YellowPagesCoversNada dering Shasay mengalun samar-samar di udara, aku hapal itu sepertinya bunyi handphone yang kuletakkan di samping printer.

Kutuntaskan pekerjaanku di kubikel ujung dan bergegas bangkit dan berjalan ke kubikelku, berharap aku dapat mengangkatnya sebelum nada terakhir selesai mengalun.

Hup, satu langkah lagi…

Aku baru hendak mengangkat, tapi ternyata sedikit terlambat. Kuperiksa log-nya, dari kantor Aa. Kalau sebentar lagi Aa tidak telepon lagi berarti aku yang harus telepon balik, pikirku.

Sedetik kemudian, giliran handphone GSM-ku yang menjerit. Kini dari nomor GSM Aa. Wah, sepertinya benar-benar ada yang penting nih.

“Hal…,” suaraku menggantung demi mendengar suara Aa memenuhi speaker HP.

“Kok aku telepon ke HP CDMA nggak diangkat sih?”

Aku tersentak dan memundurkan kepalaku menjauh dari handset. Nada suaranya kok galak begini.

“Lho, Ning barusan nyampe ke kubikel, nggak sempet angkat…” aku membela diri dengan nada suara ‘SI’ sesudah ‘LA’ pada tangga nada. Lha, gimana enggak, pagi-pagi udah di protes dengan nada-nada tinggi. “ada apa sih A…kok panik gitu?” lanjutku, tapi dengan nada suara yang sudah direndahkan.

“Rumah kita erte erwenya berapa sih?” tanya Aa dengan nada suara yang masih panik.

Astaga!!! Masa sih hanya urusan alamat rumah jadi panik begini.

“Oh, erte -erwe…” kataku sambil merogoh dompet di dalam laci. “Buat apa sih A?”

“Pak Wib minta alamat rumah lengkap dengan erte-erwenya, mana gue hapal”

“Ini, Jl. Anu blok sekian-sekian, erte…”

“Sebentar, jangan cepat-cepat. Sekalian aku ngetik”

“Oke, aku ulangi ya. Jalan Anu…, blok sekian-sekian…, erte 2…, erwe 11, keluaran ini…, kecamatan ini…, Jakarta itu…, Kode Pos satu satu sekian sekian. Jelas kan?” Aku memastikan alamat yang kudiktekan cukup jelas.

“Iya, sudah jelas” Kali ini aa menjawabnya dengan nada suara lega. “Eh dik, kamu kok bisa tau dan hapal sih he he he?”

“Ya hapal dong. Masa alamat rumah sendiri nggak hapal sih A?”

“He he he, tadi aku lupa, rt-nya 2 atau 11. takut kebalik-balik rt dan rw-nya. Kamu kok hapal sih dik? hayooo sering surat-suratan ya…” Aa mulai menggodaku.

Halah!

“Surat-suratan sama siapa? Enak aja… Aku tuh selalu nyimpan potongan kartu nama yang berisi alamat lengkap rumah kita di dalam dompet, supaya nggak bingung kalau ngisi formulir atau apa aja yang butuh alamat lengkap”

“He he he, gitu ya.”

“Lagian, Aa ini, masa cuma masalah itu aja kok panik sih?”

“Iya, soalnya Aa nggak begitu yakin kalau adik hapal. Mana sebel juga sama Pak Wib, ngapain juga mesti pake erte-erwe. Alamat biasa aja juga nggak bakal nyasar kok.”

“Ya udah, yang penting udah beres kan”

“He he he. Terimakasih ya dik…”

***

Setelah beberapa tahun menjalani hidup bersama Aa, pagi ini aku sadar bahwa pengetahuanku dan pengenalanku terhadap Aa semakin bertambah. Aku bertambah cepat membaca’ nada suaranya. Nada suara kesal, marah atau panik.

Mengenali pasangan bukanlah proses sebulan dua bulan. Dan setelah sekian tahun, aku semakin sadar bahwa belum sepenuhnya aku faham tentang Aa. Sepanjang waktu yang akan aku jalani dengan aa adalah proses belajar, proses mengenali, proses memahami, proses mengerti, proses menerima dan proses memberi reaksi yang sesuai.

Satu hal lagi, pagi ini aku seperti semakin diingatkan bahwa ada baiknya aku harus lebih siap melengkapi stok data dan informasi hal-hal yang berkaitan dengan Aa, aku, dan kami, untuk mengimbangi kecuekannya pada banyak hal-hal kecil yang dianggap tidak begitu penting.

Ah, ternyata menjadi menejer rumah tangga tidak kalah ribet dibanding menejer kantoran. Ada banyak jabatan rangkap dengan tugas-tak-terduga. Termasuk harus siap menjadi “Buku Kuning alias Yellow Pages”.