gold credit card by twisk“Dik, jangan lupa cek email ya. Tagihan dari Cit*bank udah masuk tuh”

“Iya, A”

“Sekalian dibayar aja, ntar telat lagi”

“Iya. Iyaa A…” aku memutar bola mata, menahan kesal. Begitu deh Aa kalau udah bawel. Nyuruhnya sampai berulang-ulang.

Tapi salahku juga sih. Ini gara-gara pernah sekali kelupaan bayar sampai kena denda, meskipun aku berkilah insiden itu terjadi karena lagi pas libur lebaran jadi banyak hal yang diurusin dan dipikirin.

Urusan bayar-membayar tagihan, setoran-setoran, transfer-transfer memang menjadi tugas bulananku.

Tagihan ini meliputi tagihan kartu kredit untuk belanja bulanan atau bengkel, tagihan easy pay untuk pembelian barang yang kami cicil selama setahun. Surat tagihan lain berasal dari provider untuk biaya telepon/akses internet dan tagihan asuransi.

Untuk urusan rumah secara rutin musti membayar tagihan listrik, air dan biaya pengelolaan, dan bulanan untuk asisten rumah tangga.

(lagi…)

dream on by OrzzMalam ini aa pulang dengan wajah dan tubuh bagai tanaman yang tidak tersentuh air selama seminggu.

Cepat-cepat kusambut tas kerja dan paper bag yang berisi kotak makan yang kusiapkan tadi pagi.

“Capek banget, dik,” bisiknya lemah.

Aku aku mengangguk dan tersenyum berempati. Tanpa banyak bicara, aku meraih bahu Aa dan langsung membuka satu demi satu kancing bajunya dengan mata yang tidak lepas dari wajahnya.

Aa menarik napas lega begitu tubuhnya terlepas dari pakaian formil yang membungkusnya seharian dan berganti dengan kaos longgar.

“Mau dipijitin, say?” aku menawarkan.

Aa memejamkan matanya, tampak berat sekali untuk membiarkan mata itu terbuka. Mungkin bukan mengantuk, bisa jadi ingin mengenyahkan banyangan beban pekerjaan yang dihadapi.

Aku berharap Aa menerima tawaranku. Aku selalu percaya, sentuhan dan pijatan penuh kasih mampu menjadi obat penawar segala masalah.

“Nggak, dik,” jawab aa mengejutkanku. Tidak biasanya ia menolak untuk dipijat. “Eh, nanti aja ya” ralatnya cepat. “Aa pengen makan dulu.”

(lagi…)

greenTernyata, membaca tulisan kita di pajang dan diapresiasi oleh orang lain rasanya gimanaaa gitu .

Aku merasakan hal ini ketika menemukan tautan dari sini : http://miumiupapaw.blogspot.com/2009/08/no-words.html

Butuh waktu beberapa detik untuk membaca beberapa paragraf hingga akhir agar sepenuhnya menyadari bahwa tulisan dikutip dari blogku.

Rasanya seperti memiliki sepot bunga mawar yang sedang mekar indah di tepi halaman, karena setiap hati terlihat, semuanya menjadi terlihat biasa lalu terabaikan begitu saja. Baru ketika setangkai mawar tersebut dipetik oleh orang lain dan diletakkan di jambangan pada tempat yang lebih tinggi, bunga mawar tersebut tampak lebih indah dan memesona.

***

Nyun.yuni : “Kudos to both of them. for all the love they shared. for all the words written in their blog. for their attempts in facing the world together as a solid couple. i shed my tears after reading it. *fiuhh..fiuh..berusaha tenang* yep reading their blog brings some uneasy and mixed feelings to me*”

Terima kasih, Yuni…

Run Belka Run by dargegKetika kamu terus berlari, dan terus berlari, tidak ada jeda untuk mengingat rasa bernama lelah.

Namun, ketika kamu berhenti, sesaat saja, maka butuh waktu yang lebih panjang untuk melupakan rasa lelah itu, sementara tujuan terasa semakin jauh di sana.

