Hug me by armeneTadi malam, (malam sesudah aku posting tulisan) Aa mengolokku habis-habisan gara-gara SMS lebay soal acara perempuan-perempuan beringas itu.

“Kamu lucu, dik” ia menowel hidungku sementara aku berbaring di sisinya.

“Pantesan pagi-pagi kamu marah-marah”

“Marah-marah gimana?, orang nggak marah kok”

Aku mengingat kejadian paginya. Rasanya aku nggak marah kok.

“Apanya nggak marah, pagi-pagi di dapur bunyi kedombrang kedumbreng”

Keningku mengernyit, berpikir keras.

“Hehehe, rasanya sih adik nggak marah A. Cuma mungkin bawah sadar masih nyimpen kekesalan tadi malam. Lagian gimana nggak kesel, Aa ngajak bobo tapi masih nyetel TV kenceng-kenceng, isinya emak-emak berantem pula” aku mencerocos, kesempatan ini tidak kusia-siakan untuk menumpahkan uneg-unegku.

Aa tertawa. Mengacak-acak rambutku.

“Trus,” lanjutku lagi, “ngeliat adiknya grasa-grusu nggak bisa tidur sambil nutupin kepala pake bantal bukannya kasian, eh malah dibiarin aja megap-megap”

“Ha ha ha ha”

(lagi…)

Television screen by NonnettaDear, Aa-ku yang sangat kusayangi…

Atas nama cinta, boleh kah aku meminta, jangan lah lagi engkau menonton acara-acara semacam “Masihkah Engkau Mencintaiku” atau “Curhat Anjasmara” itu.

Sungguh aku tidak tahan mendengar caci-maki dan segala umpatan yang menjadi sajian utama tayangan tersebut. Acara itu adalah mimpi buruk bagi malam-malamku.

Hari ini telingaku masih perih, karena semalam menjelang tidur kusumpal kedua telingaku dengan ujung jari agar pekikan memuakkan itu tidak menghalangi kantukku.

Aku mengerti kesenanganmu menonton acara tersebut, acara yang kamu sebut seru bahkan kadang lucu. Entah lucunya dimana. Tapi maafkan aku, karena hingga detik ini tidak bisa sedikitpun menikmatinya.

Sekali lagi, maafkan aku. Yang mencintaimu. Ning

-Send-

***

(lagi…)

Dinner Thanks by pipisipispisiHari ini rencananya tidak ada acara memasak. Aku hanya berkutat dengan laptop serta ngurusin Aa yang mendadak batuk-batuk. Aku tidak begitu khawatir urusan makan karena untuk pesan makanan sudah tidak begitu susah, rata-rata warung makan, food court dan resto-resto sudah ada layanan delivery, tinggal telepon dan menunggu sebentar, makanan sudah bisa dinikmati tanpa harus keluar rumah.

Tapi menjelang malam, aa malah kepengin makan nasi dengan indomi dan kerupuk!

Aa suka indomi rasa soto atau kare ayam dengan irisan cabe rawit yang pedas. Kali ini aku menyiapkan indomi kari yang kumasak ala mie godog jawa.

Bahan :

  • 3 cabe rawit merah+4 cabe rawit hijau
  • 2 siung bawang merah + 1 siung bawang putih
  • 1 tangkai daun bawang
  • 1 bungkus indomi kare
  • 2 butir telor

Cara memasak

  1. Goreng bawang merah sampai menguning, lalu masukkan irisan bawang putih dan irisan cabe rawit.
  2. Pecahkan telur ke dalam tumisan bawang dan cabe, aduk-aduk dan beri sejumput garam, aduk hingga telur yang menggumpal matang.
  3. Tuangkan air ke dalam wajan berisi telur, masukkan bumbu indomi dan irisan daun bawang, tunggu hingga air mendidih
  4. Masukkan indomi dan masak hingga 1/2 matang (agar nggak terlalu benyek)
  5. Sajikan

Mata Aa berbinar dengan senyum selebar empang ketika semangkok indomi panas megepul menguarkan aroma menggoda. Satu kecupan mendarat dipipiku.

(lagi…)

Cinta adalah ketika bersama orang yang kamu cintai, kamu bertumbuh, berkembang, berbunga indah dan berbuah manis menyehatkan.

Atau seperti kepompong yang memeluk dan menjagamu hingga menjadi kupu-kupu bersayap indah.

