ve-got-idea ~bxp27294Siang ini, beberapa baris offline message muncul di layar hp-ku.

Pesan pertama :

“mbak ning selama bertahun-tahun ma Aa, pernah kepikiran mo pisah ma aa karena sesuatu ngga?”

Pesan kedua :

pernah nggak ngerasa klo mbak ning itu bukan pasangan yang tepat buat Aa?”

Pada baris terakhir, xxxxxx (nama temanku itu) just signed off and has left the conversation.

Hm, berarti tidak perlu tergesa-gesa menjawabnya.

Pertanyaan ini membawa pikiranku mengembara menelusuri kembali jejak tikungan-tikungan kehidupan beserta ceruk-ceruk terdalam, tempat aku menjejalkan berbagai rahasia. Rahasia rasa dan pikiran-pikiran tersembunyi dengan sulaman label “pikiran ketakutan” dan “kegamangan”.

Ketika kulongokkan kepala pada sebuah ceruk, kulihat betapa banyak pikiran-pikiran yang tidak keruan bertebaran di sana. Aneka warna seperti potongan-potongan perca berjejalan. Dari yang bunga-bunga, lurik-lurik, zig-zag, polos, dan entah perca bermotif apa lagi.

Alih-alih menemukan jawaban, justru sebuah pertanyaan muncul di kepalaku, bak spanduk besar terbentang. “Bagaimana pikiran-pikiran ini mempengaruhi hidupku?, adakah pikiran yang hanya sekedar lintasan pikiran, adakah pikiran yang kemudian kutindaklanjuti, adakah pikiran-pikiran yang mempengaruhi cara pandangku terhadap aspek kehidupan lain? apakah pengaruh pikiran positif serta pikiran negatif?”

Kusut.

Susah mengurainya.

Rasanya aku bukan pemikir ulung. Terlebih aku juga malas memikirkan hal-hal yang tidak penting. Apalagi soal perpisahan. Apakah penting memikirkan akan berpisah? buatku lebih penting memikirkan bagaimana merawat dan memaintain hubungan ini agar lebih nyaman dan lebih positif untuk dijalani. Kalau rasa nyaman dan tenang bersama pasangan sudah ada, rasanya hal yang mustahil untuk memikirkan berpisah hanya karena ’sesuatu’ .

Sesuatu?! masalah kah itu?

Kehidupan mana yang tidak ada masalah? Dari bangun tidur hingga tidur lagi hidup berhadapan dengan satu demi satu masalah. Apakah menghadapi masalah itu ’sebuah masalah’? Sepertinya tidak. Kupikir, yang perlu dipermasalahkan adalah cara menghadapi dan menyelesaikan masalah.

Salah paham dengan pasangan ?!, itu suatu masalah. Masalahnya apakah akan berpikir bahwa pasangan kita buruk, nggak nyambung, telmi, dll atau mungkin memikirkan bagaimana menjembatani dan membangun komunikasi yang baik agar tidak ada lagi salah persepsi.

Hidup tidak akan selesai dengan hanya merutuki satu demi satu masalah.

Bagaimana hubungan kamu dengan pasangan adalah tergantung di mana kamu menempatkannya.

Bila kamu tempatkan dia hanya sebagai teman, suatu saat bisa jadi ia menjadi musuh. Bila engkau tempatkan sebagai pelengkap, bila ia tidak ada mungkin tidak akan terasa berkurang hanya saja terasa lebih bila bersamanya, atau mungkin kamu bisa mencari pelengkap yang lain, sekedar melengkapi.

Tapi bila engkau tempatkan ia sebagai bagian hidupmu, bagian dari dirimu. Ketiadaannya akan membuat dirimu tidak utuh. Bila ia engkau tempatkan di hatimu, bagaimana mungkin kamu bisa berpikir akan berpisah karena suatu masalah? yang berarti kehilangan bagian dari dirimu, seperti satu kaki teramputasi niscaya akan membuat langkahmu terseok-seok.

