ujung amplop serta mengeluarkan isinya. Ternyata isinya formulir kesediaan pengalihan unit investasi. Tanggal validnya tinggal dua hari, nanti malam akan aku obrolin dengan aa.
***
“Aa, tadi ada surat dari PT Anu, ngirimin formulir pengalihan investasi,” Aku memulai pembiacaraan saat aa sudah terlihat santai dan rileks sepulang kerja. “Kalau tidak ditanggapi hingga batas waktunya maka pengalihannya akan dilakukan secara otomatis” aku mengulang informasi yang telah kubaca sebelumnya.
“Oh. Begitu…hmm” gumam Aa sambil mengetok kotak rokoknya.
“Nanti Aa telepon langsung aja ke perusahaannya, tanya detail lengkapnya gimana”. Aku menyampaikan saran yang paling praktis, sebab aku tahu aa tidak akan punya waktu untuk mondar-mandir mengurusnya.
“Sepertinya dik, kalau dialihkan ke unit lain hanya akan bisa dicairkan kalau nilai investasinya sekian juta, sementara nilai unit yang sekarang aja belum seberapa. Gimana ya, dik. Apa kita carikan saja ya?”
“Jangan dicairin A…,” sergahku. “Itung-itung tabungan buat masa depan. Ndak pa pa tho? Ning inget tulisan di majalah yang Aa beli kemarin yang mengingatkan, Berinvestasilah kamu saat ini agar tidak gigit jari saat orang lain sedang menikmati hasilnya”.
Aa terdiam.
“Dik…,” panggil Aa, ia menepuk-nepuk lantai di sampingnya, memintaku datang dan duduk mendekat di sisinya.
“Iya A?”
“Iya betul juga, itu biar diterusin aja. Tapi aa pikir kita sekarang juga sedang fokus pada investasi yang jauh lebih penting dan lebih besar.”
“Oh ya? investasi yang mana A?”
“Investasi pada Tuhan lewat Pa dan Ma, investasi kebaikan. Aa pikir itu nilainya jauh lebih besar, sebuah berkat yang tidak terjangkau angka nilai nominalnya. Nggak apa-apa kan dik?”
Aku menggeser tubuhku, menghadap aa, aku ingin menatap wajah seseorang yang setiap hari membuat pohon cintaku tumbuh semakin besar, rimbun dan meneduhkan.
Kutatap matanya, dengan mantap aku menjawab, “Itu investasi terbaik yang pernah adik dengar”.
Aa tersenyum, mengerjap dan menarikku ke dalam pelukannya. “Terimakasih ya sayang, untuk selalu mendukung Aa” bisiknya lirih di telingaku.
Kupejamkan mataku menikmati hangat pelukan kasih sayangnya, seiring ucapan syukur yang bergema dalam hati, Terimakasih Tuhan… terimakasih… terimakasih untuk setiap nikmat dan berkat yang Kau beri. Aku tidak pernah ragu, kalau ROI (return on investment) dari Tuhan kalkulasinya di luar kalkulator manusia dan harta yang terbaik bukan yang terkurung di lumbung sendiri, tapi yang menyebarkan berkat buat orang lain.
Jumat, Mei 9, 2008 at 8:34 am
Ah ning, senengnya deh baca postingan ini. Aa’ mu emang baek banget ya…investasi tetep penting kok, tapi memang bener investasi dari Allah jauh lebih besar hasilnya. Amiiin
Jumat, Mei 9, 2008 at 1:14 pm
Betul sekali mbak, investasi kebaikan memang tak terhitung nilainya, sayangnya ukuran dunia ini menggunakan ukuran nominal uang.
Menurut saya kedua investasi itu sama penting, membuat kita sejahtera di dunia juga di akhirat nanti.
Jumat, Mei 9, 2008 at 1:55 pm
bener ya. membahagiakan orang tua pasti tidak akan salah deh ning
berkatnya akan menentramkan hati lebih dari berapapun unit di reksadana
Sabtu, Mei 10, 2008 at 2:37 am
Hm, selalu bertabur rasa syukur yg indah tiap dateng kemari.
Kek baru kemaren, pertama kali nemu embun di pucuk kemuning.
Selasa, Mei 13, 2008 at 6:23 pm
Ahhh… si AA memang bijaksana ya ning..
Rabu, Mei 14, 2008 at 4:21 am
@ ocha : Amiin… iya jeung, aku belajar banyak dari Aa.
@ kabarihari : Setuju mas
puji syukur udah mulai berinvestasi untuk dunia. Kadang aku dan aa hanya fokus pada salah satunya, tapi dengan begini kami saling mengingatkan.
@ Pucca : Berkat dan bahagia itu yang tidak terbeli dengan mata uang apapun
@ nesia : Hanya berusaha terus belajar, Bang
kata Aa kalau sering besyukur berkatNYA akan bertambah he he he
@ Silly : Iya mbak, ning merasa sangat beruntung menjadi perempuan yang dipilih Aa untuk mendampingi hidupnya
Rabu, Mei 21, 2008 at 7:08 am
Benar …
Buah keberkahan jauh lebih besar daripada RoI dengan bunga berapa persen pun. that’s uncountable
Rabu, Mei 21, 2008 at 11:41 am
Aku juga terus berusaha menjalani bagaimana menyeimbangkan antara investasi dunia dan akhirat.
Selasa, November 18, 2008 at 12:53 pm
memang benar mbak. investasi akhirat ngga pernah ada ruginya koq.Lam kenal ya..