“Dik, jangan lupa cek email ya. Tagihan dari Cit*bank udah masuk tuh”
“Iya, A”
“Sekalian dibayar aja, ntar telat lagi”
“Iya. Iyaa A…” aku memutar bola mata, menahan kesal. Begitu deh Aa kalau udah bawel. Nyuruhnya sampai berulang-ulang.
Tapi salahku juga sih. Ini gara-gara pernah sekali kelupaan bayar sampai kena denda, meskipun aku berkilah insiden itu terjadi karena lagi pas libur lebaran jadi banyak hal yang diurusin dan dipikirin.
Urusan bayar-membayar tagihan, setoran-setoran, transfer-transfer memang menjadi tugas bulananku.
Tagihan ini meliputi tagihan kartu kredit untuk belanja bulanan atau bengkel, tagihan easy pay untuk pembelian barang yang kami cicil selama setahun. Surat tagihan lain berasal dari provider untuk biaya telepon/akses internet dan tagihan asuransi.
Untuk urusan rumah secara rutin musti membayar tagihan listrik, air dan biaya pengelolaan, dan bulanan untuk asisten rumah tangga.
Malam ini aa pulang dengan wajah dan tubuh bagai tanaman yang tidak tersentuh air selama seminggu.
Ternyata, membaca tulisan kita di pajang dan diapresiasi oleh orang lain rasanya gimanaaa gitu .
Ketika kamu terus berlari, dan terus berlari, tidak ada jeda untuk mengingat rasa bernama lelah. 
Aku dan Aa sedang asik dengan kesenangan masing-masing, Aa menonton TV dan aku menjelajahi blog yang belakangan semakin jarang aku sentuh.
Kemarin aku menata ulang file-file yang ada di laptop. Beberapa foto-foto jaman baheula yang tersimpan di CD kupindahkan ke komputer.
Buat sebagian orang kedekatan dengan mertua atau kedekatan dengan orang tua kekasih mungkin suatu hal yang wajar dan biasa. Tapi buatku, kebahagiaan berupa kedekatan dengan orang tua Aa adalah sesuatu yang harus diperjuangkan bukan dengan upaya sebulan dua bulan, tapi berbilang tahun.
“Dik, rokok Aa habis nih. Mau nggak beliin?”
Tadi malam, (malam sesudah aku posting tulisan) Aa mengolokku habis-habisan gara-gara SMS lebay soal acara perempuan-perempuan beringas itu.