men-women-stand-shop-looking-down-clothing-shopping-bag-~-ingchyss0021Hampir tengah malam, tapi aku dan yang kebetulan malam itu hadir, masih asik berbincang topik hangat, apalagi kalau bukan topik cinta.

“Seharian aku dan pacarku memanjakan diri, nemenin dia ke salon dan pijat, trus jalan-jalan sampai capek. Tapi menyenangkan, Ning” katanya dengan raut berseri-seri dan senyum yang sumringah.

“Asik dong, menghabiskan waktu dengan pasangan memang selalu menyenangkan” kataku sambil senyum membayangkan keceriaan mereka.

“Tapi buntutnya bokek, ha ha ha” ia tertawa terkekeh.

“Halah, kamu ini. Mana mungkin bokek. Kantong boleh kosong tapi kan rekening masih tebal” olokku sambil menjulurkan lidah.

“Ha ha ha, amin…amin! mudah-mudahan begitu, Ning” jawabnya arif. “Eh Ning, aku jadi ingat tentang candu” katanya. Mimiknya mulai serius.

“Ada apa dengan candu?” tanyaku keheranan.

“Iya, memanjakan kekasih itu kok rasanya seperti kecanduan ya? apa itu normal, Ning?” tanyanya, menatap mataku dalam-dalam.

“Normal-normal aja tuh, aku juga begitu. Rasanya ngelakuin apa aja mau, asal bisa melihat mata Aa berbinar senang” Jawabku. “Yang penting masih terkontrol” lanjutku lagi.

“Terkontrol bagaimana nih Ning?”

“Lakukan semampu kamu, dengan tulus dan jangan sampai memaksakan diri”

“Aduh, rasanya aku kok jadi hitung-hitungan ya, Ning” ada rasa tidak enak dalam nadanya suaranya.

“Bukan hitung-hitungan, tapi perhitungan itu perlu juga untuk meminimalkan penyesalan” kataku. Wah, topiknya semakin serius nih. Kurasa aku perlu menjelaskan sesuatu agar dia tidak salah kaprah dengan ucapanku.

“Begini, namanya perempuan pasti senang dan bahagia dengan materi, aku juga begitu. Dan kalian pasti senang memanjakan pacar dengan apapun. Aku percaya, pacar kamu baik. Niat kamu menyenangkan dia juga baik, tapi menurut aku perlu juga upaya kamu untuk menjaga dia tetap baik dengan tidak selalu memberi perhatian dengan sesuatu yang berbau materi”

Dia menganguk-angguk, sambil mengelus-elus dagunya dengan telunjuk jari yang menopang di atas meja.

“Kalau dia benar-benar mencintai dan menyangi kamu dengan tulus, dia akan mengerti bahwa hati adalah pemberian yang jauh lebih berharga dari materi”

Ah… aku sudah kebanyakan ngomong nih, pikirku. Sudah seperti oma-oma beruban menasihati cucunya.

***

Pengalaman adalah guru yang terbaik. Pengalaman Aa, pengalamanku, pengalaman beberapa teman diskusi bisa jadi kitab terbuka yang jadi rujukan dan landasan teori kehidupan.

Benar, cinta membuat kita selalu ingin membahagiakan pacar atau kekasih dengan cara apapun. Memberilah karena ingin memberi, bukan karena berharap dia tetap menjadi pacar atau harapan lain apapun itu. Sebab hati tidak bisa diikat oleh materi. Bila suatu hari hubungan tidak dapat dipertahankan tidak akan ada penyesalan, tidak ada tuduhan pahit memanfaatkan atau merasa dimanfaatkan secara materi.

Pada teman-teman perempuanku, yang merasa tersanjung dengan limpahan materi dari kekasih hati semoga tidak jadi lupa diri, tidak menjadi perempuan yang menjadi penyesalan bagi orang lain.

***

Setelah menyudahi percakapan panjang, dia pun pamit. Matanya sudah merah menahan kantuk. Kututup pintu rumah setelah memastikan semua kunci sudah rapi terpasang.