Harusnya aku tidak boleh berhenti…

Black Out by liquidkid1

Dan, September pun berlalu tanpa sebaris kata.

Gelap.

Hening.

Diam.

Huruf demi huruf hanya berpendar lemah di dalam kepala, lalu lenyap ditelan sorot yang lebih tajam.

Mungkin terlalu sering aku redup. Hingga pada satu titik, tidak mampu menandandingi kegelapan itu.

The Tree by fudexdesignAku dan Aa sedang asik dengan kesenangan masing-masing, Aa menonton TV dan aku menjelajahi blog yang belakangan semakin jarang aku sentuh.

Tiba-tiba keasikan kami pecah oleh lengkingan ringtone yang mengalun dari HP Aa. Aa mengangkat HP-nya dari atas meja, biasanya Aa langsung menekan tombol untuk menerima panggilan, tapi kali ini aa membiarkan dering itu terus mengalun setelah mengecek nama penelepon. Malah meletakkan kembali HP di atas meja. Kok aneh.

“Siapa A?” tanyaku, sambil berusaha untuk mencari tau siapa gerangan si penelepon yang diabaikan tersebut.

“Nggak usah diangkat, dik” larang Aa.

“Boleh adik lihat?” Tanyaku melirik Hpnya. Aa mengangguk.
1 Panggilan tak terjawab: Eli

Aku berusaha keras mengingat-ingat nama itu, tapi tidak menemukan informasi yang cukup. Siapa ya?. Tapi Aa juga sepertinya tidak ingin ngobrol tentang telepon itu. Hingga akhirnya kami kembali pada keasikan semula.

Tiba-tiba ada bunyi SMS. Tebakanku kemungkinan besar sms dari si pelenelopn barusan. Melihat gelagat Aa yang tampaknya akan mengabaikan SMS tersebut, aku langsung menawarkan diri. “A, boleh adik baca sms-nya ya?”

Aa mengangguk, “Buka aja dik.”

Aku setengah melompat menyambar HP aa, saking penasarannya. Kecemasan

(lagi…)

Butterfly Queen by ProdigyBombay Kemarin aku menata ulang file-file yang ada di laptop. Beberapa foto-foto jaman baheula yang tersimpan di CD kupindahkan ke komputer.

Iseng-iseng, aku membuka sebuah folder yang isinya foto-foto jadul. Sebenernya nggak jadul-jadul amat, ya sekitar 5 tahun yang lalu, tapi melihat deretan foto tersebut sontak membuat tawaku meledak.

Ha ha ha…. Ya ampunn…!

Aku menatap foto Aa. Potongan rambutnya kok mirip-mirip anggota The Cangcuters ya? Ha ha ha. Rambut lurus dipotong bulat mengikuti wajahnya yang bundar. Tubuhnya dibalut kaos oblong dengan bawahan celana kargo. Sandal Carvil yang yang dibakainya tebal dan nggak ada model sama sekali!

Aa dan apa yang dia kenakan dari ujung rambut sampai ujung kaki hampir nggak ada yang menarik sama-sekali. Dia bukan orang yang akan aku lirik saat berpapasan di tengah jalan. Bukan juga orang yang akan membuatku curi-curi pandang menatapnya dari kejauhan. Astagaa… Aku pasti lagi sakit mata waktu itu! Pasti lagi belek’an! kok bisa-bisanya suka sama Aa, eh nggak sekedar suka, jatuh cinta pula! Sekrup otakku pasti lagi nggak beres!

Setelah puas memandangi poto Aa (dan mencibirinya dalam hati), pandanganku tertumbuk pada foto seorang perempuan.

Aih, ini lebih mengerikan. Kenapa juga foto “wajah-wajah eksotis” ini ada di dalam folder Aa ya?!

(lagi…)

Star by AshwingsBuat sebagian orang kedekatan dengan mertua atau kedekatan dengan orang tua kekasih mungkin suatu hal yang wajar dan biasa. Tapi buatku, kebahagiaan berupa kedekatan dengan orang tua Aa adalah sesuatu yang harus diperjuangkan bukan dengan upaya sebulan dua bulan, tapi berbilang tahun.

