Bukan…bukan…!
Sumpah bukan!
Aku bukan orang yang sabar. Setidaknya kurang sabar dan tidak sabaran. Tapi kali ini aku mengajak diriku untuk belajar tentang sabar.
Setiap aku mengadu pada Aa atau mengeluhkan tentang sesuatu hal, kata pertama yang dia ucapkan adalah, “Sabar ya, say…”. Ucapannya mampu membuatku menahan diri, menguatkan diri dan menghidupkan tombol pikiran positifku. Tanpa sadar, ucapan untuk sabar ini menjadi obat pertama dalam suatu masalah. Buatku dan buat Aa. Ketika suatu hari ia menyampaikan keluhnya, ucapan spontan yang terucap dari bibirku ternyata, “Sabar ya, A’…”
Buat kami kata “sabar” ternyata mampu melonggarkan ikatan kesal, sumpek, sakit dll, juga mendinginkan rasa marah yang membakar. Membuat hati terasa lebih longgar dan adem. Lebih manjur dari analgesik manapun.
Tapi pada kenyatannya tidak selalu mudah menerapkan sabar ini. Ibarat api, kita butuh air yang cukup untuk memadamkannya, semakin besar kobaran api semakin dibutuhkan banyak air untuk memadamkannya.
Hingga suatu saat aku berpikir, mulai dari mana kah harus menyiapkan kesabaran? Sebelum melakukan sesuatu atau sesudahnya?
***
Ketika seorang teman bercerita tentang cintanya yang kandas di rerumputan *halah, ebiet banget!*, kukatakan padanya, “Sabar ya, friend…”, tapi sejurus kemudian aku tersadar dan sebuah pertanyaan konyol muncul di kepalaku, “apakah sabar itu setelah cintanya kandas, atau ini akibat ketidaksabarannya ketika akan/sedang menjalin cinta?”
Lho, masa jadian kudu sabar dulu?
Kupikir sih begitu.
Sabar sebelum jadian, sebelum menikah atau sebelum melakukan suatu hal, berarti mempertimbangkan segala sesuatunya, membuat perhitungan matang. Menyiapkan diri, lahir dan batin. Tidak hanya tergesa-gesa mengambil keputusan.
Sabar adalah menakar ukuran air yang tepat untuk seukuran beras ke dalam panci sebelum ditanak. Sabar dalam memasak adalah menyalakan api dengan nyala yang sedang, tidak kekecilan dan tidak kebesaran hingga nasi jadi kerak atau gosong
Lalu bila karena satu dan lain hal —misalnya ternyata berasnya jenis yang lembek dan air ukuran biasa aja sudah kebanyakan, atau karena buru-buru asal tuang air aja— beras yang ditanak bukan jadi nasi tapi malah jadi bubur, maka sabar adalah berupaya mengolah bubur hambar menjadi bubur ayam yang nikmat. Menambahkan bumbu dan garam, suwiran ayam dan emping mlinjo. Yuuummy deh!. Bubur beras tetap dapat dinikmati, bikin kenyang dan setidaknya belajar tentang suatu hal yaitu: setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan. Dan orang bijak telah mengajari bahwa salah bukan jadi masalah, selama mau bangkit dan belajar dari kesalahan, sebab keledai saja tidak mau jatuh pada lubang yang sama.
Ah, ribet amat sih. Gue gak bisa masak! praktisan juga beli di warteg atau nasi padang.
Setelah mempertibangkan segala sesuatunya, lalu jadian dan membangun hubungan, dibutuhkan kesabaran yang cukup untuk menjalaninya. Seberapa besar kesabaran yang dibutuhkan akan sebanding dengan sebesar apa tujuan awal membina hubungan. Kalau asal jatuh cinta dan pengen jadian (hanya pengen punya pacar atau terbebas dari status jomblo) maka siklusnya akan berhenti pada waktu yang singkat. Bila gak sabar ngadepin pasangan dengan kekurangan di sana-sini, nggak sabar menambal kebocoran hubungan, gak sabar menghadapi tantangan dan hambatan, nggak teguh menaklukkan badai dan gelombang maka percayalah, kapal yang kalian tumpangi mungkin akan karam dalam hitungan bulan.
Tapi bila memang tidak ada lagi yang bisa dipertahankan, ya jangan konyol dengan membiarkan diri tenggelam bulat-bulat, apalagi jadi santapan hiu. Itu sih bukan sabar namanya, tapi konyol!. Pengalaman adalah pelajaran paling berharga, dan nakhoda ulung tidak lahir di lautan dangkal.
Berikan kesempatan pada diri sendiri untuk berasakan sakit dan pedih karena cinta atau karena hubungan yang kandas. Setelah itu bangkitlah dengan senyum dan keyakinan bahwa diri sendiri cukup berharga untuk mencintai dan dicintai, hanya mungkin belum bertemu orang yang tepat.