Mungkin akan ada banyak cinta yang bisa kau temukan di luar sana, tapi pilihlah cinta yang membuatmu hidup. Bukan yang membuat mati.

***

Love by azzriel666Hari ini, menjelang tidur aku memandang mata Aa dalam-dalam. Mengecup keningnya. Lalu berbisik pelan,

“Aa, meski banyak hal yang adik sukai, banyak hal yang ingin adik lakukan tapi satu hal yang bisa Aa percaya, bahwa semuanya tidak akan mengurangi cinta dan sayang ke Aa.”

Aa menatapku lebih dalam, mungkin mencari-cari kebenaran dan kesungguhan dalam ucapanku. Aku tidak tahu apa yang ia temukan.

Ia hanya merarik wajahku mendekat, menempelkan bibirnya pada keningku lalu mengecup kelopak mataku.

“Terimakasih, Dik. Terimakasih, Sayang…”

A tale after the Sun by SoLbizaRkAku memang mencintai Aa. Sangat besar malah. Tapi tetap saja cinta sebesar itu tidak membuatku menjadi malaikat sempurna. Aku tetap manusia biasa yang bisa: menyebalkan, ngeselin, keras kepala, bodoh, dungu dan sebagainya.

Aku biasanya cukup pintar dan dengan cepat belajar dari satu permasalahan. Tapi ada juga masalah yang berulang dan berulang lagi (meskipun aku tidak ingin). Dan kenyataanya masalah itu selalu tau kapan waktu yang tepat untuk menghampiriku.

Aku mencintai Aa. Dengan cinta yang besar. Tapi seluruh otak dan kesadaranku tetap takkan bisa terisi penuh olehnya. Aku masih manusia yang memiliki kecintaan pada banyak hal selain Aa.

Aku mencintai Mall, mencintai pasar, mencintai belanja, jalan-jalan, cuci mata, window shoping. Aku mencintai pertunjukan serta keriuhan.

Aku mencintai berteman, bercanda, berdiskusi dan berbagi cerita apa saja. Duduk melingkari meja dengan bergelas-gelas minuman, kopi, teh, sari buah atau apa saja.

Aku mencintai buku, mencintai komputer, mencintai belantara maya.

Saat-saat seperti ini diriku hanya milikku. Seringkali terlupa ada orang lain yang memilikiku. Melupakan Aa. Melupakan seseorang yang memikirkanku, melupakan seseorang yang ingin tau keberadaanku.

Dan terjadilah hal-hal menyebalkan itu.

(lagi…)

Catch Me Mommy by YahuliAda yang berdesir di dada, memandangi Aa menggendong dan memomong ponakannya. Bocah kecil itu seperti tau seperti apa orang yang menggendongnya.

Ketika ia ingin bermain dan bercanda, ia memilih Aa. Seluruh tawa dan cerianya tumpah dalam pelukan Aa. Gadis kecil yang terkenal karena pendiam dan susah diajak bermain berubah menjadi gadis kecil periang dengan mata bulat berbinar di pelukan Aa.

Dengan cepat mereka menemukan permainan yang aku sendiri tidak tau lucunya di mana.

Ci-Luk-Ba. Ci-Luk-Ba. Ci-Luk-Ba.

Bocah itu tertawa geli. Dan minta diulangi.

Ci-Luk-Ba. Ci-Luk-Ba. Ci-Luk-Ba.

Tertawa. Tertawa dan Tertawa. Mereka berdua yang memiliki dunia keceriaan.

Aku dan ibunda si gadis kecil hanya bengong.

“Susah membuatnya tertawa begitu” katanya.

Aku mengangguk, dengan mata tidak lepas memandang mata Aa yang berbinar. Bergantian memandangi mata si gadis dengan binar yang sama. Dan tawa mereka berpendar-pendar.

(lagi…)

My Lucky Star by trenchmakerAduh, belum menulis saja mataku sudah berkaca-kaca. Aku sengaja pindah ke kubikel pojok, agar lebih leluasa menulis tanpa terganggu pandangan dan pertanyaan orang-orang yang keheranan.

Pernahkah kamu memiliki impian dan menyadari ada tangan-tangan tulus yang terulur menuntunmu untuk menyongsong mimpi yang menjadi nyata?