Masih lekat dalam ingatan, aku hanya orang asing di antara keluarga mereka. Benar-benar asing. Benar-benar berbeda. Berbeda warna kulit, berbeda suku, berbeda bahasa, berbeda agama. Aku duduk di ruang tamu, membaca majalah entah tahun berapa, sementara Aa dan keluarganya berada di ruang keluarga. Sesekali dengan kikuk dan serba salah, Aa mondar mandir menghampiriku dan kembali masuk ke dalam. Kala itu aku hanya mampu mendekati keponakan Aa yang masih balita, meski awalnya takut-takut, namun cerita dongengku mampu memesonanya.

Aku telah berdoa sejak langkah pertama kali menginjakkan kaki di rumah keluarga Aa, meminta pada Tuhan agar aku diberi kesempatan menjadi bagian dari keluarga besar mereka, bukan hanya bagian dari Aa, meminta pada Tuhan agar aku diberi kesempatan menunjukkan bahwa bukan hanya Aa yang menjadi fokus kasih sayangku, tetapi juga kedua orang tuanya dan keluarga yang menjadi bagian dirinya sejak jauh hari sebelum mengenalku.

(lagi…)

Grocery Store by markcrilley“Dik, rokok Aa habis nih. Mau nggak beliin?”

Aku yang sedang sibuk menyiapkan makan siang hanya menjawab dengan cemberutan. Orang lagi sibuk kok disuruh ini itu. Heran deh, padahal tadi katanya lapar giliran urusan rokok malah lebih takut kehabisan rokok dari pada kelaparan.

“Aa beli sendiri deh ya.” kataku sambil mengangkat tangan dengan tampang memelas menunjukkan kerepotanku.

“Iyaa dehh…”

Wah, tidak kuduga Aa mau. He he he. Biasa lagi wiken begini aa paling malas kemana-mana. Ternyata hanya rokok yang bisa membuat Aa beranjak.

“Dik, bagi uang dong.”

Aku mendelik pura-pura marah. Tapi aku beranjak juga mengambilkan uang dari kotak uang belanja.

“Eh, Aa dibeliin ning jajan nata de coco sedot ya.” kataku sambil uang tigapuluh ribu ke tangan Aa.

“Nata de coco sedot?! Apaan tuh dik?”

“Bilang aja begitu sama koko-nya, dia pasti tau. Itu minuman nata de coco. Pilih yang udah dingin ya A.” Aku menjelaskan titipanku sama Aa. Aku yakin sekali si koko akan langsung mengerti, karena barusan kemarin aku belanja di tokonya.

“Oke dik. Ada lagi?”

(lagi…)

Hug me by armeneTadi malam, (malam sesudah aku posting tulisan) Aa mengolokku habis-habisan gara-gara SMS lebay soal acara perempuan-perempuan beringas itu.

“Kamu lucu, dik” ia menowel hidungku sementara aku berbaring di sisinya.

“Pantesan pagi-pagi kamu marah-marah”

“Marah-marah gimana?, orang nggak marah kok”

Aku mengingat kejadian paginya. Rasanya aku nggak marah kok.

“Apanya nggak marah, pagi-pagi di dapur bunyi kedombrang kedumbreng”

Keningku mengernyit, berpikir keras.

“Hehehe, rasanya sih adik nggak marah A. Cuma mungkin bawah sadar masih nyimpen kekesalan tadi malam. Lagian gimana nggak kesel, Aa ngajak bobo tapi masih nyetel TV kenceng-kenceng, isinya emak-emak berantem pula” aku mencerocos, kesempatan ini tidak kusia-siakan untuk menumpahkan uneg-unegku.

Aa tertawa. Mengacak-acak rambutku.

“Trus,” lanjutku lagi, “ngeliat adiknya grasa-grusu nggak bisa tidur sambil nutupin kepala pake bantal bukannya kasian, eh malah dibiarin aja megap-megap”

“Ha ha ha ha”

(lagi…)

Halaman Berikutnya »