Siapkan kesabaran untuk memulai siklus dari awal. Sabar menanti waktu yang tepat, sabar memilih pasangan, sabar memahaminya, sabar sebelum mengambil keputusan, sabar dalam menjalani keputusan untuk membina hubungan, sabar dalam kebahagiaan dan sukacita, sabar menghadapi masalah, sabar dalam memahami, sabar menerima segala konsekuensi, sabar bila akan mengakhiri atau memutuskan hubungan, sabar dalam menata hati dan perasaan, sabar menghadapi dukacita, sabar untuk tak henti belajar dari kehidupan, dan sabar untuk bangkit dan membenahi diri, dan seterusnya. Sebab kehidupan adalah siklus yang akan berulang, sampai tarikan nafas berakhir.
*Salut deh, Anda termasuk orang yang sabar bila membaca tulisan ini sampai tuntas*
Tuhan, jadikan sabar selalu indah buat aku dan Aa…
Jumat, Juni 22, 2007 at 1:38 pm
Aku emang ga bisa dimasukin ke dalam kategori orang yang sabar… tapi kalo dalam urusan hubungan dengan orang tercinta aku termasuk sabar…
Dan pada akhirnya aku juga bisa dikategoriin kpd orang sabar kan Ning… karena berhasil menuntaskan ngebaca tulisan Ning dg sabar…penuh penghayatan lagi.
Tapi bila memang tidak ada lagi yang bisa dipertahankan, ya jangan konyol dengan membiarkan diri tenggelam bulat-bulat, apalagi jadi santapan hiu. Itu sih bukan sabar namanya, tapi konyol!.
Ku suka pada bagian ini
Sabtu, Juni 23, 2007 at 4:07 am
aku termasuk org yg sabar, menurutku entah org2 yg mengenalku. selama suatu masalah masih bisa ditolerir, aku mengabaikan apa yg seharusnya berjalan.
hanya kalo terlalu sabar dan kebablasan, jgn sampe deh krn aku sudah ngalami itu. uugh…sakit!
Senin, Juni 25, 2007 at 1:15 am
Addduuuhh setelah membaca tulisan mu (yang ternyata jg aku gak sabar bacanya sampe tuntas) udah jelas deh aku bukan tipe penyabar. susah banget jd org sabar ya apalagi suami sering banget kena getah ketidaksabaranku. Hiks!
Senin, Juni 25, 2007 at 1:47 am
Aku termasuk orang yg penyabar, tapi terkadang aku berbuat konyol dengan kesabaranku…
Kata2 mu yang aku suka :
“Berikan kesempatan pada diri sendiri untuk berasakan sakit dan pedih karena cinta atau karena hubungan yang kandas. Setelah itu bangkitlah dengan senyum dan keyakinan bahwa diri sendiri cukup berharga untuk mencintai dan dicintai, hanya mungkin belum bertemu orang yang tepat”
Senin, Juni 25, 2007 at 2:01 am
sabar, ikhlas, tawakal dan selalu ikhtiar.. insyaALLAH akan terus berkarya dan hidup!
Senin, Juli 21, 2008 at 8:02 am
sabarrrr…
hiks,itulah yang saat ni benar2 harus kulakukan dan memahami arti sabar.makasih ya mbak, tulisannya bikin aku kembali bisa bersabar dan berfikir.lam kenal…:D
regards,
peachza
Jumat, Agustus 8, 2008 at 10:00 pm
Sabar? Dari sisi mana yg kaulihat? Ada bbrp sisi kehidupan yg ternyata saling bertolak belakang, tak terkecuali dgn kata “sabar” ini. Contohnya, di dalam pekerjaan kita bisa begitu sabar menerima tekanan dari semua pihak, we do the best although under the heaviest pressure. Tapi di jalan, ketika berkendara, ketika bersosialisasi, bahkan ketika mengemong anak kita sendiri, kadar kesabaran kita malah justru turun. Jadi tidak dalam semua aspek kehidupan ini kita bisa menerapkan “sabar”, atau, ketika bisa diterapkan pada semua hal, coba pelan2 kaucari dimanakah letak ketidaksabaranmu, kurasa kau akan menemukannya, cepat atau lambat. Prinsipku cuma satu, hidup ini sangat balance, krn Allah Maha Adil, dgn segala kuasa-Nya. Di luar semua itu, salut buat tulisanmu ini, yg menurutku sudah sangat proporsional. Satu hal lagi, sabar membutuhkan motivasi, dan jgn tambahkan kata “terlalu” di depan kata “sabar”, hasilnya pasti tidak baik, tenggelam mati konyol
Please visit my blog: http://uglydevil27.blogspot.com