“Dik, tolong beliin pulsa buat aa ya” katanya lewat telepon di suatu sore. Aku mengiyakan. Tapi tidak dengan sepenuh kesadaran. Pikiranku langsung melompat dari satu catatan memori ke catatan memori yang lain. Hm, seingatku sejak awal bulan ini sudah cukup sering aa meminta tambahan pulsa dari jatah yang seharusnya. Sebenarnya tidak apa, karena ia memang sudah menyampaikan alasannya.

“Telepon kantor pake pin segala,dik. Males. Nggak praktis. Sementara aa perlu segera menuntaskan pekerjaan” katanya seminggu kemarin ketika kutanya mengapa pulsanya begitu cepat berkurang.

Dan sekarang, Aa minta pulsa lagi. Gawat! Uang belanja kami masih cukup nggak ya?

Aku bergegas pulang ke rumah setelah 2 lembar 50ribuan terakhir di dompetku pasrah berpindah tangan di toko penjual pulsa elektronik. Setiba di rumah, kubongkar semua penyimpanan uang. Dari kantong-kantong tas kerja, dompet, sampai laci lemari. Cukup banyak lembaran yang kutemukan, sayangnya semuanya berwarna hijau. Lembar seribuan.

Sejenak aku hitung-hitung kebutuhan sampai akhir bulan. Sepertinya tidak akan cukup. Duh, Tuhan…bagaimana jika besok ada keperluan yang mendesak sementara aku tidak pegang uang. Ah, sudahlah. Tuhan selalu punya cara. Aku hanya berharap semua akan baik-baik saja.

“Daripada minta tambahan uang belanja dari Aa, mending aku ambil tabunganku saja”, pikirku mantap. Tidak usah ngasi tau aa, sebab dia kurang setuju kalau tabunganku terpakai untuk urusan sehari-hari. “Mending dijaga saja dik, buat tambahan kita beli rumah”, begitu katanya. Sesudah berkata begitu, biasanya aku dan Aa tertawa. Tabungan tak seberapa, mungkin hanya cukup buat beli pintu dan jendelanya saja. Tapi toh, kita harus optimis kan?

Setelah merapikan lembaran uang seribuan hasil perburuanku, aku istirahat melepas lelah sambil menonton TV.

Tiba-tiba terdengan pintu diketuk. Bergegas aku ke ruang depan. Siapa gerangan malam-malam begini. O, Ternyata Pak M.

Setelah berbasa-basi sebentar, “Bu, ini setoran untuk bulan ini. Maaf kalau masih kurang 100rb” dengan agak sungkan dia mengangsurkan amplop ke tanganku.

Nyees! kuterima amplop itu dengan hati seperti diguyur air sejuk. Tak peduli isinya kurang dari biasanya, justru aku yang tak henti mengucapkan terimakasih hingga Pak M keheranan, dan memilih buru-buru pamit. Hi hi hi…

Bagaimana tidak aku kegirangan. Baru sejam yang lalu aku kelimpungan mengumpulkan selembar demi selembar uang ribuan dengan hanya satu keyakinan bahwa Tuhan selalu punya cara melepaskanku dari gundah ini. Aku bahkan sudah berniat diam-diam mengambil tabungan tanpa sepengetahuan aa, agar aa tidak perlu repot menambahkan uang belanja, tapi ternyata… uang yang kuterima cukup untuk biaya hidup sampai akhir bulan. Betapa hebatnya Tuhan punya Kuasa. Terimakasih Tuhan, sudah menyuruh pak M datang, karena biasanya dia juga datang akhir bulan.

***

Setiba aa di rumah, tak sabar aku menceritakan semuanya. Dari A sampai Z. Dari ngumpulin uang sampai mau ambil tabungan. Ceritaku bertubi-tubi sambil membantu dia membuka kancing seragam kantornya. Dia tersenyum. “Maaf ya dik, uang belanja kita cepat habis. Kepake buat beli pulsa dan flashdiks” katanya lembut dengan rona sesal. Lalu dia bawa aku ke dalam pelukannya dan mengecup lembut dahiku.

Aku serasa menjadi perempuan yang paling bahagia di atas dunia.

“Eh, sini deh dik…” dia gapai lenganku mendekati lemari. Dari dalam laci dia keluarkan sebuah map hijau. Di dalam map ada sebuah amplop putih. Surat apa ya? hatiku bertanya-tanya.

Lalu aku dan aa duduk di atas lantai. Kujulurkan kepalaku.

“Beberapa bulan yang lalu Pak Anu memberikan amplop ini buat Aa, sebagai bonus kerja. Aa langsung simpen aja. Coba nih adik buka”.

Aku lalu beranjak mengambil gunting dan memotong ujung amplop putih itu. Kukembalikan amplopnya pada Aa, biar Aa yang buka dan menghitung jumlahnya. Pasti senang rasanya membuka sendiri bonus dari hasil kerja kerasnya.

Aku ikut berdebar. Selama ini aku dan Aa selalu berusaha saling menghargai privacy masing-masing. Apa yang dia simpan, aku tidak ingin mengorek-ngoreknya. Apa yang dia diamkan, aku tidak cari tau. Keyakinanku akan lurus hatinya dalam hal apa saja membuatku aman dan tidak gundah karena prasangka.

Satu demi satu lembaran berwarna merah cerah itu dihitungnya pelan.

“Puji Tuhan…” bisiknya lirih.

Kusambung dengan “Alhamdulillah…”

Aku dan Aa larut dalam syukur yang penuh. Tuhan, betapa Engkau tak henti memberkati kami meski keadaan kami hanya begini. Engkau hanya tau melimpahi tak peduli betapa minimnya bakti yang bisa kami beri.

“Dik, uangnya boleh Aa pakai kan?”

“Ya, tentu boleh sekali A’ “

“Makasih ya dik, setengahnya aa mau pakai buat bayar perpuluhan, ingatkan Aa untuk membawanya ke gereja hari minggu besok. Dan ini…,” dia angsurkan ketanganku, “…ini adik pegang, buat belanja kita”

Hatiku membuncah haru. Kugenggam pemberiannya dengan bahagia dan rasa terimakasih pada Tuhan yang berlipat. Kugapai tangannya, dan kubawa punggung tangannya dalam ciuman penuh hormat dan kasih.

Cinta memang tidak butuh hitungan. Tidak menghitung berapa yang engkau beri dan yang engkau terima. Tidak melulu menimbang hak dan kewajiban. Tidak selalu mengingat yang kau terima sebelum memberi. Tapi, sering aku merasa bahwa apa yang aku lakukan buat Aa belumlah sepadan dengan kasih sayang dan seluruh ketulusannya dalam menjaga dan menggerakkan roda kehidupan rumahtangga kami agar selalu berjalan mulus. Dan itu membuatku selalu ingin lebih, lebih, dan lebih mencurahkan segenap kasih sayang yang tak sekedar kata namun juga sikap dan laku.

Meski aku hanya seorang perempuan biasa dengan segala kekurangan, tapi Aa pantas menerima yang terbaik dariku, karena itu tidak ada kata lelah untuk memperbaiki diri. Tidak ada pamrih dalam mencintai dan memberi.