older-couple-outside ~ks104388Berapa kilometerkah jarak yang dibutuhkan untuk menahan rindu?

Antara kami dengan Bapak dan Ibu terbentang jarak ribuan kilo. Tapi rindu selalu mampu menjalar cepat melintasi ruang dan waktu. Rindu itu semakin melesat dan meletup di angkasa memercikkan getar. Tak peduli siapa yang mengirimkan sinyalnya. Kami atau Bapak dan Ibu.

“Dik, jam segini Ibu sudah tidur belum ya?”

“Kalau di sana sedang hujan, mungkin sudah. Biasanya hujan selalu datang membawa kantuk”

“Telepon Ibu, dik”

“Kangen ?”

“Iya, kangen suara dan candanya”

Suara Ibu adalah charger buat kami, aku dan aa. Keriangannya bercerita tentang apa saja adalah warna cerah pelangi yang melengkung di hari-hari kami yang sesak oleh target kerja, laporan, dan macet yang menggila.

Dari Ibu semua cerita adalah suka cita, bunga-bunganya, kebun sayurnya, tetangga-tetangganya adalah bahagia yang tak ada habisnya.

Suara Bapak adalah selimut yang menghangatkan hati kami, aku dan aa. Sapaannya yang hanya beberapa kalimat dan candaan khas orang tua serupa rasa minyak kayuputih, hangatnya memeluk semua pori-pori.

Rindu kami meletup tapi kadang segera padam oleh rutinitas sehari-hari. Sedang rindu mereka, Ibu dan Bapak, pada kami adalah rindu dari panas bumi, nyala yang tak pernah mati.

“Nak, mana Aamu, Ibu ingin bicara”

Rindu itu luber dari speaker HP, mengalir di antara hati kami, di antara tangan yang bertautan, di antara dua mulut dan telinga yang berebut mendekat ke HP.

“Iya, Bu, ini Aa”

“Nak, kamu kepengen apa? Ibu pengin kirim makanan buat kalian”

“Ndak usah repot, ibu. Sing penting Ibu dan Bapak sehat”

“Wis tho,…kamu pengen opo?”

“Pengen Ibu dan Bapak sehat, ndak pengen makanan, pengennya Ibu dan Bapak yang dikirim ke sini he he he”

“Oalah…”

Entah karena rindu, entah obrolan Aa dan Ibu, hangat menjalar naik dari hati hingga ke sudut mata, terus menjalar menjelma menjadi air mata.

***

older-couple-reading ~GOY078Berapa tebalkah tembok yang dibutuhkan untuk membentengi rindu?

Antara kami dengan Pa dan Ma terbentang jarak ratusan kilo. Tapi rindu selalu mampu menjalar cepat melintasi ruang dan waktu. Rindu itu semakin melesat dan meletup di angkasa memercikkan getar. Tak peduli siapa yang mengirimkan sinyalnya. Kami atau Pa dan Ma.

Perhatian kami pada mereka terkadang rasanya hanya basa-basi, sekedar memastikan mereka sehat dalam usia yang semakin tua. Sedang perhatian mereka, Pa dan Ma, pada kami adalah perhatian dari sumber mata air, alirannya tak pernah berhenti.

“Sudah pulang kerja, Nak?”

“Sudah, Ma. Sudah di rumah”

“Kamu sehat? Ning sehat?”

“Puji Tuhan, sehat Ma”

“Ning mana?, Ma pengin ngobrol”

“Hallo…”

“Iya, hallo, Ma…”

“Apa kabar nduk? Kapan pulang? Kalau ada libur ajak Aa pulang ya. Opo ndak kangen?

“Alhamdulillah baik dan sehat, Ma. Tentu kangen dong Ma, nanti kalau ada kesempatan kita pasti pulang. Atau Ma dan Pa yang ke sini dong, kan udah 2 bulan lebih nggak main ke Jakarta.”

“He he he, iya. Ma juga udah kangen cucu nih. Ya udah, kalian sehat-sehat ya.”

“Iya, terimakasih Ma.”

Lalu terkadang, telepon berpindah ke Pa. Suara lembut dan sapa dari lelaki tua itu tak pernah membuatku bosan. Suaranya adalah oase sejuk di tengah hingar-bingar kota ini.

***

Jarak memang tak bersahabat antara kami, aku dan Aa dengan Pa dan Ma atau dengan Bapak dan Ibu. Tapi cinta, perhatian, dan kasih sayang mereka selalu punya daya lesat tinggi menghampiri kami. Doa-doa mereka tak pernah berhenti, bertiup, menyejukkan mengantarkan pinta-pinta hingga ke tingkap langit paling tinggi, untuk kesehatan kami, untuk kebahagiaan kami.

Wahai Tuhan, tak akan sanggup kami membayar pengorbanan mereka, tak akan mampu kami mengganti setetes air susu mereka, tak akan mungkin kami membalas dengan sepadan atas darah, keringat dan airmata yang tertumpah demi kehidupan kami.

Berkati mereka, Tuhan…

Berkati mereka, Tuhan…

Berkati mereka, Bapak dan Ibu kami, Pa dan Ma kami.

Berkati mereka Tuhan, dengan berkat sepenuh langit dan bumi.