Sebelas Januari bertemu,
menjalani kisah, cinta ini
Naluri berkata,
engkaulah, milikku

Kapan pertama kali kita bertemu?!

Tepatnya tahun 2004. Jangan bercanda ah…yang jelas, bukan sebelas Januari. Tapi lagu ini begitu manis, Kasih… Seperti lagu ini dituliskan untuk kita berdua (kamu sering protes kalau aku bilang begitu. Katamu, mana mungkin kisah kita diangkat jadi lagu cinta oleh musisi-musisi itu, tapi aku selalu bersikeras, ini lagu memang buat kita, dan akhirnya kamu selalu menyetujuinya daripada lenganmu membiru karena gigitan gemasku)

Padamu, aku (mungkin) tidak jatuh cinta pada pandangan pertama. Tapi aku langsung jatuh sayang. Memandangmu dan mengenalmu pada kali pertama menggoreskan sebaris niat dalam hatiku, bahwa aku ingin memilikimu. Memilikimu untuk kubahagiakan.

Jangan bayangkan aku sudah tau bagaimana caranya atau aku tahu jalan seperti apa yang akan kutempuh. Tidak. Aku tidak tahu sama sekali. Hanya satu hal yang kupercaya, kata hatiku, bahwa aku bisa menjalaninya bersamamu. Apa dan bagaimanapun keadaannya. Aku akan membahagiakanmu dan mencintaimu dengan caraku.

Bahagia selalu dimiliki,
bertahun menjalani bersama mu
Ku nyatakan bahwa,
engkaulah, jiwaku

Memilikimu adalah kebahagiaan, tapi menjadi milikmu jauh lebih membahagiakan, lebih dari apa yang pernah kubayangkan.

Meski musim telah silih berganti, tapi rinduku tetap lekat sepanjang tarikan nafas. Bagaimana aku bisa berada jauh darimu? sedang jiwaku selalu tertuju padamu.

Akulah penjagamu
Akulah pelindungmu
Akulah pendampingmu
Di setiap langkah-langkahmu

Kujaga hatimu dengan kasih sayangku, seperti upayamu untuk menjagaku dengan segenap daya yang engkau punya. Kulindungi hatimu dengan tulusku, hingga tak perlu engkau gamang dengan segala resah yang mengintai pada jalan panjang yang terbentang di depan kita.

Kudampingi kemana langkah yang engkau tuju, dalam suka kita berbagi tawa, dalam duka kita saling menghapus air mata, menjadi sandaran kala lelah menerpa, menjadi penyemangat saat masa-masa lemah. Ada tanganku dalam genggamanmu kala kita menata langkah menuju masa depan, menyiapkan yang terbaik agar kita tetap bisa tersenyum di masa tua, menguntai permata hikmah, mensyukuri setiap hal yang Tuhan anugerahkan.

Pernah ku menyakiti hatimu,
pernah kau melupakan janji ini
Semua karena, kita ini, manusia

Tak berharap aku engkau menjadi sempurna. Kuterima segala lebih dan kurangnya, sebab aku juga bukan perempuan yang sempurna.

Dengan segala keterbatasan, kita jalin kisah sempurna untuk kehidupan kita. Sempurna seukuran manusia. Sempurna dalam kesederhanaan.

Kasih, bagaimana aku bisa lupa pada masa-masa sendiriku. Pada hari-hari dimana aku tak henti meminta pada Yang Kuasa akan sebentuk cinta yang tulus, meminta kesempatan untuk mengecap rasa indah mencintai dan dicintai.

Dan, ternyata Tuhan kirimkan engkau sebagai jawabannya.

Kau bawa diriku ke dalam hidupmu
Kau basuh diriku dengan rasa sayang
Senyummu juga sedihmu, adalah hidupku
Kau sentuh cintaku,
dengan lembut…
dengan sejuta warna…

Lirik dari Sini