angel ~u17474515Ada kalanya, bahkan seseorang yang paling kita sayangi dan paling manis diseluruh jagat raya, bisa berubah menjadi orang yang paling menjengkelkan!

Termasuk Aa.

Hari itu, usai makan siang, kami kembali ke rumah menikmari sore. Nonton Play Boy Kabel, Berita sore, baca novel sambil terkantuk-kantuk dan nonton apa saja yang tayang di TV sembari menunggu sajian utama, Indonesian Idol.

“Dik, makan malam di luar yuk”

“Ning mau nonton idol, A” jawabku pelan sambil mengangkat wajah dari novel yang sedang kubaca. “Kalau laper, adik bikinin mie goreng mau nggak?” Kupikir mumpung acaranya belum mulai, mending aku siapin aja sekarang.

“Enggak usah, nggak pengen. Pengen bihun aja” kata aa dengan tatapannya tidak lepas dari monitor.

Kalau sudah begini akan sulit berkomunikasi dengan Aa. Aku hanya menterjemahkan ucapannya tanpa bisa membaca bahasa di balik kata-katanya. Apakah dia marah karena nggak aku nggak mau diajak keluar atau karena benar-benar pengen makanan lain.

“Oohh, ya udah. Ditunggu aja ya” jawabku singkat. Sambil kembali menekuri bacaanku.

Sebenarnya buatku dan aa adalah hal yang biasa menikmati liburan dengan keasikan masing-masing. Aku dengan buku atau blog atau chatting, Aa dengan game-nya. Di sela-sela itu kami bisa ngobrol hal-hal ringan atau sekedar mengomentari siaran TV yang hanya kedengeran suaranya saja.

Menit-menit berlalu.

“Ning beliin makan di luar ya?” tawarku lagi.

“Enggak, mau bihun!”

Acara Idol pun mulai dengan aksi Patudu.

“Dik, kok (penjual bihun) nggak ada yang lewat depan komplek kita ya?” keluh aa. Tampaknya dia mulai lapar.

Aku udah nggak bisa menjawab apa-apa lagi. Menunggu penjual bihun lewat tidaklah sama seperti menunggu bus transjakarta melintas, biar lama tapi dijamin lewat, sedang penjual bihun tidak terikat kontrak pada siapapun, dia berjalan mendorong gerobaknya kemana angin malam membawanya, sesuka hatinya.

Aa mulai bersusungut-sungut. Rasa kesalku mulai tumbuh. Lebih baik jauh-jauh dari Aa. Dari tadi di bujuk ini itu nggak mau. Ya sudah, terserahlah. Aku fokus menikmati satu persatu kontestan, dengan punggung yang saling membelakangi dengan Aa.

Hingga ketika Lala, kontestan dari Malang mulai menghentak, suara-suara aneh mulai muncul di belakangku. Suara sendawa Aa! Tepat seperti dugaanku. Aa masuk angin dengan kondisi perut kosong.

Rasa kesal mulai naik ke kepalaku. Aku mulai mengomel dalam hati. “Nah, sekarang baru kerasa kan? di tawarin ini itu nggak mau. Emang enak masuk angin!. Huh!”

Sendawa Aa makin menjadi.

Aku bangkit mengambil minyak kayu putih dari kotak obat. Melupakan rasa kesal. Satu sisi aku tau bagaimana rasanya kalau lagi kepengen sesuatu dan nggak kesampean. Tapi kalau dalam keadaan begini mbok ya mau kompromi. Duuhhh…

Tanpa mengucap apa-apa. Kutuangkan minyak kayu putih di telapak tangan kananku, dengan tangan kiri kuangkat kemeja aa, lalu membalurkan minyak ke punggungnya.

Nyess…

Saat telapak tanganku menyentuh punggung aa, perlahan lenyap semua rasa kesal, menguap semua rasa sebal. Dalam hening tanpa sepatah kata kecuali suara sendawa Aa, kutelusuri semua jengkal punggungnya dari pundak hingga ke pinggang. Setiap usapan tidak meninggalkan apa-apa kecuali rasa iba dan rasa sayang. *terberkatilah orang-orang yang menemukan minyak kayu putih ini.*

“Adik bikinkan teh ya sayang”

“Iya, dik…” jawab aa lemah. Kupikir separuh kekerasan hatinya juga sudah sirna.

Aku beranjak ke dapur, membuatkan secangkir teh. Mungkin setelah minum teh aa akan lebih lunak hatinya.

***

Kutatap wajah pucatnya saat Aa menyesap teh dari bibir cangkir keramik putih. Ia tertunduk layu. Kuusap kepalanya pelan, menyibak helai-helai rambut yang jatuh di pelipis yang membingkai sempurna mata berlekuk bulan sabit itu. Hangatnya teh dan hangat baluran minyak kayu putih perlahan membuat pipi aa mulai memerah. Sendawanya berhenti.

Kuangkat wajahnya. “Adik buatin mie goreng ya sayang…” tanyaku tanpa ada kesan memaksa.

Ia mengangguk pelan.

Untuk keduakalinya aku bergegas ke dapur, menyiapkan bumbu, menambahkan suwiran ayam goreng dan menyiapkan mie goreng secepatnya.

Lupakan idol-idol itu. Aku benar-benar menyesal. Andai tadi nggak ngebelain nonton idol, mungkin aa nggak sempet masuk angin begini. Sebelum menutup pintu dapur, kuseka ujung mataku yang merebak basah.

***

Aa makan dengan lahap, dengan mata yang kembali bersinar.

Kututup tirai jendela kamar, menutup pemandangan dari langit malam. Tak perlu lagi aku mendongakkan kepala, sebab bintang telah bersinar di mata Aa. Semakin bersinar ketika pipi putihnya kembali merona merah.

“Terimakasih ya, sayang” bisiknya lembut. Lengannya merangkul kepalaku ke dalam pelukannya. “Maafin Aa, dik, pasti udah bikin kamu kesal. Aa bukan orang yang sempurna dik”

Aku mengetatkan pelukan dengan mata yang terpejam aku bisa merasakan betapa aku sangat menyanginya. Aku menyanginya karena ia manusia yang lengkap dengan sifat dan tingkah yang menyenangkan juga yang menyebalkan.

Kutatap benik matanya, “Ning sayang aa, karena Aa bukan malaikat. Aa sempurna sebagai manusia, sempurna dengan kelebihan dan kekurangannya. Sama seperti adik”

Aku sudah tidak sanggup melanjutkan kata-kata. Pelukan dan detakan yang mengalun dari dada dalam pelukan erat menuntaskan semua kalimat.