therapist-massaging ~bn245057“Mananya yang sakit, sayang…” tanyaku sambil mendekatkan wajahku.

“Pinggang, dik. Yang ini…” aa memegangi pinggang kanannya.

“Ning olesin counterpain ya?” bujukku sambil beranjak membuka kotak obat di atas meja sudut kamar. Selain minyak kayu putih, counterpain ini obat andalan yang harus selalu tersedia di rumah. Memiliki pasangan hidup yang usianya terpaut jauh dariku membuat aktifitas kemesraan kami tidak jauh-jauh dari aktifitas yang merilekskan otot-otot dibanding aktifitas yang “menguras tenaga” dan membuat otot tegang :mrgreen:

“Aduuh…aduh…” erangnya ketika tanganku menekan bagian pinggang yang sudah kuolesi dengan counterpain. Aku kaget dan refleks mengangkat tangaku.

“Eh, kenapa? Sakit banget ya a?” tanyaku sambil menatap ekspresi aa.

“Enggak, dik.”

“Lalu?”

“Geli… ha ha ha”

***

“Dik, kakinya juga sakit” sambil membalikkan badan Aa menghentak-hentakkan kaki kanannya.

“Bagian yang mana, say?”

“Ini…” aa menunjuk bagian tulang kering kakinya. “Sampai ke sini nih, dik” telunjuk aa bergerak naik ke atas hingga ke paha.

“Duh, kenapa lagi ini?” Aku mulai cemas.

“Enggak tau, sakit, pegel semua” Wajah aa, layu menerbitkan iba.

Dari tadi malam Aa mengeluh badannya sakit semua. Sebelum tidur ia bahkan minta pijatan dan kerokan di punggung.

Kembali kubuka tutup counterpain. Dengan ujung telunjukku kucoel isi tube -nya dan kutotolkan ke bagian yang ditunjuk aa. Hi hi hi, aku jadi teringat dengan suku asmat yang gemar menghiasi tubuh mereka dengan totolan-totolan putih, bedanya, totolan putih ini tidak begitu kontras karena kulit aa juga putih.

“Buruan diratain dong, dik. Panas…”

“Eh…eh… iya…iya” buru-buru kuratakan totolan counterpain agar hangatnya menyebar. Sambil meratakan cream counterpain, kuberikan sedikit pijatan dari betis samping, dengkul hingga ke paha samping.

“Aduh…aduuh…” Aa mengerang lagi.

“Kenapa, A?”

“Geli…dik, tapi sakit. He he he”

“Lha, gimana sih. Ya udah, yang bagian paha pijet sendiri ya, adik pijetin dengkul ama telapak kakinya aja”

***

Sesorean, sambil menikmati acara Nanny 911, Aa tiduran santai di depan TV, menikmati pijatanku di kakinya yang biarpun terasa sakit, geli atau apalagi, dia tetap menikmatinya. Hingga pandanganku tertumbuk pada ujung jemari kakinya…

Astaga, kuku Aa sudah panjang-panjang!

Aku berdiri mencari “cetekan” kuku alias pemotong kuku. Tanpa ba-bi-bu kubabat satu demi satu kukunya yang panjang itu. Aa bengong. Tapi tidak berontak.

Dulu Aa masih sering bawel dan berontak kalau kukunya kupotongin. Jangan terlalu pendek lah, model kukunya jangan lonjong dll. Tapi akhirnya aku menemukan jurus jitu, yaitu memotong kukunya saat ia sedang asik main game atau sedang santai seperti ini. Dijamin anteng deh.

***

Diam-diam kutatap wajahnya, ah…kekasih hatiku ini adakalanya ia lebih manja dari keponakanku sendiri. Tapi tak apalah, seperti jawabannya selalu, “Biarin aja dibilang manja, wong manja ama yayang sendiri. Dari pada manja sama yayang orang lain, weeekk!” lengkap dengan peletan lidahnya.

Ha ha ha… Betul juga ya. Kalau nggak ada yang manja di rumah, bisa-bisa aku nyari yang lain buat dimanjain. :P

Husssh!!