close-up-of-family-split-with-divorce-decree-document-10-12-~-284549SDC“Jadi bagaimana, Niiing?, pliss … jawab dong.” Ia mengguncang lenganku, mendesak aku mengucapkan sepatah kata.

Tenggorokanku tercekat. Aku masih tidak sanggup menjawab.

Membayangkan bayi mungil yang sedang lucu-lucunya itu kehilangan satu sosok dari dua manusia yang (katanya) mencintainya, membuat emosiku semakin naik dan semakin menyumbat tenggorokan. Kenapa makhluk tak berdosa itu selalu jadi korban?

Ingin aku bertanya sekali lagi, bisakah kalian bertahan demi buah hati, buah cinta, manusia bermata malaikat yang dulu amat kalian harapkan kehadirannya? Meski aku tau jawaban pertanyaan itu sudah ia sampaikan di muka. Aku tak mampu mengulangnya. Sebab semua alasan kedengaran begitu logis, semua kedengaran begitu manusiawi.

Pada manusia mengalir sebagian sifat malaikat pada sebagaian lain mengalir sifat iblis, hati dan akal lah yang membuat kamu memilih sifat mana yang menjadi lebih dominan.

Aku ingin berontak, menampar diri yang tak mampu mengucap sepatah kata. Semua tiba-tiba menjelma menjadi tirai kaca yang mengelilingi diriku, menampilkan sejuta bayangan, saling memantul membuatku kehilangan mana sosok diriku yang sebenarnya.

Bila aku berucap, akankah itu jadi karma yang memantul pada diriku sendiri? Bila ia manusia, aku manusia, akankah apa yang dia alami adalah pantulan yang kelak (mungkin) aku alami? Akankah aku menyampaikan dalih yang sama, pembelaan pada diri sendiri ketika tak satu hal pun dapat kujadikan pembenaran selain kebenaran mutlak aku adalah manusia?

Aku menggigil hebat hingga tirai kaca itu hancur berkeping-keping. Satu demi satu bayangan itu luruh. Aku menjadi semakin bisu.

Suaraku menjelma menjadi bunyi tak-tik-tak-tik-tik, ritmis. Magis.

Tak satu orangpun menginginkan hal yang buruk terjadi dalam hidupnya. Tapi, semua karena sebuah hal yang bernama pilihan. Sebab pilihan seperti api, bisa menghangatkanmu, mematangkan hidanganmu, atau bahkan sebaliknya, asapnya akan menyesaki paru-parumu, membunuhmu atau memanggangmu hidup-hidup, mengantarkanmu pada derita tak berujung.

“Pliis, Ning… aku nggak ada pilihan lain” ia menggeleng-gelengkan kepalanya.

tak-tik-tak-tik-tik-tak-tik-tik-tak-tik-tak-tak

Kita manusia, sayang… tapi kita bisa memilih untuk mengasah perbuatan malaikat dalam diri. Kita bisa memilih mengampuni daripada membiarkan dendam beranak pinak. Kita bisa memilih berkata santun daripada mengotori lisan dengan caci maki. Kita bisa memilih setia daripada membiarkan hati dan pikiran terbagi dua, tiga atau atau sejuta. Kita bisa memilih keluar dan menepi dari pada terus berputar dalam lingkaran setan dengan sejuta kamuflase di dalamnya. Kita bisa memilih sayang…

Kugapai lengannya, dengan gelengan yang sama.

Tak seorangpun yang bisa memilihkan satu pilihan buat orang lain. Tidak juga dengan aku. Hanya kamu.

Aku tak akan mampu menyarankan memisahkan apa yang dipersatukan di depan Tuhan. Meski bercerai adalah hak yang bahkan Tuhan tak mampu menghangi, tapi sungguh, Ia sangat membencinya.

“Kalau begitu, doakan saja aku, Ning…” pintanya.

Kembali aku terhempas oleh kesadaran lain.

Deja vu.

Doa macam apalagi yang musti aku panjatkan?

Sedang kemarin saja, aku salah berdoa. Ya, salah. Kamu baru tau kalau doa itu pernah salah?! Begini ceritanya.

Ketika seorang temanku bercerita bahwa rumahtangganya dengan pasangannya sudah berakhir, aku sempat meminta padaNYA agar mereka kembali rukun. Tapi setelah bercerita dengannya panjang lebar aku mendapatkan kesimpulan yang aneh… Tak tepat aku meminta mereka bersatu lagi, sebab terkadang lebih mungkin lebih mudah membangun bangunan baru daripada menyusun kembali puing-puing yang telah runtuh.

Jadi aku meminta maaf, pintaku salah. Kuralat. Aku meminta Tuhan berikan jalan terbaik, hati yang lapang dalam setiap masalah yang menghimpit, pikiran yang terang dalam resah yang menggulita.

tak-tik-tak-tik-tik-tak-tik-tik-tak-tik-tak-tak

Pilihan?

Tidak ada pilihan?

Salah Memilih?

Lalu bagaimana jika pilihannya seperti buah simalakama? Dimakan mati ayah, tidak dimakan bunda tiada?! Apakah ada pilihan yang lebih berharga dari yang lainnya?

Aku tak kunjung menemukan jawabannya.

Hingga akhirnya dia beranjak, meninggalkan aku yang masih termangu.

***

Dua jam kemudian.

To : +6281387XXXXX

Bsk ak k pengadilan, moga ini solusi untuk semua pihak. soal hak asuh anak, aku ga mau ribut lagi.

Kutekan tombol navigasi, memilih menu ketiga.

Delete.