“Jadi bagaimana, Niiing?, pliss … jawab dong.” Ia mengguncang lenganku, mendesak aku mengucapkan sepatah kata.
Tenggorokanku tercekat. Aku masih tidak sanggup menjawab.
Membayangkan bayi mungil yang sedang lucu-lucunya itu kehilangan satu sosok dari dua manusia yang (katanya) mencintainya, membuat emosiku semakin naik dan semakin menyumbat tenggorokan. Kenapa makhluk tak berdosa itu selalu jadi korban?
Ingin aku bertanya sekali lagi, bisakah kalian bertahan demi buah hati, buah cinta, manusia bermata malaikat yang dulu amat kalian harapkan kehadirannya? Meski aku tau jawaban pertanyaan itu sudah ia sampaikan di muka. Aku tak mampu mengulangnya. Sebab semua alasan kedengaran begitu logis, semua kedengaran begitu manusiawi.
Pada manusia mengalir sebagian sifat malaikat pada sebagaian lain mengalir sifat iblis, hati dan akal lah yang membuat kamu memilih sifat mana yang menjadi lebih dominan.
Aku ingin berontak, menampar diri yang tak mampu mengucap sepatah kata. Semua tiba-tiba menjelma menjadi tirai kaca yang mengelilingi diriku, menampilkan sejuta bayangan, saling memantul membuatku kehilangan mana sosok diriku yang sebenarnya.
Bila aku berucap, akankah itu jadi karma yang memantul pada diriku sendiri? Bila ia manusia, aku manusia, akankah apa yang dia alami adalah pantulan yang kelak (mungkin) aku alami? Akankah aku menyampaikan dalih yang sama, pembelaan pada diri sendiri ketika tak satu hal pun dapat kujadikan pembenaran selain kebenaran mutlak aku adalah manusia?
Aku menggigil hebat hingga tirai kaca itu hancur berkeping-keping. Satu demi satu bayangan itu luruh. Aku menjadi semakin bisu.
Suaraku menjelma menjadi bunyi tak-tik-tak-tik-tik, ritmis. Magis.
Tak satu orangpun menginginkan hal yang buruk terjadi dalam hidupnya. Tapi, semua karena sebuah hal yang bernama pilihan. Sebab pilihan seperti api, bisa menghangatkanmu, mematangkan hidanganmu, atau bahkan sebaliknya, asapnya akan menyesaki paru-parumu, membunuhmu atau memanggangmu hidup-hidup, mengantarkanmu pada derita tak berujung.
“Pliis, Ning… aku nggak ada pilihan lain” ia menggeleng-gelengkan kepalanya.
tak-tik-tak-tik-tik-tak-tik-tik-tak-tik-tak-tak
Kita manusia, sayang… tapi kita bisa memilih untuk mengasah perbuatan malaikat dalam diri. Kita bisa memilih mengampuni daripada membiarkan dendam beranak pinak. Kita bisa memilih berkata santun daripada mengotori lisan dengan caci maki. Kita bisa memilih setia daripada membiarkan hati dan pikiran terbagi dua, tiga atau atau sejuta. Kita bisa memilih keluar dan menepi dari pada terus berputar dalam lingkaran setan dengan sejuta kamuflase di dalamnya. Kita bisa memilih sayang…
Kugapai lengannya, dengan gelengan yang sama.
Tak seorangpun yang bisa memilihkan satu pilihan buat orang lain. Tidak juga dengan aku. Hanya kamu.
Aku tak akan mampu menyarankan memisahkan apa yang dipersatukan di depan Tuhan. Meski bercerai adalah hak yang bahkan Tuhan tak mampu menghangi, tapi sungguh, Ia sangat membencinya.
“Kalau begitu, doakan saja aku, Ning…” pintanya.
Kembali aku terhempas oleh kesadaran lain.
Deja vu.
Doa macam apalagi yang musti aku panjatkan?
Sedang kemarin saja, aku salah berdoa. Ya, salah. Kamu baru tau kalau doa itu pernah salah?! Begini ceritanya.
Ketika seorang temanku bercerita bahwa rumahtangganya dengan pasangannya sudah berakhir, aku sempat meminta padaNYA agar mereka kembali rukun. Tapi setelah bercerita dengannya panjang lebar aku mendapatkan kesimpulan yang aneh… Tak tepat aku meminta mereka bersatu lagi, sebab terkadang lebih mungkin lebih mudah membangun bangunan baru daripada menyusun kembali puing-puing yang telah runtuh.
Jadi aku meminta maaf, pintaku salah. Kuralat. Aku meminta Tuhan berikan jalan terbaik, hati yang lapang dalam setiap masalah yang menghimpit, pikiran yang terang dalam resah yang menggulita.
tak-tik-tak-tik-tik-tak-tik-tik-tak-tik-tak-tak
Pilihan?
