Berhubung bulan ini dan beberapa bulan ke depan akan banyak sekali anggaran yang dibutuhkan, aku hampir pesimis rencana kami untuk meminang dia akan terwujud. Aku mengajukan saran untuk membeli yang yang second saja, tapi berhubung kekhawatiran akan bermasalah (garansi dll), akhirnya sempat tertunda dan hilang dari bahan obrolan aku dan aa.

Kali lain ketika hendak menyelesaikan urusan di luar rumah sementara ada file yang juga harus diselesaikan di depan komputer, kehadiran dia kembali menjadi topik hangat. “Wah, kayanya kita bener-bener butuh laptop deh, dik” kata aa, mengingatkan. Aku mengangguk semangat, mengiyakan.

“Eit, tapi nggak boleh buat ngegame lho…” kataku buru-buru, sambil mendelikkan mata yang ditanggapi dengan juluran lidahnya, mengejekku. Lalu kami sama-sama tertawa.

“Dik, kita patungan berapa nih?” kata aa sambil mengedipkan mata. “Kalau harganya 5jutaan, adik patungan 2 juta, mau?”

“Boleh aja a, wah kalau harganya segitu udah dapat yang bagus tuh a”, jawabku antusias.

“Nah, kalau begitu jatah aa make lebih banyak dong…, asiik asiikk asiiikk bisa puas main game sambil nungguin adik belanja”.

“Nggak boleeeee!!!”

“Ha ha ha ha”

***

Dan kemarin puncaknya, aa menyeretku ke pusat perbelanjaan di jalan Sudirman, konon kabarnya pilihan merek dan tipe laptop di sana cukup bervariasi, baik barang second atau yang gress.

Benar saja, di lantai 1 terdapat komputer square yang memajang berbagai macam laptop, dari yang harga belasan juta sampai yang murah meriah, apalagi dengan pelayanan yang bersahabat yang bersedia memberikan saran-saran (meski nggak selalu tepat buat diikuti :P ). Seperti ketika aku meminta saran pilihan laptop di bawah tujuh jutaan dengan prosesor terbaru dan dukungan memory yang cukup besar, si penjaga menyarankan sebuah merek lokal yang sedang promo.

Sekilas aku cukup terpukau, dengan spesifikasi yang cukup bagus (yang dimiliki oleh laptop diatas 7jutaan) laptop tersebut ditawarkan kurang dari 6 juta. Hmm, kok bisa ya?

Setelah kucoba menjalankan beberapa program yang ada, baru ketauan penyebabnya. Astaga! cepat sih cepat, tapi getarannya sangat terasa, berisik dan cepat terasa panas. Rasanya seperti nyetir truk.

Setelah membandingkan harga, model, merek dan spesifikasi, aa jatuh hati pada zyrex 13″ yang berwarna putih mutiara. Tapi aku kurang setuju, karena kesannya kurang kokoh. Belum lagi kalau kena noda di sana sini.

Sony VAIO dan Toshiba memang memukau, tapi itu artinya harus merogoh kocek jauh lebih dalaaaaaam.

Akhirnya pilihan jatuh pada Acer Travelmate 6219 dengan upgrade memory ke 1GB. Tak membawa zyrex pulang Aa tidak langsung patah hati, karena ia justru jadi jatuh cinta pada ukuran Acer 6219 yang mungil dan bobot yang ringan, dan tentu padaku…, yang tak berhenti tersenyum sepanjang jalan, sepanjang hari, sepanjang malam… :D