couple-buying-fruit-from-an-outdoor-market-~-AA000888Beberapa waktu belakangan, aku kerap menemukan beberapa “penganan aneh” dalam tas lunch box Aa.

Dimulai dengan kerupuk yang setiap hari berganti jenis yang kadang ketika sisanya kucicip sudah alot. Lain hari kacang kulit yang sudah melempem atau kacang telor yang rasanya nggak karuan. Lusanya brondong jangung yang pakai karamel dan dibentuk persegi dibungkus plastik, serta brodong beras yang kalau dibuka langsung awur.

Ah, paling ini jajanan dikasi temen sekantor Aa, demikian tebakanku sambil “membereskan” sisa penganan ini, seberes-beresnya hingga tidak ada tersisa di meja makan. Kalau rasanya normal sih aku masih mau makan, tapi karena nggak karuan jadi aku nggak tega juga buat memakannya.

Hingga suatu hari di akhir minggu, kembali aa pulang dengan sekantong plastik cemilan aneh itu.

“Apaan ini a?” kulongokkan kepalaku kedalam kantong plastik hitam yang diletakkanya di atas meja.

“Cemilan, aa suka tuh dik” katanya, ketika aku mengangkat satu pak brondong yang ketika kuhitung isinya sepuluh bungkusan kecil berondong beras persegi.

Aku menarik nafas, Astaga… Aa ku ini! Kutekan brondongnya apa masih padat atau sudah awur, kalau masih padat artinya camilan ini masih baru, ternyata masih cukup padat.

Giliran kacang telornya kubuka, dan beberapa butir kumasukkan ke mulut, hooeeekkk!! iksss, rasanya bikin aku bersumpah nggak akan makan kacang telor yang Aa bawa lagi!

***

Setelah menyiapkan segelas minuman hangat, aku menyusul Aa ke kamar.

“Aa, itu camilan yang Aa bawa dapat dari mana sih?” tanyaku. Sambil menahan diri untuk nggak segera ngoceh masalah rasa kacang telor yang aujubilah itu.

“Oh, yang tadi?,” kata Aa, sekilas melirikku tak acuh. “Beli…” lanjutnya singkat.

“Hah?! Beli… Beli di mana?” kataku mulai panik dan siap menumpahkan kekesalan. Cemilan begitu nggak perlu di beli, kalau mau kerupuk biar aku siapain aja dari rumah. Toh, stok kerupuk udang cirebon yang masih mentah juga tersedia di dapur, kalau mau nyemil kacang sekalian aja kacang yang ‘beneran’ yang merek kucing, kelinci, merpati atau apa ajalah yang udah ketauan kualitasnya.

“Kasian dik…” kata aa tiba-tiba, membungkam mulutku yang sudah setengah terbuka siap menghamburkan kata-kata. Weleh, kasihan… ini lebih aneh lagi.

“Kasian apanya sih A? yang jelas dong” tukasku.

“Kasian sama simbok-simbok yang jual dik” kata aa pelan. Kini ia bergeser kedekatku. Ia mulai menuturkan ceritanya “Setiap pagi, aa ngelewatin lorong trotoar tempat simbok itu jualan. Pagi-pagi dia udah ada, tapi kelihatan dagangannya nggak begitu laku dik, tapi kadang sampai malam simbok itu masih jualan juga”

Kini aku menghela nafas, kedongkolanku menguap seketika.

“Emang jualan apa aja?” tanyaku.

“Ya itu yang sering ada di lunch box Aa. Ada minuman juga, permen, tissue dll. Dan kalau Aa beli dagangannya kelihatannya simbok senang banget dik, jadinya ya keterusan tiap hari. Nggak pa pa kan dik?”

Hatiku meleleh, tersenyum mendengar pertanyaannya yang tak perlu jawaban itu. Justru kini aku yang menemukan jawaban perihal peganan aneh yang kerap dibawa oleh aa. Dari ceritanya, aku bisa merasakan bahwa aa tidak sekedar membeli, karena dengan membeli dagangan simbok tua itu Aa menghargai perjuangannya, tidak dalam bilangan besarnya nilai rupiah tapi senilai harapan. Harapan simbok akan kedatangan pelanggan setia dan harapan Aa melihat binar mata dari seorang ibu tua.

Aku mendongakkan kepalaku, mendekat ke pipi Aa lalu mendaratkan sebuah kecupan. Ingin juga kukecup hatinya yang lembut, hati yang tidak hanya menyangiku tetapi menyayangi siapa saja.