Tidak ada pilihan?
Salah Memilih?
Lalu bagaimana jika pilihannya seperti buah simalakama? Dimakan mati ayah, tidak dimakan bunda tiada?! Apakah ada pilihan yang lebih berharga dari yang lainnya?
Aku tak kunjung menemukan jawabannya.
Hingga akhirnya dia beranjak, meninggalkan aku yang masih termangu.
***
Dua jam kemudian.
To : +6281387XXXXX
Bsk ak k pengadilan, moga ini solusi untuk semua pihak. soal hak asuh anak, aku ga mau ribut lagi.
Kutekan tombol navigasi, memilih menu ketiga.
Delete.
Jumat, April 18, 2008 at 2:28 am
soal pilihan, ning. susah
Jumat, April 18, 2008 at 2:39 am
# simbok venus : iya mbok, huaaaaa..
( saking susahnya aku nggak bisa jawab apa-apa..
Jumat, April 18, 2008 at 3:10 am
aku suka baca blog nya mba ning…..
bole add ga?
Jumat, April 18, 2008 at 5:44 am
mbak Ning, doain aku ya, pondasi yang akan kubangun sebentar lagi benar2 kuat, jadi ga mudah runtuh maupun diruntuhkan….
Jumat, April 18, 2008 at 7:49 am
@ Trisko :
Silakan
@ Ulfa : Amin, Selamat ya Fha, Ning ikut bahagia bersama kamu
Jumat, April 18, 2008 at 12:44 pm
tak-tik-tak-tik-tik-tak-tik-tik-tak-tik-tak-tak
“yang menjadi korban adalah anak.. orang tua macam apa, yang hanya mikirin egonya masing-masing. huff. ”
tak-tik-tak-tik-tik-tak-tik-tik-tak-tik-tak-tak
maap yah mba.
Sabtu, April 19, 2008 at 12:47 am
haduh…. susah ya kalo dalam kondisi begini. tapi doanya udah bener tuh… moga2 Tuhan ngasih jalan yang terbaik ya…
Sabtu, April 19, 2008 at 1:42 pm
Ning…aku juga de javu.
Namun jauh lebih baik memilih mana yg bisa kita jalani dan tanggung, krn bila ke depannya kita tidak mampu menjalani, akan lebih banyak lagi org yg ikut menderita.
Kuncinya utk semua pilihan, hanyalah ikhlas dan berserah pada Tuhan
Minggu, April 20, 2008 at 4:22 am
tak..tik..tak..tak suara sepatu kuda hehehe
Senin, April 21, 2008 at 9:12 am
@ yung : jangan ikut esmosi juga dong
@ arman : amin…
@ dee :
Setujuuuuuu banget dee!
@ Lune : mau berkuda ke bulan?!
Kamis, April 24, 2008 at 8:28 am
Ning… ini cerita ttg apa sich… melepaskan pernikahan atau merelakan kehilangan bayi (keguguran maksudnya???)
Sepertinya ttg perceraian… semoga bukan perceraian kamu. Buat saya… ketika kita melangkah ke pernikahan… KITA SUDAH SEHARUSNYA menjadi individu yg dewasa, yg berani melangkah, berani menanggung resiko apapun yg menghadang didepan mata.
Ketika sudah mengucapkan komitmen untuk bersatu… selayaknya kita tetap pegang teguh komitment tersebut. Lahhh, kalau kita gak bisa komit ama janji kita… Mungkin gak DIA yg empunya kehidupan ini akan komit juga pada kita untuk menyediakan tempat yg terindah buat kita diatas sana???…
Hmmm, it’s just my two cents,
,
salam
-silly-
Kamis, April 24, 2008 at 8:31 am
Ehhh, tapi semua balik lagi kediri kita sendiri sich… seberapa kuat kita bertahan…
SATU HAL yg selalu saya ingat… DIA tidak pernah menjanjikan hidup yg enak2 saja… ada kalanya jalan hidup kita berkerikil, menurun, terjal mendaki… namun itulah yg membuat hidup ini menjadi kaya dan indah… seperti pelangi… berwarna… dan ini juga yg membuat kita jadi KUAT…
Kalau kita menyerah… sama aja dengan tinggal KELAS… dan kita akan MENGULANG pelajaran yg sama dengan “orang’ yg berbeda… tapi pada dasarnya “kelas”-nya yah sama aja… plajarannya juga masih itu2 juga… khan belum naik kelas tohhh…
semoga ilustrasinya bisa ketangkep…
Rabu, April 30, 2008 at 4:01 am
@ Silly : tentang melepaskan sebuah ikatan, mba
dan tentu bukan tentang ning. Ini tentang seorang teman.
Terimakasih untuk kebijaksanaan yang mba silly bagi buat ning, semoga ning bisa waspada dan kuat menghadapi kerikil dan jalan terjal di hadapan