Pikirkanlah, di mana kekasihmu engkau letakkan dan tanyakan pada dirimu, seberapa sanggup engkau kehilangannya…

Lalu, tentang pasangan tepat mungkin cukup sederhana untuk menjawabnya. Aku pernah menjelaskan ilustrasinya. Justru pertanyaan tentang pasangan yang tidak tepat membuat keningku mengernyit.

Percayalah, tepat atau tidak, dapat kamu rasakan saat pertama mengenalnya! Sangat aneh bila setelah sekian lama bersamanya kesimpulan itu datang belakangan. Anak kunci yang tidak tepat tidak akan mampu membuka apapun. Bila kamu tetap memaksakan diri, siap-siap saja menghadapi kunci yang bengkok atau patah.

Tapi sayangnya, manusia elemennya jauh lebih kompleks dibanding sebuah anak kunci. Kita tau itu.

Ketika pertama mengenal Aa, —Terimakasih Tuhan…— aku bisa merasakan hatiku berkata bahwa aa adalah orang yang tepat. Ia orang yang tepat untuk kusayangi, ia orang yang tepat yang bisa menyangiku, Ia orang yang tepat untuk kuserahkan bakti dan pengabdianku sebagai pasangan, Ia orang yang tepat menemaniku menjalani kehidupan ke depan, Ia orang tepat. Tepat. Tepat. Tepat. Meski ada hal-hal yang membuat hatiku ngilu, ada hal-hal diluar kemampuanku menyelesaikannya. Jadi kupejamkan saja mataku dan meminta pada Tuhan, bila ia orang yang baik buat kehidupanku, lekatkan rasa ini, dekatkan raga ini.

Lalu semua mengalir perlahan.

Yang cocok semakin dicocokkan, yang jauh di dekatkan, hati dilapangkan menghadapi perbedaan, hati direlakan menerima persamaan, berjuang untuk kompromi, berjuang untuk saling mengerti, belajar dari kesalahan, belajar memaafkan, semua hal dipelajari satu persatu, hingga kini terus belajar.

Aa bukan orang yang sempurna, hingga kurasa aku yang juga tidak sempurna ini tepat buatnya. Tanpa bermaksud menyombongkan diri, aku percaya bisa menjadi pasangan terbaik buat aa, kalaupun banyak kekurangan, ia tahu kalau aku terus berusaha, sebagaimana Aa juga terus belajar menjadi pasangan terbaik buat aku. Dan ini sangat berharga.

Hal inilah yang menumbuhkan kepercayaan diriku, yang pelan-pelan memupus rasa cemburuku pada perempuan dari masa lalu aa dan perempuan manapun di sekeliling Aa. Rasa percaya diri yang membuatku yakin Aa tidak akan berpaling.

Perempuan lain boleh saja jauh lebih cantik, tapi aku membuat diriku tepat dan layak untuk dicintai dan rasa cinta itu membuat Aa memandangku sebagai perempuan tercantik. Perempuan lain boleh lebih smart, tapi aku terus mengasah diriku untuk terus berkembang dan berkilau. Perempuan lain boleh sekeyakinan dengan Aa, tapi aku terus berusaha mengikis prasangka dan menebalkan toleransi hingga kami berdua bisa duduk berdampingan memanjatkan doa dengan masing-masing keyakinan hati.

Aku menjadi pasangan yang tepat, karena aku berusaha untuk tahu apa yang Aa butuhkan. Menjadi sahabat, menjadi keluarga, menjadi teman buat gila-gilaan, menjadi partner diskusi, menjadi rekan musyawarah, menjadi ‘perempuan penghibur’, menjadi ‘rumah’nya tempat ternyaman untuk pulang bahkan menjadi yellow pages -nya.

Bila aku telah melakukan yang terbaik semampuku, biarlah Tuhan menyempurnakan hasilnya.