Tadi malam, (malam sesudah aku posting tulisan) Aa mengolokku habis-habisan gara-gara SMS lebay soal acara perempuan-perempuan beringas itu.
“Kamu lucu, dik” ia menowel hidungku sementara aku berbaring di sisinya.
“Pantesan pagi-pagi kamu marah-marah”
“Marah-marah gimana?, orang nggak marah kok”
Aku mengingat kejadian paginya. Rasanya aku nggak marah kok.
“Apanya nggak marah, pagi-pagi di dapur bunyi kedombrang kedumbreng”
Keningku mengernyit, berpikir keras.
“Hehehe, rasanya sih adik nggak marah A. Cuma mungkin bawah sadar masih nyimpen kekesalan tadi malam. Lagian gimana nggak kesel, Aa ngajak bobo tapi masih nyetel TV kenceng-kenceng, isinya emak-emak berantem pula” aku mencerocos, kesempatan ini tidak kusia-siakan untuk menumpahkan uneg-unegku.
Aa tertawa. Mengacak-acak rambutku.
“Trus,” lanjutku lagi, “ngeliat adiknya grasa-grusu nggak bisa tidur sambil nutupin kepala pake bantal bukannya kasian, eh malah dibiarin aja megap-megap”
“Ha ha ha ha”
Dear, Aa-ku yang sangat kusayangi…
Hari ini rencananya tidak ada acara memasak. Aku hanya berkutat dengan laptop serta ngurusin Aa yang mendadak batuk-batuk. Aku tidak begitu khawatir urusan makan karena untuk pesan makanan sudah tidak begitu susah, rata-rata warung makan, food court dan resto-resto sudah ada layanan delivery, tinggal telepon dan menunggu sebentar, makanan sudah bisa dinikmati tanpa harus keluar rumah.
Hari ini, menjelang tidur aku memandang mata Aa dalam-dalam. Mengecup keningnya. Lalu berbisik pelan,
Aku memang mencintai Aa. Sangat besar malah. Tapi tetap saja cinta sebesar itu tidak membuatku menjadi malaikat sempurna. Aku tetap manusia biasa yang bisa: menyebalkan, ngeselin, keras kepala, bodoh, dungu dan sebagainya.
Ada yang berdesir di dada, memandangi Aa menggendong dan memomong ponakannya. Bocah kecil itu seperti tau seperti apa orang yang menggendongnya.
Aduh, belum menulis saja mataku sudah berkaca-kaca. Aku sengaja pindah ke kubikel pojok, agar lebih leluasa menulis tanpa terganggu pandangan dan pertanyaan orang-orang yang keheranan.