Aku dan Aa sedang asik dengan kesenangan masing-masing, Aa menonton TV dan aku menjelajahi blog yang belakangan semakin jarang aku sentuh.
Tiba-tiba keasikan kami pecah oleh lengkingan ringtone yang mengalun dari HP Aa. Aa mengangkat HP-nya dari atas meja, biasanya Aa langsung menekan tombol untuk menerima panggilan, tapi kali ini aa membiarkan dering itu terus mengalun setelah mengecek nama penelepon. Malah meletakkan kembali HP di atas meja. Kok aneh.
“Siapa A?” tanyaku, sambil berusaha untuk mencari tau siapa gerangan si penelepon yang diabaikan tersebut.
“Nggak usah diangkat, dik” larang Aa.
“Boleh adik lihat?” Tanyaku melirik Hpnya. Aa mengangguk.
1 Panggilan tak terjawab: Eli
Aku berusaha keras mengingat-ingat nama itu, tapi tidak menemukan informasi yang cukup. Siapa ya?. Tapi Aa juga sepertinya tidak ingin ngobrol tentang telepon itu. Hingga akhirnya kami kembali pada keasikan semula.
Tiba-tiba ada bunyi SMS. Tebakanku kemungkinan besar sms dari si pelenelopn barusan. Melihat gelagat Aa yang tampaknya akan mengabaikan SMS tersebut, aku langsung menawarkan diri. “A, boleh adik baca sms-nya ya?”
Aa mengangguk, “Buka aja dik.”
Aku setengah melompat menyambar HP aa, saking penasarannya. Kecemasan
(lagi…)