Bleeding Heart by ZindyAndai ada iklan baris atau iklan templel yang menawarkan obat patah hati atau obat sakit hati (ini sakit hati dalam arti kiasan lho, bukan sakit akibat gangguan funsi hati) aku yakin pasti akan laris manis.

Dalam perjalanan hidup, berapa kali kita pernah sakit hati, berapa kali pernah patah hati?

Mungkin setidaknya—atau baru— sekali. Seperti seorang teman yang kemarin sore datang menghampiriku.

“Mbak, aku lagi broken heart nih “ katanya dengan raut kusut dan bibir ditekuk ke bawah.

“Lho, patah hati kenapa?” tanyaku. Ah, aku terlambat menyadari dan menyesali pertanyaan basi itu. Gadis muda seperti dia hampir dengan mudah untuk mendeteksi sebabnya.

“Dia ninggalin aku…” katanya. Sesaat kemudian ada bara kecewa meletup di matanya. “Mbak, bijak nggak sih, meninggalkan seseorang hanya karena kesalahannya di masa lalu?” ia mengajukan pertanyaan diplomatis. Aku tau, ia sudah mengetahui jawabannya bahkan sebelum bertanya. Ini jelas nggak fair dan mungkin ini yang membuat hatinya merasa nyeri, merasa seperti patah, retak dan berkeping-keping.

Kuusap kepalanya lembut. Ia mulai menyeka sudut matanya.

Sebenarnya aku tidak tau bagaimana kejadiannya. Hal terbaik untuk memberikan masukan adalah mengetahui informasi secara berimbang dari kedua belah fihak, dari yang merasa patah hati atau dari yang tersangka pelaku pematahan hati *halah, kok kaya berita kriminal*. Tapi tentu sulit, aku hanya mengenal satu fihak. Hingga kucoba memberikan pendapat yang objektif, berusaha memandang dari kedua belah sisi. Tentu tidak panjang lebar, karena aku lebih yakin temanku, gadis muda ini lebih butuh untuk didengarkan dari pada mendengarkan.

Kami sampai pada titik ketika ia lebih rileks.

“Kamu mau obat patah hati?” tanyaku, sambil senyum mengedipkan mata.

Ia langsung berbinar. “Apa mbak?” tukasnya cepat.

“Serius, mau?” aku mengulur waktu sambil menggodanya.

“Seriuuuusss!” jawabnya, dengan mata hampir melotot.

“Obat patah hati itu adalah jatuh cinta lagi” kataku dengan mimik serius tapi menahan tawa.

“Yaaah, mba…” ia langsung lungai. Ha ha ha, tawaku meletup juga melihat ekspersinya.

“Eh, bener lho. Percaya nggak, jatuh cinta atau merasakan cinta lagi itu obat. Obat manjur untuk menyembuhkan rasa sakit hati” aku mulai berpromosi dan memprovokasi :D

“Enggak ah, aku kapok. Entar aja kalau udah siap. Lagian aku mau jatuh cinta sama ALLAH aja biar nggak patah hati”

Ho ho ho…jadi salut juga sama kerelijiusannya. Orang memang lebih mudah menjadi dekat dengan Tuhan saat bermasalah dengan manusia atau dengan dunia.

“Itu betul, tapi konteksnya dalam masalah kamu ini kurang pas. Kalau jatuh cinta sama Tuhan sih harus tiap hari. Bukan hanya pelarian. Karena cinta sama Tuhan nggak akan pernah berujung kecewa”

“Capek mbak, jatuh cinta trus patah hati!” dia mulai cemberut. “Pasti ujung-ujungnya gitu lagi”. Euleuh, neng geulis… patah hati berapa kali sih?

“Itu karena jatuh cintanya nggak SMART” kataku, mengutip sebuah istilah yang kubaca di sebuah majalah remaja.

“Yang bagaimana itu mbak?” tanyanya, heran.

“SMART = Siap Menerima Apapun Resiko yang Terjadi”

***

Obrolan sore kemudian berlanjut. Obrolan yang tidak hanya untuknya, tapi untuk diriku sendiri. Sebab itulah arti nasehat yang sebenarnya. Menasehati diri sendiri sebelum menasehati orang lain atau sebenanya apa yang disampaikan pada orang lain justu harus disampaikan juga pada diri sendiri.

Setiap pilihan berbuah konsekuensi, sebuah pilihan berbuah resiko.

Yang memiliki pasti akan kehilangan. Batasannya hanya masalah waktu dan cara. Sebab hanya Tuhan yang beredar pada waktu yang tidak berakhir.

Pilihan untuk memiliki ‘rasa’ akan berbuah konsekuasi merasakan rasa yang berbeda. Kita mengetahui rasa pahit sebab pernah mengecap rasa yang manis. Kita mengetahui rasa bahagia sebab telah pernah merasa derita atau kecewa.

Dan, tentang kehilangan cinta… dengarlah apa yang dikatakan oleh Samuel Butler, “It is better to have loved and lost than never to have lost at all”