Aku mungkin bukan orang yang peruntungannya mudah, semacam orang yang dengan mudah memenangkan lucky draw, atau terbiasa mendapat door prise, atau yang sering memenangkan undian. Hanya dengan menuliskan nama, atau berada pada nomor urutan tertentu atau angka apa yang yang disentuh oleh tangannya membawa keberuntungan.

Tuhan mengajariku bahwa keberuntunganku harus disertai dengan kemauan dan kerja keras beserta doa, Tuhan membuatku meminta dan memohon. Karena itu, kesialan adalah ketika aku mengabaikan peluang, dan keberuntunganku ketika aku mengambil peluang sekecil dan seremeh apapun di mata orang serta darimana pun untuk belajar dan belajar sebagai bagian dari usahaku.

(lagi…)

AUDIT

“Dik, lagi mengaudit tulisan ya?” tanya aa, sambil menarik selimut.

“Iya, nih a. Kalau mau bobo, bobo aja dulu”

Tapi mikir yang lamaaa… sepertinya ada yang aneh dengan pertanyaan Aa.

“Sayaaaaaang…,kok mengaudit sih. MENGEDIT!”

“Ha ha ha, ah, beda-beda dikit”

DAULAT

“A, mobil yang itu kok platnya abu-abu. Harusnya hitam”

“Mungkin mobil daulat”

“Ooh…iya kali a”

Tiba-tiba tersadar, kok ada yang aneh.

“Heh, mobil daulat?! mobil diplomat, a”

“Iya, itu maksudnya. Ha ha ha”

ARTIS TAPI ATLIT

Dalam obrolan sehari-hari, aku dan maupun aa sering ngawur dalam mengucapkan kosakata. Dan herannya, aku bisa mengerti apa yang Aa ucapkan, beberapa detik kemudian baru menyadari kalau ada keanehan dalam kalimatnya.

Mungkin aku juga demikian. Hanya bedanya, aa jarang mengoreksi ucapanku. Jadinya aku nggak nyadar kalau sering ngawur juga. Hi hi hi

Hingga suatu hari, aku dan seorang sahabat sedang asik nonton film sambil mengomentari tokoh dan jalan ceritanya.

“Yang cewek ini orangnya tertutup, karena dia artis.” kataku menjelaskan

“Ooh”

“Itu lho artis yang mukul-mukul bola pake raket, apa sih itu namanya”

“Hah? Artis?!” tanya menegaskan.

“Iya!” aku belum menyadari keanehannya

“Atlit kali maksud kamu?”

“Iya, itu”

“Atlit tenis kan? bukan artis. Ha ha ha”

“Iya! he he he”

Barusan menemukan quote sendiri; (sesaat setelah postingan oralit)

Memang penting untuk selalu menulis hal-hal penting, tapi hal yang lebih penting adalah selalu menulis.

(Bening Yang Lagi Frustrasi )

Keren gak tuh? Ha ha ha…

Ya, katakanlah ini sebuah apologi. :mrgreen:

Tidak tau apa alasan yang jelas, aku merasa rasa percaya diriku dalam menulis drop hingga batas serendah matakaki.

Beberapa tulisan mandeg di paragraf ke lima. Beberapa yang lain hanya berakhir di kotak draft, teronggok begitu saja. Hingga jamuran. Tidak percaya tulisan bisa jamuran? Aku percaya.

Sibuk? Siapa yang tidak punya kesibukan. Aku pernah merasakan sibuk tapi api menulis menyala membakar apa saja yang menghalanginya. Dan kini, saat tidak ada “kesibukan yang memaksa untuk menulis”, api itu meredup nyaris padam tanpa oksigen bernama PD.

Banyak membaca. Banyak menulis. Begitu yang seharusnya.

Aku sudah banyak membaca. Tapi coba lihat apa yang kutulis? Seringnya hanya sibuk menulis yang tidak penting.

Yah, aku bisa menyetujui pendapat Dee dan mengakui bahwa kebanyak tulisan di blogku tepat seperti apa yang Dee katakan: “Jujur, pada saat itu pun saya bahkan tak terlalu menyukai blog-blog lokal yang saya temui, yang kebanyakan isinya remeh-temeh, diary-ish, atau dalam istilah saya pribadi: ‘diare kata-kata’. Encer dan nggak penting”

Ah, aku termasuk yang mengalami diare kata-kata itu. Hiks.

Aku butuh oralit, untuk menyembuhkan diare kata-kataku. Ada yang mau ngasi?

Halaman Berikutnya »