Assembly of Butterflies by danctheduck“Pake kamera ning aja, Ma” kataku menawarkan.

“Bisa langsung dilihat hasilnya?” tanya Ma.

“Bisa Ma, ada layar buat ngelihat hasilnya. Nanti sampai Jakarta langsung kita cetak.” Aa menimpali.

“Yang langsung cetak juga nggak apa-apa kali, A…” tawarku. “Beberapa foto aja, kan asik juga kalau langsung kelihatan hasil fotonya gimana”.

“Boleh juga, adik tanya deh sama tukang fotonya”.

Aku langsung berbalik, menghampiri sekelompok akang-akang tukang foto yang cukup banyak di daerah wisata ini. Berbekal sebuah kamera digital dan printer foto, mereka menawarkan jasa foto langsung jadi kepada para pengunjung.

Setelah tawar menawar dari harga lima belas ribu rupiah per satu lembar foto, akhirnya sepakat sepuluh ribu rupiah. Si akang menuntun kami ke tempat yang posisinya cukup bagus. Di belakang kami berdiri terdapat jejeran gunung dengan langit yang biru, serta kawah yang berwarna hijau sewarna telur asin.

Aa, aku, Ma dan Pa berjejer berdekatan.

Klik!

“Ini Bu, silakan dilihat dulu hasilnya, kalau cocok saya langsung cetak” kata akang tukang foto mengasurkan kameranya.

“Wah, bagus ini Ning. Langsung dicetak aja” kata Ma.

Sembari menunggu Akang Tukang Foto menghubungkan kameranya ke printer kecil yang ia sandang di tas mungilnya serta mencetaknya, aku mengambil beberapa foto Ma dan Pa, serta Aa dengan kamera digital milikku sendiri.

“Ini Bu, sudah jadi” suara si Akang menghentikanku sejenak dari keasikan memotret pemandangan kawah.

Benar kata Ma, si Akang cukup pintar, hasil fotonya tajam dan proporsional. Kutatap sekali lagi hasil cetakannya, tiba-tiba hatiku berdesir, berdebar oleh suatu hal…

Setelah membayar beberapa foto, aku mendekat ke arah Pa dan Ma serta Aa yang sedang duduk di saung-saung tempat istirahat dan menyerahkan foto-foto hasil bidikan si Akang. Sesaat kemudian aku kembali menghampiri si Akang.

“Akang, foto yang tadi belum dihapus kan?”

“Belum Bu, ada apa?”

“Tolong dong dicetak selembar lagi” pintaku.

“Tapi harganya sama ya Bu” katanya.

“Oke, tidak apa-apa”

Andai ia tahu foto ini jauh lebih berharga dari harga yang ia minta. Foto yang membuat jantungku berdebar dan nyaris membuat Ma bertanya-tanya karena air mataku tiba-tiba menggenang dan membuatku cepat-cepat membalikkan badan dan menyekanya diam-diam.

Foto yang mampu melipatgandakan kebahagiaanku, yang membuat liburan kali ini seribukali lebih indah dari yang kuduga. Padahal kesempatan berlibur bersama Pa dan Ma saja sudah membuat hatiku hampir meledak oleh rasa senang.

Dan foto itu…

Rasanya ingin kucetak seribu lembar dan kubagikan pada siapa saja, pada Akang Tukang Foto, Akang pemetik kecapi yang melantuntan lagu sunda, Akang Tukang Parkir, Akang penjual strawberry dan pepino, Akang pengayuh sampan dan siapa saja yang kutemui di sepanjang desa ini hingga ke Jakarta saat kami kembali nanti.

Aku ingin mereka mendengar cerita yang dibisikkan foto itu. Tentang aku dan Aa, tentang cinta kami, tentang Pa dan Ma, tentang cinta mereka pada kami, tentang penerimaan mereka terhadapku, tentang apa yang kusebut “keluargaku”, meski aku tidak yakin seberapa di antara mereka yang mampu mendengar cerita lirih itu.

***

“Ayo Ning, kita naik lagi. Ma udah mulai kedinginan nih” Ma menyentuh lenganku. Aku tersentak dari lamunan, Ma sudah berada di sampingku.

“Mari Ma…” jawabku sambil menggandeng lengan Ma yang lembut. Kutawarkan untuk menenteng tas yang disandang Ma. Aa menggandeng Pa berjalan beberapa langkah di depan. Kami melangkah pelan, menaiki satu demi satu undak-undak setengah melingkar di kaki bukit.

Sebelum pemandangan eksotis ini hilang dari pandangan, kuajak Ma membalikkan badan, menatap kawah kehijauan di bawah langit yang biru terang. Ada takjub yang belum lekang dari pandangan Ma.

Dan aku, pandanganku naik jauh ke atas, dari balik bukit beraroma belerang dan pohon-pohon kokoh berdahan hitam kulihat ribuan lembar foto kami berjatuhan dan terbang bagai ribuan kupu-kupu di atas Bantimurung.