“Mananya yang sakit, sayang…” tanyaku sambil mendekatkan wajahku.
“Pinggang, dik. Yang ini…” aa memegangi pinggang kanannya.
“Ning olesin counterpain ya?” bujukku sambil beranjak membuka kotak obat di atas meja sudut kamar. Selain minyak kayu putih, counterpain ini obat andalan yang harus selalu tersedia di rumah. Memiliki pasangan hidup yang usianya terpaut jauh dariku membuat aktifitas kemesraan kami tidak jauh-jauh dari aktifitas yang merilekskan otot-otot dibanding aktifitas yang “menguras tenaga” dan membuat otot tegang
“Aduuh…aduh…” erangnya ketika tanganku menekan bagian pinggang yang sudah kuolesi dengan counterpain. Aku kaget dan refleks mengangkat tangaku.
“Eh, kenapa? Sakit banget ya a?” tanyaku sambil menatap ekspresi aa.
“Enggak, dik.”
“Lalu?”
“Geli… ha ha ha”
***
“Dik, kakinya juga sakit” sambil membalikkan badan Aa menghentak-hentakkan kaki kanannya.
“Bagian yang mana, say?”
“Ini…” aa menunjuk bagian tulang kering kakinya. “Sampai ke sini nih, dik” telunjuk aa bergerak naik ke atas hingga ke paha.
“Duh, kenapa lagi ini?” Aku mulai cemas.
“Enggak tau, sakit, pegel semua” Wajah aa, layu menerbitkan iba.
Dari tadi malam Aa mengeluh badannya sakit semua. Sebelum tidur ia bahkan minta pijatan dan kerokan di punggung.
Kembali kubuka tutup counterpain. Dengan ujung telunjukku kucoel isi tube -nya dan kutotolkan ke bagian yang ditunjuk aa. Hi hi hi, aku jadi teringat dengan suku asmat yang gemar menghiasi tubuh mereka dengan totolan-totolan putih, bedanya, totolan putih ini tidak begitu kontras karena kulit aa juga putih.
“Buruan diratain dong, dik. Panas…”
“Eh…eh… iya…iya” buru-buru kuratakan totolan counterpain agar hangatnya menyebar. Sambil meratakan cream counterpain, kuberikan sedikit pijatan dari betis samping, dengkul hingga ke paha samping.
“Aduh…aduuh…” Aa mengerang lagi.
“Kenapa, A?”
“Geli…dik, tapi sakit. He he he”
“Lha, gimana sih. Ya udah, yang bagian paha pijet sendiri ya, adik pijetin dengkul ama telapak kakinya aja”
***
Sesorean, sambil menikmati acara Nanny 911, Aa tiduran santai di depan TV, menikmati pijatanku di kakinya yang biarpun terasa sakit, geli atau apalagi, dia tetap menikmatinya. Hingga pandanganku tertumbuk pada ujung jemari kakinya…
Astaga, kuku Aa sudah panjang-panjang!
Aku berdiri mencari “cetekan” kuku alias pemotong kuku. Tanpa ba-bi-bu kubabat satu demi satu kukunya yang panjang itu. Aa bengong. Tapi tidak berontak.
Dulu Aa masih sering bawel dan berontak kalau kukunya kupotongin. Jangan terlalu pendek lah, model kukunya jangan lonjong dll. Tapi akhirnya aku menemukan jurus jitu, yaitu memotong kukunya saat ia sedang asik main game atau sedang santai seperti ini. Dijamin anteng deh.
***
Diam-diam kutatap wajahnya, ah…kekasih hatiku ini adakalanya ia lebih manja dari keponakanku sendiri. Tapi tak apalah, seperti jawabannya selalu, “Biarin aja dibilang manja, wong manja ama yayang sendiri. Dari pada manja sama yayang orang lain, weeekk!” lengkap dengan peletan lidahnya.
Ha ha ha… Betul juga ya. Kalau nggak ada yang manja di rumah, bisa-bisa aku nyari yang lain buat dimanjain.
Husssh!!
Senin, April 21, 2008 at 8:11 am
resiko berondong naksir yg udah tua! haha..yg muda emang tugasx mijetin yg tua :p
Senin, April 21, 2008 at 9:32 am
Hmm…kegiatan pacaran yang intim sekali.
Senin, April 21, 2008 at 12:38 pm
emang beda berapa tahun ning?
Senin, April 21, 2008 at 2:10 pm
@ LUNE : lupa ya kalau dulu Lune juga naksir berondong
@ Mihael Ellinsworth : kalau belum punya anak, mungkin berasa pacaran terus kali ya?!
@ Pucca : Pokoknya waktu ning seraga putih merah, Aa pake seragam putih abu
Senin, April 21, 2008 at 4:59 pm
Ya ampun Ning…aku deja vu lagi.
Maksudnya, hari Minggu kemarin aku juga sakit2 semua badanku…meriang, demam dan akhirnya minta kerokan juga, tapi sama si mbak….hahaha.
Senin, April 21, 2008 at 6:40 pm
ehemmm..ehemmm….
*batuk-batuk mode ON*
Selasa, April 22, 2008 at 1:53 am
Hahahaha… ini juga beberapa kali diucapkan pacar saya. Awalnya saya cuma geleng-geleng kepala, tapi lama-lama maklum juga. Dia kan manja sama pacarnya sendiri, daripada manja sama pacar orang lain ?
Selasa, April 22, 2008 at 6:47 am
@ Dee : Kok pada suka kerokan ya?!
@ lovesomatic : Hati-hati “GanTeng” : alias Gangguan Tenggorokan ha ha ha
@ Pyrrho : Betul itu mas!
Rabu, April 23, 2008 at 12:38 pm
mba ning bagi2 ilmu pijit memijit dunkz…!!
Rabu, Mei 21, 2008 at 4:16 am
walah mba…
urusan pijat memijat mah ga pandang usia pasangan. Hubby yang usianya terpaut setahun di bawahku aja punya ritual ‘pijat’ setiap mau bobo. Apalagi kalo abis maen futsal. tapi jadi tambah chayank siyh. he..he..
Rabu, Mei 21, 2008 at 7:50 am
@ nuun : Udah ada obyek yang buat di pijit belum?!
@ dian : kapan-kapan gantian mba dian yang dipijat sepulang kantor
pasti makin tambah sayang
Senin, Mei 26, 2008 at 1:31 am
Seperti sama dengan kondisiqu saat ini.
emang weunakkkkkkkkkk punya istri sayang, cantik dan pintar. heeeee
Selasa, Mei 27, 2008 at 3:34 am
@ Tantan- guru SLB : Selamat, Pak Tantan!
Kamis, April 9, 2009 at 1:48 am
duh mba, banyak cara romantisme antara sepasang kekasih…
salah satunya adalah pijat-memijat, dan itu tidak pandang beda umur…
untuk mengungkapkan kasihsanyang antara mereka berdua…..
daripada ungkapan dendam penjahat dengan bunuh-bunuhan, heeeee…..
mendingan pijet-pijetan…….
Kamis, Mei 14, 2009 at 4:19 pm
kita juga mau donk di majatin